Rezeki di Balik Benteng Sampah

BEKASI (18/5/2013) Pak Tri, seorang dosen yang beralih profesi menjadi seorang pengelola biji plastik mengakui bahwa usaha plastik ini sangat menghasilkan untung yang cukup banyak, bahkan melebihi penghasilannya sebagai seorang dosen. Pendapatnya ini pun diteguhkan oleh Mr.X, seorang pengusaha biji plastik yang menjadi atasan Pak Tri. Kedua pria ini agak cemas jikalau pemerintah menetapkan kebijakan untuk mengimpor biji plastik, karena menurut mereka tindakan tersebut dapat mematikan usaha jangka panjang ini.

Sama halnya dengan cara meng-import biji plastik maka hal itu juga mematikan harapan-harapan dari pemulung cilik yang sedang menata masa depan yang lebih baik, karena ladang sampah ini membawa keuntungan yang lumayan banyak untuk para bocah.

Sebut saja nama mereka Linah, Putri dan Fintasia. Ketiga gadis ini melakukan aktivitas sebagai mana anak seumuran mereka, hanya saja mereka dibebankan tugas yang lebih berat, mereka harus membantu orang tua mereka setiap akhir pecan di tempat yang sehari-hari mereka sebut “Bulog”.

“Bulog” merupakan tumpukan sampah yang berbentuk seperti bukit akibat timbunan sampah yang tak terurai-urai. Dalam Tempat Pembuangan Sampah Terpadu sendiri pun terdapat 3 Zona, dan di dalam masing-masing zonanya terdapat setidaknya 5 gunungan sampah.

Dalam gunungan sampah ini lah, Putri dan kedua temannya menemukan barang-barang yang mereka anggap berharga, seperti tempat pensil, krayon, bahkan cincin emas. Suatu kali Putri menemukan cincin emas dan kemudian menjualnya seharga Rp 500.000,00. Bayangkan jika minimal 3 cincin emas yang ia temukan dalam dua minggun berapa banyak uang yang dapat ia hasilkan?

Lain halnya dengan Adi, bocah berumur 14 tahun ini pernah menemukan Handphone Nokia di dalam gunungan sampah tersebut. Tentunya Handphone tersebut ia jual untuk mendapatkan uang jajan sehari-hari. Tapi tak jarang pula ia menemukan barang yang amat berharga seperti berlian.

Ia pun mengaku bahwa ia dapat mengumpulkan dua juta rupiah dalam jangka waktu 2 minggu. Jika kita kalkulasikan dalam hitungan per-bulan, maka ia akan mendapatkan Rp 4.000.000,00. Jumlah yang besar bagi seorang anak kecil berusia 14 tahun. Tak heran Adi, Aji, Erwin, dan anak-anak lainnya betah tinggal di tempat kumuh dan tak layak seperti Bantar Gebang, dibandingkan tinggal di kampung mereka yang asri. Penghasilan mereka melampaui sarjana S1 di Jakarta.

Permasalahannya sekarang, apakah pemerintah menutup mata akan hal tersebut? Anak-anak ini masih di bawah umur, dilindungi oleh undang-undang pelarangan eksploitasi anak. Apakah pemerintah mendapatkan komisi yang besardari setiap hasil kumpulan sampah yang mereka pungut? Hingga mereka tak peduli lagi akan kepolosan anak-anak kecil ini yang masih perlu pengawasan.

Svaradiva Anurdea Devi                                                      12140110081

Nadia Ayesha Mieke Soekarno                                             12140110088

Johanes Baginda Doli Hutabarat                                          12140110091

Ristania Tiara                                                                       12140110098

Sarah Devina                                                                        12140110101

Sofia Chandra                                                                       12140110111

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *