UTS Etika dan Filsafat Komunikasi

  1. Structural and Functional Theories

Menganggap ada struktur real di luar individu, ada realitas yg independen, pengetahuan diperoleh dari observasi & klasifikasi, menekankan pada sinkroni (stability overtime) daripada diakroni (change overtime), fokus pada “unintended consequences” bukan pada “purposeful outcomes”.Yg diamati adalah faktor2 di luar kontrol & kesadaran manusia. Bersifat dualistik: memisahkan bahasa & simbol dari pikiran & objek yg disimbolkan dalam komunikasi

Teori-teori yang termasuk dalam Structural and Functional Theories adalah:

  1. Discourse Theory

Discourse atau percakapan atau wacana merupakan satu kegiatan atau peristiwa berbahasa lisan antara dua atau lebih penutur yang saling memberikan informasi dan mempertahankan hubungan yang baik (Parera, 1990: 129)

Stubbs (1993) dakam Sumarlam (2003: 10-11) berpendapat bahwa wacana dibentuk dari satuan bahasa di atas kalimat atau klausa, baik lisan maupun tulis, dengan menggunakan konteks sosial untuk sampai pada pemahaman makna wacana.

Stubbs (1993) menambahkan, analisis wacana merujuk pad aupaya mengkaji pengaturan bahasa di atas kalimat atau klausa, dan karenanya mengkaji satuan-satuanbahasa yang lebih luas, seperti pertukaran percakapan atau teks tulis. Konsekuensinya, analisis wacana juga memperhatikan bahasa pada waktu digunakan dalam konteks sosial; dan khususnya interaksi atau dialog antar petutur.

  1. Teori Sistem

Teori sistem dipetakan oleh George Ritzer pada paradigma fakta sosial. Maksudnya adalah penggunaan teori ini dikhususkan pada masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan nilai-nilai, institusi/pranata-pranata sosial yang mengatur dan menyelenggarakan eksistensi kehidupan bermasyarakat. Sistem sendiri merupakan suatu kesatuan dari elemen-elemen fungsi yang beragam, saling berhubungan dan membentuk pola yang mapan. Hubungan antara elemen-elemen sosial tersebut adalah hubungan timbal-balik atau hubungan dua arah.

Sebagai contoh, misalnya masalah hukum adat yang mempengaruhi segi kehidupan ekonomi masyarakat atau nelayan tradisional, atau lebih konkrit lagi misalnya bila kita ingin mengetahui bagaimana pengaruh dari nilai-nilai dalam hukum adat “nedosa” terhadap persepsi masyarakat tentang perkawinan dalam masyarakat adat Sangihe, sehingga dengan adanya fenomena dalam satu aspek akan mempengaruhi aspek-aspek lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Masih banyak permasalahan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dsb yang dapat dikaji dengan menggunakan teori sistem.

Pengaruh-pengaruh yang saya kemukakan di atas, senantiasa dapat diukur daya determinasinya, sehingga dapat diketahui pada aspek mana pengaruh itu menjadi dominan. Oleh sebab itu metode menjadi sangat penting relevansinya dalam mengungkap tingkat hubungan. Sebagaimana pendapat Ritzer, metode yang digunakan dalam bedahan teori sistem adalah metode kuisioner. Metode ini tergolong dalam jenis penelitian kuantitatif. Itulah sebabnya para sosiolog, bilamana menerapkan teori sistem, maka penelitiannya identik menggunakan pendekatan kuantitatif.

  1. Sign and Language Theory

Isyarat adalah basis dari seluruh komunikasi. Suatu isyarat menandakan sesuatu selain dirinya sendiri, dan makna ialah hubungan antara suatu objek atau ide dan suatu isyarat. Konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang sungguh luas berurusan dengan simbol, bahasa, wacana dan bentuk-bentu nonverval, teori-teori yang menjelaskan bagaimana isyarat berhubungan dengan artinya dan bagaimnana isyarat disusun (Littlejohn,1996: 64)

Lebih lanjut, Littlejohn, menjelaskan, salah satu sistem isyarat yang paling penting bagi manusia adalah bahasa. Dalam bahasa, isyarat terdiri dari pengelompokan sesuatu yang memiliki makna. Suara-suara dikombinasikan ke dalam frasa-frasa, klausa-klausa, dan kalimat-kalimat, yang menunjukkan objek.

  1. Cognitive and Behavioral Theories

Teori ini menekankan pada proses stimulus-respon dan menganggap komunikasi sebagai manifestasi perilaku individual, proses pemikiran individu, serta fungsi bioneural individu. Selain itu, teori ini juga menjelaskan mengenai pengorganisasian dan penggunaan informasi oleh individu untuk memproduksi dan mengevaluasi pesan dan individu lainnya.

Teori-teori yang masuk ke dalam Cognitive and Behavioral Theories adalah:

  1. Teori-teori Pembuatan Pesan (Theories of message production) 

Komunikasi adalah proses yang berpusat pada pesan bersandar pada informasi, dan banyak teori komunikasi telah dikembangkan untuk menyampaikan informasi pemrosesan pesan. Teori ini melihat pembuatan dan penerimaan pesan sebagai persoalan psikologis, memfokuskan pada sifat-sifat, keadaan-keadaan, dan proses-proses individual.

Teori pembuatan dan penerimaan pesan menggunakan tiga tipe penjelasan psikologis: penjelasan sifat, penjelasan keadaan, dan penjelasan proses. Penjelasan sifat berfokus pada karakteritisk individual yang relatif statis dan cara karakteristik ini berasosiasi dengan sifat-sifat dan variabel lain, hubungan antara tipe personalitas tertentu dan jenis-jenis pesan tertentu (Littlejohn, 1996:105).

Penjelasan keadaan berfokus pada keadaan pikiran yang dialami orang dalam suatu periode waktu. Sedangkan penjelasan proses berupaya menangkap mekanisme pikiran manusia. Ia berfokus pada cara informasi diperoleh dan disusun, bagaimana memori digunakan, bagaimana orang memutuskan untuk bertindak, dan tempat bagi persoalan lain yang sama.

  1. Teori-teori penerimaan dan pemrosesan pesan 

Teori ini memfokuskan pada bagaimana pesan-pesan itu diterima; bagaimana manusia memahami, mengorganisasikan, dan menggunakan informasi yang terkandung di dalam pesan.

Kebanyakan teori penerimaan dan pemrosesan pesan berada dalam tradisi kognisi, yaitu studi tentang pemikiran atau pemrosesan informasi. Menurut Dean Hewes dalam Littlejohn (1996:129), kognisi menuntut dua elemen sentral, yaitu struktur-struktur pengetahuan dan proses-proses kognitif.

Struktur-struktur pengetahuan terdiri dari organisasi informasi di dalam sistem kognitif seseorang, body of knowledge yang telah dikumpulkan oleh seseorang. Bahkan pesan yang paling sederhanapun membutuhkan banyak sekali informasi untuk bisa dipahami. Di dalam sistem kognitif, potongan-potongan informasi saling dihubungkan satu sama lain ke dalam sebuah pola yang teratur.

Proses-proses kognitif adalah mekanisme-mekanisme melalui mana informasi diolah di dalam pikiran. Hewes dan Planalp dalam Littlejohn (1996:130), menggarisbawahi tujuh proses utama yang saling berinterelasi, pertama adalah pemfokusan, yaitu sebuah proses menghadapi detil-detil tertentu dari informasi. Proses kedua adalah integrasi, atau pembuatan hubungan antara potongan-potongan informasi. Ini adalah proses penggabungan apa yang dilihat dan didengar ke dalam organisasi pengetahuan yang menyeluruh. Ketiga penarikan kesimpulan, sebuah proses “pengisisan”, ketika seseorang membuat asumsi-asumsi tentang hal-hal yang tidak teramati berdasarkan hal-hal yang teramati.

Proses yang keempat dan kelima melibatkan ingatan, penyimpanan dan pengungkapan. Struktur pengetahuan harus disimpan untuk digunakan di lain waktu, dan ia harus diingat secara tepat. Penyimpanan dan pengungkapan sangat penting bagi proses-proses kognitif lainnya. Proses keenam dan ketujuh adalah seleksi dan implementasi, juga berjalan bersamaan. Seleksi adalah pemilihan perilaku dan reportoire (simpanan) seseorang dan implementasi adalah bertindak sesuai dengan perilaku yang sudah dipilih dengan melakukannya.

  1. Interactionist Theories

Teori ini berpandangan bahwa kehidupan sosial adalah proses interaksi yang membangun, menjaga, dan mengubah konvensi-konvensi tertentu termasuk bahasa dan symbol. Teori-teori dalam genre ini memandang struksur dan fungsi sosial sebagai produk, bukan penentu interaksi. Teori ini juga fokus kepada bagaimana bahasa dan symbol dapat direproduksi, dipelihara, serta diubah dalam penggunaannya.

Contoh teori:

  1. Teori Interaksi Simbolik

Teori interaksi simbolik adalah hubungan antara simbol dan interaksi. Menurut Mead, orang bertindak berdasarkan makna simbolik yang muncul dalam sebuah situasi tertentu.

Sedangkan simbol adalah representasi dari sebuah fenomena, dimana simbol sebelumnya sudah disepakati bersama dalam sebuah kelompok dan digunakan untuk mencapai sebuah kesamaan makna bersama.
Ralph Larossa dan Donald C.Reitzes mengatakan bahwa interaksi simbolik adalah sebuah kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia bersama dengan orang lainnya menciptakan dunia simbolik dan bagaimana dunia ini, sebaliknya membentuk perilaku manusia.

ASUMSI

  1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia

Makna yang kita berikan pada simbol merupakan produk dari hasil interaksi sosial dan menggambarkan kesepakatan untuk menerapkan makna tertentu pada simbol tertertu. Makna dapat ada hanya ketika orang-orang memiliki interpretasi yang sama mengenai simbol-simbol yang mereka pertukarkan.

Contoh : Kursi → adalah tempat untuk di duduki

Printer → alat untuk mencetak tulisan didalam kertas

  1. Pentingnya konsep mengenal diri

Melalui interaksi dengan orang lain individu-individu akan mengembangkan konsep dirinya sendiri. konsep diri ini akan membentuk perilaku individu.

Contoh : keyakinan dan pandangan positif orang lain terhadap pribadi kita akan membentuk perilaku kita seperti menjadi sosok yang penuh semangat dan penuh percaya diri.

  1. Hubungan antara individu dengan masyarakat

Manusia adalah mahkluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, manusia senantiasa akan selalu menjalin hubungan interaksi dengan masyarakat. Disini ada ketergantungan antara individu dengan masyarakat. interaksi sosial yang terjadi dengan masyarakat dan lingkungannya menghasilkan aturan-aturan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Contoh : aturan harus menghormati orang yang lebih tua menghasilkan tata karma kehidupan.

KONSEP PENTING (George Herbert Mead = Pendiri)

  1. Pikiran (Mind)

Kemampuan untuk menggunakan simbol-simbol yang signifikan untuk merespon apa yang kita lihat kemudian untuk difikirkan dalam benak kita. Dengan menggunakan bahasa dan berinteraksi dengan orang lain, kita akan mengembangkan apa yang kita pikirkan dan menghasilkan makna.

Salah satu aktivitas penting yang diselesaikan orang melalui pemikiran adalah pengambilan peran, atau kemampuan secara simbolik menempatkan diri seseorang di posisi orang lain.

Contoh :

Seorang mahasiswa harus peka terhadap gejala-gejala sosial dan menganalisis tentang gejala sosial. Rina adalah mahasiswa baru di kampusnya, secara otomatis Rina akan melakukan pengambilan peran disini dengan peka dan menganalisis gejala sosial karena Rina adalah seorang mahasiswa.

  1. Diri (self )

Kemampuan untuk memahami diri sendiri dari perspektif orang lain. Melalui pandangan orang lain terhadap kita, kita akan mengetahui lebih jauh tentang pribadi kita sendiri dan membayangkan bagaimana kita dilihat orang lain. Melalui diri, seseorang dapat menjadi orang yang telah mencerminkan mereka dalam banyak interaksi yang telah dilakukan dengan orang lain.

Diri terbagi menjadi dua segi :

o   I adalah bagian dari diri anda yang menurutkan pada kata hati, tidak teratur, tidak terarah, dan tidak dapat ditebak. Contoh : Andi adalah seorang remaja yang sanantiasa selalu merubah gaya rambutnya, hal ini disebabkan karena Andi adalah anak yang mudah bosan. Perubahan yang dilakukan andi disini berdasarkan kehendaknya sendiri.

o   Me adalah refleksi umum orang lain yang terbentuk dari pola-pola yang teratur dan tetap  yang dibagi dengan orang lain. Me disini berperan sebagai objek dan lebih memberi petunjuk dan bersikap hati-hati. Contoh : menghadapi pergaulan bebas di masyarakat maka perlu adanya kontrol diri dan selektif dalam memilih teman.

  1. Masyarakat

Sarana hubungan sosial yang diciptakan oleh manusia. Masyarakat terdiri atas sebuah jaringan interaksi sosial dimana anggota-anggotanya menempatkan makna bagi tindakan mereka dan tindakan orang lain dengan menggunakan simbol-simbol. Kita tidak dapat berkomunikasi tanpa berbagi makna dari simbol-simbol yang kita gunakan. Melalui jaringan sosial yang di ciptakan individu ini menciptakan sebuah pertukaran simbol-simbol dan menghasilkan pemaknaan.

Kesimpulan

Pertukaran informasi (simbol-simbol) melalui sebuah interaksi antar individu menghasilkan kesamaan makna yang akan digunakan untuk acuan-acuan dalam berkomunikasi dan menjadikan komunikasi lebih mudah untuk dijalankan.

  1. Interpretative Theories

Genre ini mendeskripsikan proses sebagai peristiwa terjadinya pemahaman, menekankan pada “subjektivisme” atau keutamaan pengalaman individu sebagai awal dari pemahaman individu terhadap pengalaman komunikasi. Genre ini juga percaya bahwa bahasa menciptakan dunia makna yang di dalamnya individu-individu tinggal dan segala pengalaman diinterpretasikan.

Contoh teori yang termasuk dalam Interpretive theories antara lain:

  1. Teori Etnografi Komunikasi

Definisi etnografi komunikasi secara sederhananya adalah pengkajian peranan bahasa dalam perilaku komunikasi suatu masyarakat, yaitu cara-cara bagaimana bahasa dipergunakan dalam masyarakat yang berbeda-beda kebudayannya ( Koentjaraningrat, dalam Kuswarno, 2008:11).

Etnografi komunikasi (ethnography of communication) juga bisa dikatakan salah satu cabang dari Antropologi, lebih khusus lagi adalah turunan dari Etnografi Berbahasa ( ethnography of speaking). Dalam artikel pertamanya, Hymes ( 1962) memperkenalkan ethnography of speaking ini sebagai  pendekatan baru yang memfokuskan dirinya pada pola perilaku komunikasi sebagai salah satu komponen penting dalam system kebudayaan dan pola ini berfungsi di antara konteks kebudayaan yang holistic  dan berhubungan dengan pola komponen system yang lain( Muriel, 1986). Dalam perkembangannya, rupanya Hymes lebih condong pada istilah etnografi komunikasi karenanya menurutnya, yang jadi kerangka acuan dan ‘ditempati’ bahasa dalam suatu kebudayaan adalah pada ‘komunikasi’nya dan bukan pada ‘bahasanya’.  Bahasa hidup dalam komunikasi, bahasa tidak akan mempunyai makna jika tidak dikomunikasikan.

Menurut Hymes  (Syukur dalam Kuswarno,2008:14), ada enam lingkup kajian etnografi komunikasi yaitu:

  1. Pola dan fungsi komunikasi ( patterns and functions of communication)
  2. Hakikat dan definisi masyarakat tutur ( nature and definition of speech community).
  3. Cara-cara berkomunikasi ( means of communicating).
  4. Komponen-komponen kompetensi komunikasi (component of communicative competence)
  5. Hubungan bahasa dengan pandangan dunia dan organisasi sosial ( relationship of language to world view and sosial organization)
  6. Semesta dan ketidaksamaan linguistic dan sosial (linguistic and sosial universals and inqualities )

 Etnografi komunikasi juga memiliki dua tujuan yang berbeda arah secara sekaligus. Etnografi komunikasi bisa bersifat spesifik karena mencoba menjelaskan dan memahami perilaku komunikasi dalam kebudayaan tertentu  sehingga sifat penjelasannya terbatas pada suatu konteks tempat dan waktu tertentu; etnografi komunikasi juga bisa bersifat global karena mencoba memformulasikan konsep-konsep dan teori untuk kebutuhan pengembangan metateori global komunikasi antarmanusia.

  1. Critical Theories

Tertarik pada konflik interest dalam masyarakat dan cara di mana komunikasi menjadi alat kelompok dominan. Teori ini juga mengakui bahwa bentuk-bentuk komunikasi mendefinisikan kultur.

eori ini mau mencoba memperbaharui dan merekonstruksi teori yang membebaskan manusia dari manipulasi teknokrasi modern. Ciri khas dari teori kritik masyarakat adalah bahwa teori tersebut bertitik tolak dari inspirasi pemikiran sosial Karl Marx, tapi juga sekaligus melampaui bangunan ideologis marxisme bahkan meninggalkan beberapa tema pokok Marx dan menghadapi masalah masyarakat industri maju secara baru dan kreatif

Konsep kritik sendiri yang diambil oleh Teori Kritis berangkat dari 4 (empat sumber) kritik yang dikonseptualisasikan oleh Immanuel Kant, Hegel, Karl Marx dan Sigmund Freud. Kritik dalam pengertian pemikiran Kantian adalah kritik sebagai kegiatan menguji kesahihan klaim pengetahuan tanpa prasangka. Kritik dalam pengertian Hegel didefinisikan sebagai refleksi diri atas tekanan dan kontradiksi yang menghambat proses pembentukan diri-rasio dalam sejarah manusia. Kritik dalam pengertian Marxian berarti usaha untuk mengemansipasi diri dari alienasi atau keterasingan yang dihasilkan oeh hubungan kekuasaan dalam masyarakat. Kritik dalam pengertian Freudian adalah refleksi atas konflik psikis yang menghasilkan represi dan memanipulasi kesadaran. Adopsi Teori Kritis atas pemikiran Freudian yang sangat psikologistik dianggap sebagai pengkhianatan terhadap ortodoksi marxisme klasik.

Beberapa teori yang melandasi perpektif ini antara lain adalah Teori Feminisme dan Teori Pekerjaan Sosial.

  1. Teori Feminisme

Argumen utama tulisan ini adalah bahwa feminisme merupakan suatu bentuk teori kritis, yang menggunakan perspektif serta pengalaman perempuan, dan penindasan yang mereka alami, sebagai titik tolak sekaligus fokus analisisnya. Teori kritis sudah selalu mengakui adanya kepentingan di balik setiap klaim kebenaran epistemologis, ataupun adanya kekuasaan di balik seluruh ilmu pengetahuan. Teori kritis juga sudah selalu melihat kaitan yang erat antara refleksi teoritis di satu sisi dengan praksis di sisi lain. Feminisme berupaya menganalisis setiap bentuk dominasi dan penindasan yang ada di dalam klaim-klaim epistemologis untuk menunjukkan struktur-struktur menindas yang ada dibaliknya. Dengan menguraikan struktur yang menindas tersebut, maka diharapkan para ilmuwan secara khusus dan masyarakat secara umum menyadari dan mengakui kepentingan serta kekuasaan di balik setiap klaim kebenaran yang mereka buat, sehingga tidak memutlakannya. Sejauh mana feminisme mampu menjadi teori kritis yang mampu mengeksplisitkan struktur-struktur yang menindas, terutama menindas kaum perempuan, di dalam masyarakat?

  1. Teori Pekerjaan Sosial

Pekerjaan sosial dapat dimaknai baik sebagai disiplin akademis, maupun profesi kemanusiaan. Sebagai disiplin akademis, pekerjaan sosial merupakan studi yang memfokuskan perhatiannya pada interelasi person-in-enfironment berdasarkan pendekatan holistik yang dibangun secara elektik dari ilmu-ilmu perilaku manusia dan system sosial, terutama psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi dan politik. Sebagai profesi kemanusiaan, pekerjaan sosial merujuk pada ‘seni’ pertolongan dan keahlian professional untuk memperbaiki dan meningkatkan keberfungsian sosial Individu, kelompok, keluarga, dan masyarakat sehingga memiiki kapasitas dalam memenuhi kebutuhan dasarnya maupun dalam menghadapi goncangan dan tekanan.

Kesejahteraan sosial (social welfare) adalah adalah arena atau domain dimana pekerjaan sosial berkiprah. Sebagaimana posisi dan peran dokter dalam kesehatantan, guru dalam system pendidikan, hakim dan jaksa dalam sisten peradilan, maka pekerjaan sosial memiliki peranan penting (sentral) dalam kesejahteraan sosial. Kesekahteraan disini diartikan sebagai sistin atau instistusi perawatan sosial yang terdiri dari kebijakan, program dan pelayanan sosial yang bertujuan untik memberikan perlindungan dan pemenuhan kebutuhan manusian, terutama kelompok masyarakat yang kurang beruntung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *