Magister, Semester 1

Teori Manajemen Privasi Komunikasi

Communication Privacy Management Theory

(Teori Manajemen Privasi Komunikasi)

Tugas Mata Kuliah Perspektif Teori Komunikasi

Kelompok 8, Kelas 602, kelas B (Malam)

 

  • Ayu Karwinandhi (1806165561)
  • Baskoro A. Pratomo.           (1806165574)
  • Aisha Nabila (1806165441)
  • Salma Nadia Putri (1806252870)
  • Svaradiva A. D. (1806166330)

—————————————————————————————————————-

Tentang Teori

 

Teori Communication Privacy Management (CPM) yang diperkenalkan oleh Petronio (2002) merupakan pengembangan dari dua teori komunikasi terdahulu, yakni Politeness Theory dan Social Exchange Theory. Teori CPM tergolong ke dalam macro theory (teori makro), karena tidak hanya dapat diaplikasikan dalam konteks interpersonal, namun juga level kelompok dan organisasional. Sebagai bentuk pengembangan dari teori Social Exchange, teori ini juga diawali dengan asumsi bahwa setiap komunikan memiliki pertimbangan cost dan rewards dalam berkomunikasi–namun, berbeda dengan teori tersebut, teori CPM ini menitikberatkan aspek Privasi sebagai sesuatu yang dikelola oleh setiap komunikan, guna mencapai rewards tujuan akhir tersebut.

Premis utama yang dinyatakan dalam teori CPM adalah bahwa setiap orang memiliki sistem pengambilan keputusan mengenai informasi apa saja yang layak diungkap ke publik (revealed information) atau yang sebaiknya disimpan untuk diri sendiri (privacy information). Lebih lanjut, Petronio menjelaskan bahwa terdapat 6 (enam) prinsip utama atau suppositions dalam CPM, yakni :

 

Prinsip 1 :

Public-Private Dialectical Tension (Ketegangan Dialektik Pribadi-Publik)

 

Petronio (2002) menyatakan bahwa teori CPM didasarkan pada kesatuan dialektika yang merujuk pada ketegangan yang dialami orang karena pertentangan dan kontradiksi. Dalam berkomunikasi, seorang individu senantiasa dihadapkan pada ketegangan dialektik terkait informasi mana yang harus dibagikan kepada lawan bicara/publik, dan mana yang harus ia sembunyikan. Misalnya, dalam konteks wawancara kerja, ketika seseorang diberikan pertanyaan “mengapa Anda berhenti dari perusahaan sebelumnya?”, ia akan melakukan seleksi informasi secara internal dengan pengaturan informasi pribadi yang selayaknya tidak akan merugikan dirinya.

Jika ia menjawab dengan jujur (misalnya : bahwa ia dianggap tidak diperlakukan dengan adil oleh perusahaan sebelumnya), maka pewawancaranya mungkin akan menilai dirinya sebagai pribadi yang kurang beretika–sehingga ia pun gagal diterima dalam perusahaan baru tersebut.

Contoh lain terkait ketegangan dialektik dalam CPM adalah misalnya ketika Lisa tertarik untuk bergabung dalam percakapan dengan rekan kerjanya, Yolanda. Di satu sisi, ia menikmati percakapan tersebut dan ingin memberikan dukungan kepada Yolanda sebanyak yang dia bisa, namun ia perlu bekerja dan jika ia terus bercakap dengan Yolanda, ia akan kehilangan sebagian waktu kerjanya. Jika ia berterus terang kepada Yolanda bahwa ia harus bekerja, ia juga harus menghadapi risiko bahwa Yolanda mungkin akan kesal terhadapnya.

Prinsip 2 : Private-Information (Informasi Pribadi)

 

Pengungkapan sebuah informasi pribadi merujuk pada proses menceritakan dan mencerminkan konten informasi pribadi tentang orang lain. Menurut teori ini, informasi pribadi merupakan informasi yang benar-benar tidak dapat diakses publik, kecuali komunikan tersebut sendiri yang memutuskan untuk membagikannya. Fitur utama dalam informasi pribadi adalah Kepemilikan (ownership)–karenanya, seseorang dengan informasi pribadi memiliki kontrol penuh terkait kepada siapa, dalam situasi apa, kapan, dan bagaimana suatu informasi pribadi yang ia miliki dapat dibagikan kepada orang lain atau publik.

 

Salah satu contoh terkait manajemen informasi pribadi dalam konteks organisasi dapat dipahami ketika, misalnya, ketika perusahaan tempat seseorang bekerja sedang melakukan pengembangan produk baru, dan orang tersebut adalah salah satu dari sekian karyawan terpilih yang mengetahui hal tersebut. Namun, karena pertimbangan tersendiri, ia memutuskan untuk tidak memberitahukannya kepada siapapun dalam perusahaan itu.

 

Prinsip 3 : Privacy Rules (Peraturan Privasi)

 

Dalam proses pengambilan keputusan terkait privasi, seorang individu dipengaruhi oleh beberapa kriteria berikut :

 

Kriteria Contoh
Cultural Seseorang dengan latar belakang african-american menghargai keterbukaan seseorang dalam diskusi kelompok, karena dapat menciptakan rasa persatuan yang kuat.
Gender Perempuan dianggap tidak layak untuk mengumbar cerita tentang kehidupan pribadinya dengan suami setelah menikah.
Motivational Berbekal asas resiprokalitas, seorang investigative journalist mungkin akan banyak membuka diri kepada subyeknya. Dengan harapan, subyek tersebut juga akan memberikan banyak informasi yang ia butuhkan untuk tulisannya.
Contextual Dalam situasi bencana alam, misalnya, para korban yang mengalami luka emosional cenderung lebih mudah berbagi informasi tentang dirinya kepada sesama korban yang mengalami nasib yang sama.
Risk-Benefit Ketika seorang presiden berpidato dalam acara jamuan diplomatik, ia akan berpikir berulang kali sebelum mengumbar cerita personalnya bersama sang istri tadi malam. Karena, ia sadar bahwa risiko yang ia hadapi akan jauh lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang ia (mungkin) bisa dapatkan.

Prinsip 4 : Boundaries (Batasan)

 

CPM menggunakan istilah “batasan” untuk mendefinisikan sebuah garis imajiner yang memisahkan antara informasi publik dan informasi pribadi (Petronio, Ellemers, Giles, & Gallois, 1998). Di satu sisi, seorang individu memiliki informasi pribadi yang hanya diketahui dirinya. Namun, disisi lain, individu tersebut juga memiliki informasi pribadi yang dirinya inginkan untuk diketahui publik.

Karena itu, batasan alias boundaries ini sejatinya mengatur apa saja yang dapat dikategorikan sebagai batasan pribadi, misalnya golongan darah, alamat rumah, nama ibu kandung, nomor telepon. Sementara, yang termasuk ke dalam kategori batasan publik dapat meliputi tempat kerja, nama teman dekat, tempat favorit untuk hangout, dsb.

Namun, keberadaan internet dan media sosial saat ini justru membuat batasan kian kabur, karena hampir setiap orang dapat memberikan informasi pribadi dirinya ke publik. Hal ini tidak saja berdampak pada aspek komunikasi saja, namun juga terkait keamanan dirinya.

Prinsip 5 : Boundary Coordination (Koordinasi Batasan)

 

Melanjutkan prinsip sebelumnya terkait Batasan, prinsip ini menyatakan bahwa dalam menentukan batasan kolektif (batasan yang telah disepakati oleh kedua komunikan), terdapat koordinasi batasan yang mempertimbangkan tiga hal, yakni:

 

Boundary Linkage

Mengacu pada aliansi kedua komunikan terkait informasi. Sifatnya bisa disengaja (misalnya, seorang tersangka pembunuhan akan memberitahukan seluruh informasi pribadinya kepada pengacara yang ia sewa untuk memenangkan kasusnya), ataupun tidak disengaja–misalnya, seorang penghuni lapas yang tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka dan mengetahui seluruh informasi yang dibicarakan dalam percakapan tersebut.

 

Boundary Ownership

Kepemilikan akan suatu informasi secara otomatis juga mengatur hak dan tanggungjawab individu tersebut. Sebagai pemilik informasi, individu percaya bahwa ia harus berada dalam posisi untuk mengendalikan orang yang diizinkan untuk mengaksesnya. Sama halnya dengan boundary linkage, boundary ownership juga bisa disengaja maupun tidak. Contoh kepemilikan informasi yang disengaja dapat diterangkan dalam konteks gosip yang terjadi organisasi. Ketika X mengetahui bahwa Y memiliki kasus perselingkuhan (melalui informasi yang ia ketahui dari A), maka ia memiliki dua pilihan; meneruskannya kepada orang lain (karena ia merasa itu adalah haknya), atau bersikap bertanggung jawab dengan mendiamkan saja gosip tersebut.

. Sementara, contoh dari kepemilikan yang tidak disengaja dapat dijelaskan dalam situasi berikut : Lisa tiba tiba dibanjiri dengan e-mail dan panggilan telepon yang tidak diinginkan, sehingga merasa kehilangan kendali atas akses ke ruang pribadinya. Dia belum memberi tahu pengirim e-mail porno atau telemarketer bagaimana menghubunginya, tetapi mereka melakukannya, terlepas dari rasa kendali Lisa atas informasi yang ia yakini merupakan miliknya.

 

Boundary Permeability

Mengacu pada seberapa banyak informasi yang dapat disampaikan dengan dalam batasan kolektif yang telah ditentukan. Dengan kata lain, konsep ini menerangkan tingkat kekuatan suatu batasan kolektif terhadap suatu informasi. Misalnya, ketika X membagikan cerita pribadinya tentang malam bulan madunya bersama suami, sahabatnya mungkin akan dengan mudah menerimanya. Namun, ketika X bercerita tentang masalah keuangan yang dihadapi, belum tentu sahabatnya akan menerima (apalagi memberi saran)–karena bagi sahabatnya, masalah keuangan adalah informasi pribadi yang sama sekali tidak layak untuk dibagikan ke publik. Dalam kasus ini, maka dapat disimpulkan bahwa informasi terkait keuangan memiliki permeabilitas rendah.

 

Prinsip 6 : Boundary Turbulence (Turbulensi Batasan)

 

Erat kaitannya dengan kriteria privasi (yang diterangkan dalam poin 3), prinsip ini menyatakan bahwa pengendalian batasan tidak selalu berjalan lancar. Ketika terjadi ketidaksesuaian kriteria privasi antar kedua komunikan, di sana akan terjadi turbulensi batasan.

Misalnya, ketika X (seorang buruh) menerima informasi terbaru terkait pemecatan, ia pasti akan langsung melakukan pergerakan bersama sesama rekan buruh. Sedangkan, ketika Y (supervisor buruh) menerima berita ini dari pemimpin perusahaan untuk pertama kalinya, ia akan menjaga informasi ini sebaik mungkin hingga mendekati deadline, karena ia tidak ingin menghadapi amukan para buruh tersebut.

 

Asumsi Teori

 

Teori Manajemen Privasi Komunikasi berakar pada asumsi tentang bagaimana individu berpikir dan berkomunikasi serta asumsi tentang sifat manusia. Pertama, CPM mematuhi aspek aturan dan sistem. Teori ini membuat tiga asumsi tentang sifat manusia yang sesuai dengan aturan dan sistem:

 

  1. Manusia adalah pembuat keputusan.
  2. Manusia adalah pembuat dan pengikut peraturan
  3. Pilihan dan aturan manusia didasarkan pada pertimbangan orang lain maupun diri sendiri.

 

Petronio (2002) mencatat bahwa orang membuat pilihan dan aturan tentang apa yang harus diceritakan dan apa yang harus ditahan dari orang lain berdasarkan “kalkulus mental” yang didasarkan pada kriteria seperti budaya, gender, dan konteks, di antara hal-hal lainnya. Kriteria ini termasuk pertimbangan tentang orang lain yang terlibat serta diri sendiri. Oleh karena itu, Petronio menggunakan istilah pengungkapan dan pengungkapan pribadi daripada pengungkapan diri. Selain itu, Teori CPM adalah teori dialektika. Sebagai teori dialektik, CPM berlangganan ke asumsi yang mirip dengan teori Ground Relational Dialectics, termasuk:

 

  1. Kehidupan relasional ditandai dengan perubahan.
  2. Kontradiksi adalah fakta mendasar dari kehidupan relasional.

 

Asumsi-asumsi tersebut kemudian diambil untuk merepresentasikan persepsi aktif manusia dan gambaran manusia yang terlibat dalam kehidupan relasional sejauh diri dan lainnya saling terkait. Gagasan terjalin adalah penting untuk CPM. Tidak hanya diri dan yang lain dalam hubungan yang terlibat, tetapi pengungkapan juga terkait dengan konsep privasi. Sebagaimana pengamatan Petronio dan Caughlin (2006), privasi hanya dipahami dalam ketegangan dialektis dengan pengungkapan. Jika kami mengungkapkan semuanya, kami tidak akan memiliki konsep privasi. Sebaliknya, jika semua informasi bersifat pribadi, gagasan pengungkapan itu tidak masuk akal. Hanya dengan memasangkan mereka bahwa setiap konsep dapat ditentukan.

 

Asumsi Teori CPM

 

CPM berguna untuk  menjelaskan proses negosiasi orang-orang seputar pengungkapan informasi pribadi. Beberapa peneliti telah menyatakan bahwa “apa yang membuat hal-hal yang menjadi primadona sebagian besar adalah penting bagi konsepsi kita tentang diri kita sendiri dan hubungan kita dengan orang lain” (Schoeman, 1984, hal. 406). Petronio (2000) berkomentar bahwa orang mendefinisikan informasi pribadi sebagai informasi tentang hal-hal yang sangat penting bagi mereka. Dengan demikian, proses mengkomunikasikan informasi pribadi dalam hubungan dengan orang lain menjadi pengungkapan pribadi. Seperti yang telah kami nyatakan sebelumnya, CPM berfokus pada pengungkapan pribadi daripada pengungkapan diri. CPM melihat definisi secara berbeda dalam tiga cara.

 

Pertama, pengungkapan pribadi lebih menekankan pada konten pribadi dari pengungkapan daripada literatur pengungkapan diri tradisional. Dalam hal ini, CPM memberi lebih banyak kepercayaan pada substansi pengungkapan, atau yang dianggap pribadi.

Kedua, CPM memeriksa cara orang mengungkapkannya melalui sistem berbasis aturan.

Ketiga, CPM tidak menganggap bahwa pengungkapan hanya tentang diri. Disclosures merupakan proses yang komunikatif.

 

Petronio (2002) mengamati bahwa untuk dapat memahami kedalaman dan luasnya pengungkapan secara keseluruhan, CPM tidak membatasi proses hanya untuk diri sendiri, tetapi meluasnya untuk merangkul berbagai tingkat pengungkapan termasuk diri dan kelompok. Akibatnya, teori CPM menawarkan sistem manajemen privasi yang mengidentifikasi cara batas-batas privasi dikoordinasikan antara dan di antara individu.

 

Aplikasi Teori CPM

 

Sebagaimana yang telah dijelaskan di awal, teori CPM ini sangatlah applicable dalam kehidupan sehari-hari. Karena teori ini termasuk teori makro dimana bisa diaplikasikan tidak hanya di dalam konteks interpersonal juga konteks kelompok, organisasi, dan digital maka akan dibahas contoh yang sesuai dengan masing-masing konteks tersebut.

 

Konteks Komunikasi Interpersonal

Kita sebagai makhluk sosial pastinya mempunyai teman dengan derajat kedekatan yang berbeda-beda sehingga derajat pembagian informasinya pun berbeda juga. Contohnya adalah kita seringkali membagi banyaknya dan konten cerita apa saja yang tidak sama dengan semua teman kita. Misalnya dengan teman kantor yang hubungannya sudah dekat, maka kita bisa menceritakan uneg-uneg pekerjaan bahkan sampai masalah pribadi padanya. Namun dengan teman kantor yang beda divisi atau bahkan hanya kadang kala berhubungan maka kita tidak akan menceritakan hal-hal yang bersifat pribadi kepadanya. Hal ini berarti kita menyadari bahwa tidak semua orang bisa diberikan kepercayaan untuk mendapatkan informasi milik kita karena apabila kita sudah memberikan informasi tersebut, kita tidak bisa menjamin bahwa orang lain (co-owner) bisa menjaga informasi tersebut hanya untuk dirinya sendiri.

 

Konteks Komunikasi dalam Kelompok

Pernah dengar tentang Female Daily? Atau pun forum-forum lain yang ada di internet baik yang membahas tentang hal-hal tertentu seperti film, make up-skincare, sampai gosip dan permasalahan kehidupan sehari-hari? Walaupun menggunakan medium internet, namun keberadaan forum online ini bisa dimasukkan ke dalam konteks kelompok karena hanya orang-orang tertentu yang mempunyai akses saja yang bisa memberikan komentar atas pertanyaan ataupun bahasan dalam kelompok tersebut.

Female Daily, seperti judulnya, membahas tentang dunia perempuan dari A sampai Z dan salah satu thread yang menarik perhatian kami adalah thread tentang sex. Sex adalah salah satu bahasan yang tidak ramai diungkap karena dianggap merupakan salah satu informasi privat seseorang. Apalagi dengan penilaian masyarakat tentang adab ketimuran dimana urusan ranjang itu tidak sepatutnya diketahui oleh orang lain, apalagi yang tidak dikenal. Namun pada kenyataannya, ada beberapa orang yang dengan senang hati dan santai mengungkapkan urusan ranjangnya dengan menuliskannya di female daily, bahkan dengan lengkap dan kadang juga meminta saran untuk permasalahan yang sedang dihadapi.

 

Konteks Komunikasi Organisasi

 

Konflik manajemen privasi organisasi paling terkenal akhir-akhir ini ialah pengungkapan rahasia organisasi intelijen CIA oleh anggota kelompoknya sendiri. Pengungkapan informasi rahasia / privasi CIA ini dilakukan ke media massa melalui pegawainya bernama Snowden.

Hasil pengungkapan tersebut juga menjadi awal mula berdirinya wikileaks, sebuah wikipedia informasi-informasi rahasia. Kisah nyata ini kemudian diangkat menjadi sebuah film berjudul Snowden.

 

Konteks Komunikasi Digital

 

Ingat dengan kasus Kim Kardashian yang dirampok saat berada di salah satu hotel di Paris? Saat itu beredar kabar bahwa sang pencuri mengetahui perhiasan apa saja yang Kim bawa ke Paris melalui update instagramnya sehingga dengan mudahnya perhiasaan-perhiasan tersebut berpindah tangan. Namun kenyataannya setelah diselidiki oleh polisi, ternyata hal tersebut hanya kebetulan belaka. Polisi mempunyai dugaan seperti itu karena Kim yang dianggap terlalu aktif di media sosial sehingga dengan mudahnya mengundang orang untuk melakukan pencurian.

Sedangkan setahun setelahnya, artis Hilary Duff lah yang mendapatkan dampak buruk secara nyata dari kegiatan posting di Instagram. Saat dia dan keluarganya sedang berlibur di Kanada, dan di post di Instagram, disaat itu juga rumahnya di Los Angeles dirampok. Menurut polisi, perampok mengetahui bahwa rumah tersebut kosong dari post di Instagram dan ada kemungkinan bahwa perampok juga memiliki pengetahuan tentang seluk beluk arsitektur rumahnya dari instagram juga.

 

Contoh lainnya adalah saat kita mengisi kolom identitas di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, bahkan sampai aplikasi berkencan seperti Tinder, dan aplikasi pencari kerja seperti LinkedIn. Di media sosial, kita bisa memberikan seluruh informasi tentang diri kita ataupun hanya memberikan seperlunya saja. Hal ini tergantung dari motivasi penggunaan media sosial yang digunakan. Apabila kita menggunakan media sosial untuk menjadi bagian dari pekerjaan, maka di bagian biodata kita akan memberikan pencapaian-pencapaian yang relevan dengan bidang pekerjaan tersebut. Hal yang sama juga bisa diaplikasikan di Tinder. Apabila kita ingin mendapatkan pasangan yang mempunyai hobi yang sama maka informasi yang akan diberikan adalah seputar hobi serta foto yang diunggah pun relevan.

Namun hal ini tidak bisa dipukul rata kepada semua orang karena ada lima kategori privacy rules yang membedakan sikap setiap orang dalam mengambil keputusan untuk memberikan informasinya. Seperti misalnya, perempuan yang berasal dari Amerika pastinya akan mempunyai derajat keterbukaan informasi yang berbeda dengan perempuan Indonesia.

 

Evaluasi

CPM adalah salah satu teori baru di dunia Ilmu Komunikasi dan telah mendapatkan perhatian lebih  dari para peneliti, terbukti pada tahun 2013 dalam “journal of family communication” dibahas tentang perkembangan dari teori ini. Namun ada beberapa evaluasi dalam  teori ini, yaitu:

  1.   Clarity

Contohnya adalah ketika pada prinsip coordination mutual privacy boundaries, Petronio menunjukkan bahwa orang yang memiliki informasi pribadi harus menegosiasikan aturan privasi bersama, namun pada versi lainnya, Petronio menentang prinsip ini.  Dalam tulisannya, dia menulis bahwa sebagai co-owner penerima pesan memiliki tanggung jawab untuk menjaga informasi seperti yang diinginkan oleh pemilik informasi yang asli. Point tersebut merupakan contoh persetujuan dan bukan negosiasi.

  1.   Negotiation

Melanjutkan point sebelumnya, aturan ataupun pembahasan mengenai negosiasi antara pemilik pesan dengan co-owner tidak dibahas lebih lanjut

  1.   Pelanggaran privasi & Batasannya

Pelanggaran privasi yang dimaksud adalah ketika informasi tersebar oleh co-owner, maka kepercayaan pemilik pesan terhadap co-owner akan hilang. Mengenai kecepatan hilangnya kepercayaan dan juga pemecahan masalah ketika informasi telah tersebar juga tidak dijelaskan dalam teori ini.

  1.   Logical Consistency

Baxter dan Montgomery berpendapat bahwa teori CPM mengambil pendekatan dualistic.

  1.    Utility

Teori CPM memiliki banyak kegunaan dan memberikan penjelasan mengenai proses pengungkapan (disclosure) yang rumit dari hubungan seseorang dengan yang lainnya. Lebih jauh lagi,CPM dapat memberikan pengetahuan yang lebih kompleks antara interaksi manusia.

  1.    Heurism

Teori CPM bersifat heuristic dan berguna untuk kerangka kerja pada kasus – kasus yang cukup krusial, seperti pengungkapan pelecehan seksual anak, pengungkapan status HIV atau AIDS, kesalahan medis, dll. Ketika dibutuhkan pemahaman mengenai informasi pribadi orang lain, teori ini akan menjadi kerangka teoritis pertanyaan komunikasi.

  1. Emosi

Dalam video wawancaranya dengan Glenn Sparks pada 2014 lalu, Petronio memaparkan hal yang menurutnya kurang dalam teori ini, yakni emosi. Emosi berperan penting dalam situasi pemberitahuan informasi pribadi. Bukan hanya reaksi orang yang sejak mula memiliki informasi pribadi dan memilih membagikannya dengan orang lain, namun juga bagaimana informasi tersebut diberikan dalam cara yang tak mereka duga sebelumnya.

Tingkat emosional pemilik informasi dan isu yang disampaikan, serta dampaknya pada bagaimana mengelola privasi itu seperti “pintu yang terbuka”. Belum ada manusia yang dapat mengelolanya dengan benar. Karena apa yang tepat dilakukan pada saat pelanggaran privasi terjadi semua amat bergantung pada waktu dan tempat kejadian. Pengelolaan yang tepat dilakukan saat ini belum tentu akan tepat dilakukan di masa mendatang. Kita harus bereksperimen, mensimulasikan perasaan ketika itu terjadi, dan lihat bagaimana orang lain membuat penilaian terhadap pengelolaan privasi kita.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *