Magister, Semester 1

Texts, Production, Context – Paul Long dan Tim Wall Chapter 1 and 2

Tugas Kelompok Kajian Media

Kelompok Penyanggah Bab 1 dan 2

Media Studies (Texts, Production, Context) – Paul Long dan Tim Wall

 

Oleh:

Caroline Claudia Christy – 180165624

Gina Aulia Taqwa – 1806252643

Novan Choirul Umam – 1806252776

Svaradiva Anurdea Devi – 1806166330

 

Banyak media komunikasi yang tersebar di sekililing kita. Masing-masing media komunikasi ini diciptakan untuk memberikan sebuah pesan khusus yang para pembuat media atau produser, ingin sampaikan kepada khalayak. Iklan di televisi, billboard, poster, majalah, situs web dan segala macam bentuk media komunikasi, bertujuan untuk membuat para khalayak ingat serta mengerti apa yang produser tawarkan. Bagaimana para produser menciptakan sebuah media yang mampu menarik minat khalayak, bagaimana mereka memilih dan menseleksi sumberdaya yang ada untuk menciptakan makna media, dapat dianalisis dan didefinisikan dengan menggunakan alat analisis teks retorika dan semiologi.

  1.   Retorika

Retorika adalah sebuah konstruksi dan manipulasi bahasa oleh pencipta teks tersebut dengan tujuan afektif, seperti penciptaan emosi. Analisis sebuah teks media dengan menggunakan pendekatan ini bertujuan untuk mempelajari bentuk-bentuk media dan cara mereka dalam menyampaikan ide ataupun pesan. Pada intinya, analisis ini adalah tentang bagaimana pemilihan kata dan bagaimana merangkainya ke dalam sebuah kalimat, dapat mampu menciptakan sebuah tanggapan afektif yang diinginkan.

  1. Teknik dan Alat Analisis Media dengan Retorika
  2. Retorika Verbal

Retorika verbal adalah kata-kata yang diungkapkan atau dituliskan. Terdapat berbagai macam retorika verbal, antara lain :

  •         Mempengaruhi

Pemilihan kata-kata yang dilakukan dalam sebuah karya jurnalisme bertujuan untuk mempengaruhi. Sebagai contoh, bagaimana majalah Tempo memilih kata-kata dalam penulisan berita akan sangat berbeda dengan koran Kompas. Pemilihan kata-kata pada Majalah Tempo terkesan lebih tegas dan mendramatisir untuk menciptakan gambaran berita yang lebih mendalam penelusurannya.

  •         Aliterasi

Pengulangan bunyi konsonan dalam sebuah kalimat. Dengan memanfaatkan persamaan bunyi konsonan, diharapkan teks atau kalimat yang diciptakan mudah diingat. Dalam penerapannya terdapat dua alternatif, yaitu sajak dan kiasan. Contoh dari Aliterasi sajak terdapat pada iklan minuman Mizone yang menggunakan slogan “Aku Kotaku OK Lagi”. Sedang untuk contoh Aliterasi Kiasan adalah slogan salah satu perusahaan pembiayaan di Indonesia yang berbunyi “Mengatasi Masalah tanpa Masalah”

  •         Eufimisme

Adalah usaha untuk mengganti beberapa kata yang terdengar kasar, agar bisa lebih mudah diterima. Sabagai contoh mengganti kata dipecat dengan kata dibebastugaskan.

  •         Metafora

Salah satu majas di Indonesia yang mengungkapkan sebuah pernyataan dengan persamaan analogi.

Contoh: Sampah Masyarakat itu akhirnya masuk penjara.

Sampah masayarakat merupakan perumpamaan bagi seorang tersangka.

  •         Metonim

Adalah penyebutan sebuah bagian dari benda untuk menyatakan secara keseluruhan benda tersebut. Dalam pembagian majas di Indonesia, Metonim memiliki pengertian yang sama dengan sinekdok pro toto. Contoh: “Hingga bel berbunyi, Rini tidak terlihat batang hidungnya”

  •         Ellipses

Langkah menghilangkan bagian kata yang telah dengan jelas diketahui keberadaannya, lalu menggantinya dengan simbol. Hal ini dilakukan untuk mengganti kata-kata yang kurang sopan. Misalnya, “what the h . . .”

  •         Klise

Penggunaan frasa, gagasan, kiasan (termasuk yang usang). Penggunaan klise terkadang sampai memudarkan arti dari kata itu sendiri. Sebagai contoh, “Senyumnya menerbangkanku hingga ke langit”.

  1. Retorika Presentasi

Retorika presentasi menitikberatkan pada bagaimana gaya penyampaian kita dalam menyampaikan sebuah kalimat atau pernyataan. Volume, penekanan, kecepatan, jeda dan sebagainya, dapat menimbulkan sebuah pemahaman yang lain bagi para khalayak. Pemanfaatan aspek-aspek ini dapat membantu kita untuk secara efektif memberikan pesan yang kita inginkan. Sebagai contoh, seorang presenter televisi program berita akan lebih tegas dalam penyampainnya, agar berita yang disampaikan mendapatkan kesan serius dan penting untuk disimak.

Retorika presentasi juga dimanfaatkan dengan baik dalam sebuah siaran radio. Bagaimana mereka menciptakan ruang, jarak hingga suasana hanya dengan memanfaatkan audio. Sebagai contoh, suara rintikan air yang menggema untuk menggambarkan suasana sebuah goa.

               iii. Perangkat Fotografi

Gambar yang dihasilkan dalam sebuah proses fotografi juga merupakan sebuah alat komunikasi. Kekuatan gambar sangat berpengaruh pada penyampaian pesan yang diinginkan. Ada beberapa teknik dalam mengedit gambar, agar lebih sesuai dengan tujuan penyampaian pesan. Teknik ini kemudian disebut dengan Retorika Editorial. Teknik-teknik Retorika Editorial adalah sebagai berikut:

  •         Komposisi

Pemilihan sudut, pencahayaan lensa, framing dan elemen lain dalam sebuah foto, termasuk jarak anatara lensa kamera dengan objek foto. Sehingga dapat menghasilkan gambar close up atau wide, yang disesuaikan dengan pesan yang ingin disampaikan.

  •         Retouching

Proses pengaturan warna yang bertujuan untuk menghilangkan atau menonjolkan bagian gambar yang diinginkan.

  •         Memotong

Teknik yang juga bertujuan untuk menghilangkan bagaian yang tidak diinginkan, namun penerapannya lebih cepat dibandingkan dengan retouching.

  •         Mensejajarkan

Penempatan posisi dua gambar/foto. Sejajar atau memilih sebagaian gambar/foto lebih tinggi atau rendah.

  •         Montase

Langkah penggabungan dua gambar/foto sehingga memiliki arti yang baru.

                    Selain teknik diatas, sebuah proses retorika pada gambar dapat dilakukan dengan penyusunan beberapa gambar atau foto yang bertujuan untuk memberikan alur pada foto-foto tersebut, sehingga mampu menyampaikan maksud atau isi pesan.

 

  1.  Semiologi

 

Genre

 

Genre berasal dari bahasa Perancis yang berarti tipe, kategori, atau jenis. Juga mengakar dari kata-kata lain di bahasa Inggris seperti gene, genotype, dan gens (kata Romawi untuk kelompok keluarga yang memiliki leluhur yang sama).

 

Genre dapat diasumsikan sebagai sistem penandaan berdasarkan sekumpulan kode dan kebiasaan yang bersama-sama digunakan oleh produser maupun audiens suatu teks/seni/karya cipta.

 

Ketika kita mempelajari kategorisasi atau jenis teks, kita membaginya menjadi genre studi atau kritik.

 

Genre kritik dalam bidang studi kita berasumsi bahwa seni dalam medium apapun -misal televisi- dengan berbagai cara, dan menggunakan serangkaian terminologi (termasuk retorik, estetik dan semiologi) dan dari pekerja media itu sendiri. Di level peneliti pemula, biasanya mereka fokus pada fitur-fitur umum dari berbagai jenis teks dan mengelompokkannya, dibanding menganalisa teksnya saja.

 

Genre media harus memiliki kesamaan maupun perbedaan satu sama lain.

Mengapa harus memiliki kesamaan? Agar dapat dikenali dan digeneralisasi.

Mengapa harus memiliki perbedaan? Guna menghindari tiruan.

Paradoks, bukan?

 

Lalu bagaimana kita mengetahui suatu karya cipta termasuk dalam genre apa jika kita melihat dan membandingkannya dengan yang mirip-mirip?

 

Genre itu dinamis. Mereka dapat dikenali melalu elemen-elemen yang selalu ada dalam genre tersebut. Misal, genre serial polisi seperti CSI, Law and Order, dan Morse. Mereka punya beberapa elemen yang sama: polisi menjadi pemeran utama, terdapat kasus/kejahatan yang harus dipecahkan, terdapat korban. Dinamis karena kisahnya berbeda-beda namun tetap dalam tematik yang sama.

 

Hybriditas Genre. Dokumenter kini dibagi menjadi beberapa subgenre seperti sejarah, biografi, travel, wildlife, dsb.). Toko-toko musik dan seni kini membagi konten mereka berdasar koran, majalah, buku komik, dst. Sementara ritel daring seperti Amazon dan Netflix menggunakan perangkat lunak untuk menjelaskan pilihan pembayaran dan rekomendasi barang ke kostumer.

 

Perubahan dinamis dan hybriditas tidak selalu menjadi solusi dalam perkembangan genre. Genre yang sepenuhnya baru bisa muncul dalam berbagai jenis media, guna memberikan sesuatu yang “baru dan menyenangkan” untuk audiens. Meski ada kemungkinan gagal menarik audiens dikarenakan kurang populer.

 

Genre dalam konteks produksi dan konsumsi

 

Genre juga mempunyai fungsi ekonomi selayaknya estetika, retorika dan semilogikanya.

Di Inggris, BBC dan ITV dikritik karena menampilkan program dengan “Formula” yang sama terus menerus. Ini dikarenakan kepopuleran genre tersebut. Apakah ini berarti kreatifitas media tersebut telah “mati”?

 

Genre dan produser tak dapat dipisahkan. Audiens memiliki “ekspektasi” terkait hal tersebut. Misal, ketika mendengar atau membayangkan film Marvel, audiens akan berekspektasi “Pasti diproduseri Kevin Feige, atau Stan Lee.” Begitu pula ketika mendengar nama “Kevin Feige” kita akan berekspektasi ia pasti meluncurkan film Marvel.

 

Sementara hubungan antara genre dan audiens amat perlu dikritisi: Mengapa audiens mau mengeluarkan uang untuk sesuatu yang diulang terus menerus?

 

Kritik Genre Media

 

Hal menyedihkan mengenai genre sastra di Indonesia ialah kurangnya variasi dan lambatnya perubahan.

 

Misal, dari era 1980an hingga 2000-an awal, film bioskop Indonesia rata-rata bergenre horor dan sensual. Baru semenjak 2010-an berkembang genre horor tanpa hal-hal berbaru sensual.

 

Hal yang sama juga terjadi di tayangan tv. Di saat negara-negara lain mulai membuat sinetron bergenre detektif (seperti CSI, NCIS, Monk) sejak awal 2000an, Indonesia bisa dibilang tertinggal jauh dengan negara seperti Amerika Serikat, Perancis, Jepang, dan Korea Selatan. Film bergenre detektif bahkan masih belum ada di TV terestrial Indonesia, dan malah hadir di tv streaming seperti iflix.

 

Apa sebenarnya penyebab lambatnya perkembangan genre di Indonesia?

 

Naratif, Narratology, Studi Genre

Pada beberapa genre, dapat ditemukan jenis-jenis dari cerita tertentu yang disampaikan berulang-ulang kali. Sebagai contoh: serial video game bertema petualangan (pokemon Go, Plant Vs Zombie), dengan avatar yang dimanipulasi seolah setiap level akan dihadapkan pada tantangan dan reward yang terus muncul setiap satu level berhasil diselesaikan. Contoh serupa juga dapat ditemukan pada drama serial (Tersanjung, Si Doel, Game of  Thrones) yang menawarkan cerita yang seolah tidak ada akhir/ never ending stories dengan kombinasi persoalan yang terus muncul dan saling berkaitan.

 

Naratif

Narratif dapat diartikan sebagai penyusunan elemen tekstual ke dalam pola dalam konteks ruang, waktu dan sudt pandang/perspektif. Naratif mendorong untuk membaca bagian teks sebagai peristiwa yang terbentuk sebagai akibat dari peristiwa lainnya (kausalitas).

 

Pada umumnya masyarakat luas memiliki pemafaman naratif yang berasal dari persepsi sosial dan individual tentang waktu (bangun tidur ketika hari sudah terang, tidur ketika hari sudah gelap) dikaitkan juga dengan berbagai cerita yang disampaikan sedari kecil. Saat masih kecil, anak-anak seringkali mengarang cerita dari khayalannya sendiri namun sudah disadari bahwa dalam suatu cerita harus memiliki awalan/pengantar, isi cerita dan akhir cerita, kesadaran akan hal tersebut menjadi dasar memahami struktur naratif.

 

Teori Propp’s

Pendekatan Propp ditujukan untuk menkonseptualisasi cerita sebagai struktur yang serupa dengan sistem bahasa.

Propp menggunakan metode ini untuk menganalisa cerita rakyat atau folk tales, dengan mengkategorikan dari unit naratif terkecil-unit naratif dasar “narratemes” sampai berujung pada sejumlah kesimpulan dari struktur cerita.

  1. Fungsi Karakter: Menurut Propp, karakter seharusnya dikategorikan sesuai dengan fungsi dalam narasi, contohnya : villain, the donor, the dispatcher, the helper, the pahlawan, the false pahlawan, the princess and her father. Propp juga menekankan bahwa satu karakter dapat memiliki berbagai fungsi pera, sebaliknya satu fungsi peran juga dapat dimiliki lebih dari satu karakter.
  2. Unit Naratif dari aksi/tindakan tertentu : Propp menyimpulkan terdapat setidaknya 31 unit naratif inti yang ditemukan dari berbagai cerita rakyat yang ditelitinya. Meskipun Propp tidak mengharuskan semua unit naratif untuk dimunculkan pada semua cerita, namun kemunculan unit tersebut harus sesuai urutan yang disarankan.

Cont. Unit naratif pada film superheroes seperti film garapan Marvel seperti Spiderman, Ironman,dll.

  1. Pada umumnya memiliki urutan naratif sebagai berikut:
  2. Salah satu anggota keluarga hilang/pergi dari rumah;
  3. Larangan ditujukan pada sang pahlawan (jangan pergi ke tempat itu karena ada bahaya);
  4. Larangan dilanggar (tokoh penjahat mulai muncul);
  5. Pahlawan meninggalkan rumah;
  6. Pahlawan diuji, diinterogasi, diserang, dsb. dalam proses mendapatkan alat (agent) sakti atau penolong;
  7. Pahlawan dan penjahat terlibat pertarungan langsung;
  8. Pahlawan menjadi terkenal
  9. Penjahat dikalahkan (terbunuh dalam pertarungan, dikalahkan dalam contest, dll)
  10. Kemalangan atau kekurangan awal berhasil dituntaskan ;
  11. Penjahat menerima hukuman;
  12. Pahlawan menikah dan mendapat tahta.

Dari pembahasan diatas, dapat disadari bahwa terdapat repetisi atau pengulangan pada struktur narasi dari masa ke masa, baik di Indonesia maupun di negara luar seperti Eropa & Amerika. Dengan pandangan bahwa bentuk media merupakan praktik sosial, yaitu menghubungkan antara hal-hal simbolik yang coba disajikan dengan nilai yang diilhami dalam kehidupan, apakah memang struktur  naratif akan selalu berpatokan pada urutan unit analisis yang selalu berulang? Seperti hal nya pada film superheroes, pada awalnya tokoh pahlawan adalah orang biasa yang tidak dikenal dan baru menyadari dirinya punya kekuatan super, atau pada akhir cerita bahwa sang pahlawan/ pahlawan pada akhirnya akan menang dan menaklukan penjahat,  kemudian masyarakat memuji & mengidolakan pahlawan tersebut karena berhasil menciptakan kedamaian. Padahal, jika unit naratif mencoba menghubungkan simbol dengan nilai kehidupan, konsep urutan naratif tersebut sangat tidak relevan dengan kehidupan nyata dimana terkadang sosok pahlawan sebagai penegak keadilan justru bisa dijebak dan difitnah hingga masyarakat luas mengucilkannya dan menolak konsep kehidupan damai dan aman yang ideal selayaknya yang ingin disimbolkan media, seperti pada film tersebut.

 

Stability-Disruption-Enigma-Resolution

Sebagai media naratif, harus dipahami bahwa tidak semua film menceritakan suatu cerita dengan cara yang sama, juga tidak semua film memiliki struktur naratif sama namun dengan setting atau konteks tertentu dapat ditemukan persamaan dari mayoritas film-film yang diproduksi terutama di negara barat. Umumnya cerita akan diawali dengan dunia yang stabil (tenang,aman,dll) diwakilkan dengan kehidupan tokoh protagonis dalam konteks kehidupan nyata dengan problematika serupa, kemudian muncul gangguan yang merusak kestabilan tersebut dan memunculkan enigma, yaitu suatu teka-teki yang harus dipecahkan seperti tokoh pahlawan memikirkan strategi melawan musuh tanpa menghancurkan kota dan seisi penduduknya. Pada akhirnya, film naratif akan berujung pada terpecahkannya enigma dan berusaha diatasi dan mencari cara untuk mengembalikan hidup ke kondisi stabil, setidaknya sampai muncul film berikutnya yang menawarkan konfilk dan gangguan baru.

 

Plot dan cerita

Secara umum, kita menkonstruksikan cerita yang ada di pikiran dari informasi yang dinarasikan kepada kita melalui plot/ alur cerita. Untuk membedakan antara plot dan cerita, terdapat dua unsur naratif yaitu:

 

Fabula

Fabula dapat diartikan sebagai cerita. Fabula merupakan pola yang diciptakan penonton film melalui asumsi dan dugaan, fabula tidak dapat dilihat di layar film atau didengar dari soundtrack film. Film sangat bergantung pada kode dan kesepakatan bersama untuk menarasikan informasi pada suatu cerita, dan sebagai penonton kita dapat memahaminya karena pembuat film dapat menarik suatu kesamaan yang spesifik tentang bagaimana memahami dunia. Dapat disimpulkan, ketika dihadapkan dengan suatu cerita dari koran, berita yang didengar dari radio, atau film kita sebagai penonton sudah memiliki konsep awal yang direpresentasikan sendiri dan dibawa ke dalam teks.

 

Syuzhet

Syuzhet merupakan susunan dan presentasi nebula di dalam film, sebagai sebuah sistem yang menyusun elemen-elemen, cerita atas kumpulan peristiwa, sesuai dengan prinsip-prinsip tertentu.  Konsep syuzhet berguna untuk memungkinkan kita menganalisa elemen-elemen pada bentuk media seperti film, yang disusun oleh konsumen ke dalam suatu cerita. Terdapat tiga prinsip yang menghubungkan antara syuzhet (plot) pada fabula (cerita)

  1. Naratif Logis

Plot pada film seringkali lebih kompleks dari cerita yang dikonstruksikan oleh penonton, sebagai upaya membuat film menarik dan tidak mudah ditebak.

  1. Waktu

Plot dapat memungkinkan penkonstruksian peristiwa dimunculkan pada rentang waktu mana pun (dalam durasi jam, tahun bahkan dekade). Dengan narastif logis, representasi waktu dapat digunakan untuk mendukung atau justru menghambat dan menimbulkan kebingungan pada konstruksi cerita.

  1. Ruang

Untuk dapat menkonstruksi cerita sebagai penonton kita butuh adanya rasa keterlibatan pada peristiwa atau kondisi yang disampaikan dalam film. Terkadang hal tersebut secara tidak sengaja timbul karena adanya pemahaman atau kesamaan peristiwa yang pernah dialami penonton atau kreativitas tim pembuat film yang mampu membuat peristiwa dalam film seolah nyata dan mengajak penonton “hadir” di dalamnya.

 

Narasi – pada bentuk media lainnya (selain film)

Naratif tidak terbatas pada media sinematik seperti film dan TV yang mana cerita dijelaskan langsung dengan urutan adegan/peristiwa, namun naratif juga dapat dipahami pada media lain seperti still images dan tulisan teks, website,dsb. Sebagai still images yang digunakan pada iklan di baliho untuk mempromosikan deodoran sebagai solusi mengatasi bau badan dan meningkatkan rasa percaya diri dan menarik pesona diri bagi lawan jenis. Terdapat konsep naratif yang disusun berdasarkan pengamatan baik secara ilmiah mengenai bau badan sampe ke aspek psikologis atau cerita pengalaman bau badan yang dianggap mengganggu terutama bagi perempuan. Namun, dari narasi yang disampaikan terutama pada bentuk naratif yang digunakan dengan tujuan ekonomis salah satunya sebagai pemasaran produk, akan muncul pertanyaan mengenai :

–   Siapa yang memiliku kuasa untuk menarasikan dan merepresentasikan gambar dan cerita yang hendak dinarasikan, contoh pada iklan deodoran tersebut?

–   Siapa pihak yang diuntungkan maupun dirugikan dari cerita naratif tersebut?Umumnya, jika pesan cerita tersampaikan dengan baik dan mampu memiliki relevansi nilai yang ditangkap konsumen maka keuntungan berpihak pada pemilik perusahaan dari produk deodorant tersebut, mungkin juga artis yang menjadi objek iklan promosi karena dianggap mencerminkan citra yang dimanipulasi dalam gambar. Dan yang mungkin dirugikan adalah konsumen, apabila kenyataanya produk tidak benar mencerminkan persepsi yang dinarasikan melalui gambar iklan di baliho tersebut.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *