True Story: Penculikan dan Dampaknya Pada Kami, Keluarga Korban

Masih terekam dengan jelas di otakku, Senin 2 Februari 2015, sedari Shubuh kakak sudah semangat sekali berangkat kerja ke kantor barunya di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan. Hari itu merupakan hari yang amat ia tunggu-tunggu. Bekerja menjadi AE Media di majalah yang amat ia dambakan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi itu, ia mengenakan pakaian terusan selutut dan blazer pink yang amat mencolok. Rambut disisir rapih, muka dirias bedak, sepatu hak pendeknya hitam sempurna. Sepertinya habis disemir ulang oleh kakak. Tadinya ia akan diantar naik mobil sampai kantor oleh supir mamaku, namun apa daya ban mobil gembos dan akhirnya ia hanya bisa diantar sampai Stasiun Lebak Bulus dengan motor.

Jam menunjukkan pukul sebelas ketika saya mengangkat telepon rumah yang berdering, “Selamat siang, betul ini rumah De****?”

Tertegun saya menjawab, “Ya, maaf ini dengan siapa?”

“Oh saya ***** dari majalah Female. De**** nya ada?”

“De**** nya sudah berangkat kerja dari tadi pagi sekali. Ada apa?”

“Iya, sampai saat ini De**** belum sampai di kantor. Saya telepon ke HP nya tidak diangkat. Maka dari itu saya menelepon ke rumahnya, menanyakan kabar, mungkin ia sakit. Tapi De**** sudah berangkat kerja dari pagi ya?”

“Iya, mbak. Hm coba saya telepon dulu ya, mbak. Makasih atas pemberitahuannya.”

Bingung. Ke mana kakakku?

Kucoba menelepon HP nya. Ada nada sambung. Tapi tak diangkat.

Kucoba menelepon lagi. Berulang kali, tetap tak diangkat.

Mama mulai curiga melihat raut wajahku yang mulai panik, “Ada apa, dek? Kakak kenapa?”

“Engga mam, ini kantornya nelfon. Katanya kakak belom sampe kantor.”

“Serius kamu? Duh mana tadi si kakak bbm mama aneh banget lagi.”

“Bbm apa mam?”

Keluarga kami memang dekat satu sama lain. Meskipun kakak dan aku sudah berusia dua puluhan, namun kami tetap sering chatting sama mama karena tak ingin membuat mama khawatir.

Mama mengambil hp nya, “Nih! Baca deh.”

Inti dari chat itu adalah kakak memberitahu mama kalau ia merasa lemas dan ia tak mendapatkan tempat duduk karena hari itu P20 yang ia naiki amat ramai. Lanjut di bawahnya, kakak juga memberitahu bahwa ia hampir kecopetan dan mama menyuruh dia untuk menyimpan hp nya di dalam tas. Terakhir ia chatting dengan mama pukul 10:20 sedangkan sekarang sudah pukul 11 lewat 15 menit. Ke mana si kakak? Apa pencopetnya akhirnya berhasil mengambil iPhone nya?

AKhirnya aku mencoba menelepon teman-teman dekatnya. Mulai dari yang di Jakarta hingga yang di Bandung, tak ada satupun yang mendengar kabar dari kakak. Mencoba cek Path-nya, Instagramnya, Waze, Twitter, tak ada satupun update-an dari dia.

Bingung. Sudah tak ada ide mau telepon siapa lagi. Akhirnya mama memberikan ide untuk menelepon rumah sakit-rumah sakit yang dilewati jalur P20. Siapa tahu kakak pingsan di tengah jalan dan dibawa ke salah satu RS tersebut. Setelah menelepon beberapa RS, tetap tansil! Kakak, kau di mana?

Adi, teman terdekat kakak, akhirnya turut bantu mencari kakak ke berbagai tempat menggunakan sepeda motornya. Ia mendatangi kantor kakak, rumah sakit-rumah sakit yang dilewati jalur P20, intinya ia menyusuri jalanan dari Lebak Bulus hingga Senen.

Pukul 15:00 WIB, tetap tak ada kabar dari kakak. Aku tahu tak mungkin lapor polisi karena belum 1 x 24 jam. Mama yang mulai panik akhirnya membuat broadcast message yang mengabarkan hilangnya kakak.

Pukul 16:00 WIB aku janjian dengan Adi di halte UIN Jakarta. Kami akan mendatangi rumah teman-teman kakak yang kemungkinan besar didatangi kakak.

Pukul 16:30 WIB, aku dan Adi berhenti terkena lampu merah di Bundaran Pondok Indah. HP Adi berdering terus menerus.

“Div! Div! Ini si De**** nelfon!”

Hah? Kulihat layar HP Adi. Wuih! Beneran itu nomor kakak! Kuangkat panggilan tersebut. “Woy kak lo di mana?”

Hal pertama yang kudengar dari kakak ialah, “Dek dek, lo megang duit ga? Megang duit ga?”

Termenung sesaat. Kenapa dia minta duit? “Iya iya megang duit. Kenapa? Lo di mana?”

“Gue mau bayar taxi. Duh gue gatau ini di mana.”

Lah? Mustahil sekali kakakku tidak tahu ia di mana. Ia kan anak-super-gaul-macam-kenek-bus-pantura-yang-hafal-semua-jalan-di Pulau Jawa.

“Coba tenang dulu. Tanya supir taxi-nya kalian di mana.”

Sayup-sayup terdengar suara kakakku bertanya pada orang lain.

“Dek, ini di Tirtayasa.”

“Tirtayasa deket PTIK?”

“Iya iya itu!”

Makin bingung. Kok bisa kakak tidak tahu daerah Tirtayasa? Kan ada rumah peninggalan eyang di daerah Blok M. Kami pun sekolah dari SMP hingga SMA di kawasan situ. “Lah lo ngapain di situ?”

“Gue tadi diculik. Ini gue kabur.”

“Haaaaaaaaaaaaah?! Kak, mending lo ke rumah eyang di Sa****. Lebih aman. Ke sana ya. Sekarang.”

30 menit setelah itu, aku dan Adi tiba di Sa****. Kok tidak ada taksi di depan rumah? Jarak tempuh dari PTIK ke rumah eyang kan hanya 15 menit paling lama. Kutelepon lagi HP kakak. Tak ada dering sambung. Matilah aku! Masa kakak hilang lagi?

Pukul 18:07 aku, Adi, dan sepupu-sepupuku yang sudah panik mencari dia berkumpul di depan rumah. Tak lama kemudian, sebuah taksi berhenti. Pintu penumpang buru-buru dibuka oleh sepupuku. Kakak tampak pucat pasi, lemas. Sepupuku yang lain membawa barang-barang kakak, sementara aku membayar supir taksinya  dan bertanya-tanya tadi dari mana dan berterimakasih karena sudah mengantarkan kakak dengan selamat.

Kakak pun dibawa masuk ke dalam kamar dan dibiarkan istirahat. Aku dan sepupu-sepupu mulai membongkar tasnya. Tak ada barang yang hilang. Aneh.

Pikiran kami pun menjadi liar.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seminggu berlalu, kakak sudah mulai pulih dan tertawa. Kini kami sedang dalam perjalanan menuju Ciater untuk berendam air panas. HP sengaja kami nonaktifkan demi ketenangan liburan sesaat ini. Sudah seminggu ini HP kami bertiga bunyi terus-menerus. Banyak sekali orang yang menanyakan kabar kakak dan perihal penculikan tersebut. Kami menjawab, “Alhamdulillah kakak sudah membaik. Hanya uang tabungan yang hilang. Tapi kakak tidak apa-apa.”

Singkat cerita mengenai penculikan tersebut, kakakku turun dari P20 di Halte Imigrasi Jakarta Selatan demi menghindari si ibu gendut yang berusaha mencopet dia. Eh sialnya, si ibu gendut tersebut ternyata ikut turun! Nah dari situ, kakakku sudah tak sadarkan diri. Sepertinya ia dihipnotis. Pokoknya yang diingat kakakku ialah ia tersadar di kawasan Tanjung Priok. Ia sadar dalam posisi tiduran di pinggir jalan dan ada bapak satpam yang menepuk dirinya. Kakakku pun akhirnya meminta bantuan bapak satpam ini untuk mengantar hingga Harmoni untuk mencari taksi. Ketika di dalam taksi pun ia masih linglung, ia tak  tahu mau ke mana. Kartu debit dia entah kenapa tak bisa diakses. HP-nya sering error, kadang nyala kadang mati. Akhirnya ketika hp nya benar, ia langsung buru-buru menelepon Adi. Dan Alhamdulillah itu keputusan yang tepat karena aku sedang bersama Adi.

Sesampainya di pemandian air panas, mama dan kakak langsung buru-buru ganti pakaian, sementara aku dan dua sepupuku menaruh barang-barang di kursi.

Setelah mama dan kakak selesai ganti pakaian, aku langsung melesat menuju ruang ganti. Dan tahukah kalian apa yang terjadi? Aku ketakutan setengah mati. Padahal aku ganti baju tak sampai 5 menit, jarak ruang gantinya pun hanya 5 meter dari tempat duduk. Sungguh, aku ketakutan hingga ingin menangis. Jantungku berdebar tak karuan. Kakiku lemas. Nafasku terburu-buru. Ya Allah…. Dampak dari penculikan itu sampai ke diriku.

Semenjak saat itu, mama tak mengizinkan kami naik kendaraan umum.

Untuk pelaku penculikan, seandainya kau membaca ini, aku harap kau taubat sebelum ajal menjemputmu.

1 thought on “True Story: Penculikan dan Dampaknya Pada Kami, Keluarga Korban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *