Translation of International Communication by Daya Kishan Thussu

Berikut merupakan terjemahan saya atas buku International Communication oleh Daya Kishan Thussu. Saya hanya menerjemahkan bagian Perang Siaran Radio dan Masa Perang Dingin. Mohon maaf bila terdapat kesalahan.

Perang Siaran Radio

Semenjak Perang Dunia I, orang semakin sadar betapa kuat, penting, dan vital nya radio terhadap pembentukan opini publik di negara sendiri maupun propaganda di luar negeri.

Siaran publik pertama yang direkam oleh sejarah propaganda nirkabel ialah pesan dari Council of the People’s Commissar’s of Lenin’s pada 30 Oktober 1917 yang berisi “Kongres Rusia atas Soviet telah membentuk Pemerintahan Soviet yang baru. Pemerintahan Kerensky telah turun tahta dan ditahan. Kerensky sendiri telah melarikan diri. Semua institusi terkait berada di tangan Pemerintahan Soviet.” Siaran radio gelombang pendek pertama kali dikirimkan dari Moskow pada 1925.

Propaganda Nazi

Ketika Nazi berkuasa di Jerman pada 1933, siaran radio digunakan sebagai salah satu alat diplomasi internasional. Josef Goebbels, Ketua Kementrian Propaganda Hitler, berkata bahwa siaran yang sesungguhnya ialah propaganda yang sesungguhnya. Propaganda berarti bertanding di segala arena.

1935, Nazi menaruh perhatiannya kepada penyebaran ideologi negara jerman ketiga ke seluruh dunia, terutama kepada warga negara Jerman yang tinggal di Afrika Selatan dan Australia. Pesan-pesan ini dikirimkan melalui 50 bahasa diantaranya bahasa Afrika, Arab, dan Hindustani.

Propaganda memperkenalkan ideologi fasis (mengangungkan negara sendiri)

Di Itali, Benito Mussolini membentuk Kementrian Cetak dan Propaganda untuk mempromosikan/memperkenalkan ideologi fasis dengan cara mendistribusikan radio ke orang-orang arab.

Zero Hour NHK

Pada PD II, siaran radio internasional menjadi alat propaganda di dua sisi. Perusahaan Siaran Radio Jepang (NHK-Nippon Hoso Kyokai), memiliki salah satu program siar Zero Hour  yang merupakan propaganda tingkat tinggi yang diarahkan kepada balatentara Amerika Serikat di Kepulauan Pasifik (Wood, 1992).

The Zero Hour (ゼロ・アワー Zero awā?) was the first of over a dozen live radio programs broadcast by Japan in World War II featuring Allied prisoners of war (POW) reading current news and playing prerecorded music and messages from POWs to their families back home and former fellow soldiers and sailors still serving in the Pacific theater, interlaced with demoralizing commentary and appeals to surrender or sabotage the Allied war effort.

British Broadcasting Corporation

Pada awal PD II, BBC siaran dengan 7 bahasa selain bahasa Inggris, yaitu bahasa Afrika, bahasa Arab, bahasa Perancis, bahasa Jerman, bahasa Italia, bahasa Portugis, dan bahasa Spanyol (Walker, 1992:36). Di akhir PD II, BBC telah siaran dengan 39 bahasa.

Selama masa perang,  Jenderal De Gaulle dari Perancis menggunakan BBC’s French service, untuk mengirim pesan ke gerakan perlawanan anti-komunis yang dipekerjakan oleh Perancis.

BBC turut membantu Tentara Amerika Serikat untuk membentuk American Forces Network, yang menyiarkan acara-acara di Amerika untuk tentara Amerika Serikat yang sedang bertugas di Inggris, Timur Tengah, dan Afrika.

BBC juga menyiarkan berita-berita di surat kabar ke Rusia dengan bantuan dari TASS (Telegrafnie Agentstvo Sovetskogo Soiuza). Selain itu, BBC juga menyiarkan ‘The Shadow of Swastika’, serial drama mengenai Partai Nazi.

Dengan memberikan Inggris proximity di dunia perang, BBC memegang peranan penting dalam propaganda dan jauh lebih efektif dibandingkan propaganda Amerika.

Sebelum PD II, di Amerika Serikat, radio lebih dikenal sebagai alat iklan dan komersilnya dibandingkan sebagai alat propaganda pemerintah. Hingga akhirnya VOA dibentuk pada 1942.

Masa Perang Dingin

Siaran Propaganda Soviet

Kebijakan siaran Uni Soviet memiliki tujuan melawan propaganda Barat dan mempromosikan Moskow di mata dunia. Siaran propaganda semakin penting bagi Uni Soviet ketika Sino-Soviet berpisah pada 1968. Hal ini menyebabkan kesamaan perang propaganda diantara negara-negara komunis besar.

Radio Moskow kalah jauh jika dibandingkan dengan siaran radio negara-negara barat dalam hal pemancar dan kemampuan untuk bersiaran di luar negara komunis. Terlepas dari siaran di Eropa Timur, Soviet hanya memiliki satu stasiun radio lain, yaitu Radio Habana di Kuba, yang ditangguhkan setelah berakhirnya Perang Dingin.

Siaran Propaganda AS

Instrumen-instrumen penting dalam dunia penyiaran internasional Amerika Serikat:  The Voice of America, Radio Liberty and Radio Free Europe, dan the American Forces Network.

–  Perang Korea (1950)

Amerika Serikat melakukan kampanye semasa Perang Korea yang bertujuan untuk melegitimasi keikutsertaan Amerika Serikat dalam Perang Korea yang dituntut bertanggung jawab atas lebih dari jutaan nyawa dan  menjadi tes pertama dari persaingan antar negara adikuasa di negara berkembang. Pola ini berulang di beberapa perang lainnya, seperti konflik di Afrika, Asia, dan Amerika Latin.

1953, penerus Presiden Dwight Eisenhower menunjuk seorang penasihat pribadi untuk perang psikologis ini untuk meningkatkan kemampuan berbicara para penyiar radio VOA yang bertujuan meningkatkan sikap anti-komunis turut melonjak.

VOA mengoperasikan jaringan global di stasiun relay untuk mempropagandakan cara hidup orang Amerika secara ideal kepada pendengar internasional. Pemancar-pemancar ditaruh di dekat zona target mereka.

Di Amerika Serikat, propaganda disebut sebagai bagian  dari komunikasi fasilitatif yang John Martin definisikan sebagai sebuah aktifitas yang diatur untuk membuat jalur hubungan tetap terbuka dan me-maintain  mereka melawan hari di mana propaganda akan dibutuhkan. Press release, seminat, konferensi, pameran, buku, film, program  pertukaran budaya dan belajar, semuanya termasuk bagian dari propaganda.

Radio Free Europe dan Radio Liberty

Beroperasi dari Jerman Barat, RFE dan RL merupakan organisasi tersembunyi yang bertujuan melawan propaganda komunis di Eropa. Program-program yang disiarkan pun bersifat provokatif terhadap pemerintahan komunis, menyiarkan petisi émigré dan kutipan dari buku-buku terlarang.

Selama krisis, RFE mendorong orang-orang Hungaria untuk memberontak melawan penguasa komunis, bahkan menyesatkan  mereka dengan janji akan datangnya delegasi PBB, dalam arti kata kesempatan bagi tentara Amerika untuk mengintervensi, yang mana tidak pernah terwujud sementara tank tentara Soviet mulai menghancurkan pemberontakan.

Uni Soviet dan anggota-anggota lainnya dari Perjanjian Warsawa secara teratur mengganggu sinyal RFE/RL, mencela mereka sebagai radio sabotase dan bagian dari imperialisme elektronik Amerika Serikat (Kashlev, 1984).1988, pemimpin Soviet, Mikhael Gorbachev, mengakhiri jamming yang meng-allow sinyal RFE/RL mencapai audiens luar negeri.

RFE/RL mengatur  22 biro lintas wilayah.Sebagai tambahan, RFE/RL turut aktif dalam dunia internet, dan mengaku mendapatkan lebih dari 5 juta pengunjung di situsnya setiap bulan.

BBC :

BBC’s External Services membanggakan diri mereka sendiri dengan penampilan yang lebih dewasa, menyiarkan berita dari dua belah  pihak. BBC juga mampu mengkritik pemerintahannya sendiri, meskipun secara tidak langsung. Hal ini lah yang membuat BBC terlihat lebih mulia dibandingkan siaran radio lainnya.

BBC memiliki stasiun di Pulau Ascension, Antigua, Cyprus, Oman, Seychelles, Singapura, dan Hong Kong.

Propaganda Perang Dingin di Negara-Negara Periferi

Pihak Uni Soviet menyadari bahwa sejak gerakan anti-kolonial di Asia dan Afrika secara alami mereba , situasi politik was ripe untuk mempromosikan komunisme. Sementara Pihak Barat lebih tertarik untuk terus mengontrol material-material kasar dan mengembangkan potensi pasar untuk produk-produk barat.

Pihak Timur Tengah merupakan target utama siaran negara barat atas dasar kepentingan persediaan  minyak bagi Amerika Serikat.

Pemerintahan Inggris menggunakan BBC pangkalan Cyprus untuk menyiarkan propaganda anti-Egyptian yang mana membuat Presiden Mesir Gamaar Nasser menggunakan radio untuk mempromosikan ide Pan-Arabisme. Para sentiment Pan-Arab ini turut membantu orang-orang radio liberasi Palestina untuk siaran di berbagai negara hingga menghindar dari serangan Israel.

Di Aljazair, FNL (Front National de Liberation) memainkan peran penting dalam perang nasional melawan penguasa kolonial Perancis.

Seiring dengan Revolusi Cina pada 1949, prioritas Amerika Serikat ialah menghentikan penyebaran paham komunis di negara lain di Asia. Pada 1951, CIA mendirikan Radio Free Asia yang berpangkalan di Manila. Selama Perang Vietnam, propaganda Amerika Serikat berusaha meraih level baru yang bertujuan untuk merusak dukungan terhadap komunis dan mendukung Vietnam Selatan. Pesan ini disampaikan melalui menjatuhkan leaflet dan siaran melalui pesawat terbang rendah.

CIA turut menjalankan Voice of the Patriotic Militiamen’s Front di Vietnam Selatan, serta dua operasi anti-Sukarno di Indonesia melalui Voice of Free Indonesia dan Radio Sulawesi.

Di Amerika Latin, selama krisis misil Kuba, Presiden AS John Kennedy meluncurkan kampanye propaganda anti-Castro yang mematikan. Sayangnya propaganda ini tidak berhasil menyingkirkan Castro dari kekuasaan dan kuatir akan keberhasilan Castro akan  meningkatkan sentimen anti-Amerika Serikat di berbagai daerah lainnya di Amerika Latin, Pemerintah Amerika Serikat terpaksa menggunakan propaganda melalui Radio Marti dan TV Marti, yang menurut pemerintah Kuba dianggap sebagai sikap permusuhan karena melanggar kedaulatan Kuba (Alexandre, 1993).

Meskipun Radio Moskow siaran dengan beberapa bahasa Afrika, siaran tersebut kurang efektif dikarenakan kurangnya infrastruktur komunikasi di berbagai negeara di Afrika. Pihak komunis berbagi tugas dalam menjalankan propaganda di Afrika. Uni Soviet investasi transmitter dan memberikan pelatihan di Kamerun, sementara Cinta mendukung siaran di Zambia dan Tanzania. Di bawah Pemerintahan Presiden Julius Nyerere, Radio Tanzania memegang peranan penting dalam perjuangan anti-aparteid. Serangan siaran propaganda juga dilakukan di Angola, di mana AS dan Arika Selatan  melawan UNITA (National Union for the Total Independence of Angola) memberontak menggunakan stasiun radio mereka sendiri yaitu The Voice of the Resistance of the Black Cockerel.

Sementara itu, berkembang perspektif baru di Asia yang menegaskan tidak akan memihak Barat maupun Timur yang dikenal sebagai Gerakan Non Blok. Gerakan ini diprakarsai oleh negara India, Indonesia, dan Mesir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *