Magister, Semester 1

Representasi Suku Bajou dalam Film Dokumenter Borneo’s Sea – Bajou The Real Water World People (Analisis konstruksi representasi dan stereotipe)

Universitas Indonesia

Magister Manajemen Komunikasi

Svaradiva Devi

Abstrak

Suku Bajou dalam tayangan Borneo’s Sea – Bajou The Real Water World People digambarkan sebagai orang-orang yang hidup di tengah laut lepas, dan hampir tidak pernah menginjak daratan. Representasi perempuan dan laki-laki suku Bajou ditampilkan mengikuti tatanan hidup masyarakat dominan. Perempuan suku Bajou ditampilkan bekerja mengurus rumah tangga dan anak, sementara laki-laki suku Bajou ditampilkan menyelam dan berburu. Kesamaan waktu antara suku Bajou dan masyarakat dominan pun digambarkan dengan menampilkan kegiatan suku Bajou dilakukan hanya di pagi hingga petang hari. Tak satupun kegiatan suku Bajou di malam hari ditampilkan dalam dokumenter tersebut. Pembuat film dokumenter masih membawa nilai, kebiasaan, atau pandangan yang dianut dari pekerjanya dalam mengkonstruksi realitas dalam film tersebut, dan tak sepenuhnya menampilkan realitas dalam pandangan suku Bajou.

Kata Kunci: Bajou, Representasi, Stereotype, Gender, Narasi

Pendahuluan

Dalam tayangan Borneo’s Sea – Bajou The Real Water World People disebutkan bahwa orang-orang suku Bajou yang hidup di antara Pulau Kalimantan dan Filipina hidup benar-benar di tengah laut. Mereka memiliki kemampuan luar biasa, utamanya dalam hal penglihatan dan pernafasan.

Rumah-rumah mereka berdiri di tengah laut, dan hidupnya sehari-hari di atas kapal. Kegiatan seperti mencuci, mencari makan, dan menggendong bayi dilakukan di kapal yang tengah melaut atau di rumah atas laut mereka.

Anak-anak kecilnya digambarkan berkulit coklat. Mereka mampu berenang sedari usia dini. Seorang ibu dari suku Bajou diwawancara dan berkata hampir seluruh hidupnya dihabiskan di laut, jarang sekali berjalan di daratan.

Ada pula sesi khusus yang menyorot kemampuan seorang lelaki dewasa suku Bajou mampu menahan nafas dan berenang sedalam 20 meter tanpa alat bantu apapun kecuali kacamata yang mirip kacamata renang biasa.

Dari sini, muncul stereotip dan archetip bahwa semua anggota suku Bajou hidup di atas laut. Semua tubuh anggota suku bajou memiliki kemampuan bertahan hidup yang luar biasa. Semua anggota suku Bajou, khususnya yang lelaki dewasa, mampu menyelam dan berburu di dasar laut.

Sayangnya, dalam tayangan tersebut, rata-rata hanya masyarakat laki-laki suku Bajou yang digambarkan bisa berenang. Mulai dari kemampuan menyelam lelaki suku Bajou dewasa, hingga anak kecil laki-laki yang berenang-renang di laut.

Kedua orang dewasa dari suku Bajou tadi dianggap mampu merepresentasikan Bajou secara keseluruhan. Tapi apakah semua anggota suku Bajou memiliki kemampuan yang sama? Benarkah hanya lelakinya saja yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menyelam dan berburu di dasar laut?

Untuk melihat bagaimana representasi suku Bajou dikonstruksi, dapat digunakan narasi, plot, semiotika, dan retorika. Semiotika dan retorika digunakan untuk membedah teks-teks media, sementara genre dan narasi digunakan untuk mengetahui cara konstruksi media. Maka penulis akan menggunakan genre dan narasi dalam membedah konstruksi representasi Bajou.

Landasan Teori

Representasi

Menurut Long dan Wall (2013), representasi dapat diartikan menjadi tiga hal:

  1. ‘Setara’ atau ‘sesuai/cocok dengan’. Mirip dengan pemaknaan ‘tanda’. Relevan dengan hubungan simbolik antara suatu simbol dan pemaknaannya.
  1. Representasi juga dapat diartikan sebagai sesuatu atau seseorang bertindak sebagai perwakilan atau pengganti atas sesuatu atau orang lain.

Hal menarik dari aspek ini adalah dalam demokrasi sering kali kita diwakili oleh seseorang yang tidak kita pilih. Maka dari itu amat memungkinkan representasi rakyat kita bertindak atas nama rakyat (kita) namun ideologi dan kualitas tindakannya tidak kita sukai atau setujui.

Media massa seperti TV, koran, media daring juga acap kali berbicara atas nama pembacanya. Sering kali mengklaim sebagai “suara rakyat” atau pelayan masyarakat. Paradoks.

  1. Pemaknaan lebih dalam terkait representasi ialah benda atau individu sering kali dianggap melambangkan atau contoh dari suatu kualitas tertentu. Representasi dapat diartikan sebagai simboilisasi, mewaikili sesuatu, menjadi spesimen atau pewakilan atas sesuatu. Untuk merepresentasikan sesuatu berarti menjadi deskripsi atau gambaran atas hal tersebut, mengingatnya sebagai bayangan atau imaginasi atas sesuatu.

Kenapa media bisa membentuk representasi? Karena media merupakan “alat” untuk menyebarkan pesan. Selain itu, media massa juga mempunyai peluang yang sangat besar untuk mempengaruhi makna dan gambaran yang dihasilkan dari realitas yang dikonstruksinya (Sobur, 2004:89)

Permasalahannya, seberapa akurat info tersebut? Seberapa tercerahkannya kita dalam era media dan informasi yang ‘berlebihan’ ini? Seberapa kritis kita ketika menerima info? Siapa yang bertanggung jawab akan kebenaran info tersebut?

Representasi media merupakan permasalahan yang dapat dijawab, salah satunya dengan menelisik retorika medianya (pilihan kata, edit info, sudut pandang, cara penyajian, dsb), narasi di media (bagaimana urutan tampilan info, cerita), dan tanda atau penandaan di media yang kita telisik dengan semiologi.

Gender and Representation

Gender biasanya mengacu pada perbedaan antara feminin dan maskulin. Menurut Judith Butler, gender tidak bersifat tetap atau bawaan dari lahir. Gender adalah pembedaan peran perempuan dan laki-laki di mana yang membentuknya adalah konstruksi sosial dan kebudayaan. Maka gender dibentuk atas pemahaman yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.

Teks pada media massa di seluruh dunia didominasi oleh gambar dengan ideologi yang menegaskan ‘feminitas’ dan ‘maskulinitas’: bagaimana laki-laki dan perempuan diharapkan untuk terlihat dan berperilaku. Dimana feminin biasanya digambarkan sebagai contoh yang lemah lembut, keibuan, lemah, anggun, berhati-hati dan lain-lain. Sedangkan maskulin biasanya di digambarkan dengan sosok yang dominan, kuat, tagguh, berwibawa, dapat diandalkan, dan lain-lain.

Tampilan gender yang kita lihat di media diterima sebagai sesuatu yang ‘natural’ atau terjadi dengan apa adanya di masyarakat sosial karena sudah terbiasa. Para produser media pun mungkin tidak sadar bahwa secara langsung mereka melakukan penekanan terus menerus pada gagasan pembedaan maskulin dan feminin ini. Sehingga apa yang mereka lakukan sebenarnya keterbalikan dari pemikiran sosial, bahwa gender ada secara ‘natural’. Representasi dari laki-laki dan perempuan, nilai serta harapan akan maskulin dan feminin di segala bentuk media, menandakan bahwa gagasan-gagasan tersebut tidak tetap dan terus berubah mengikuti perkembangan jaman.

Stereotype

Seiring perkembangan media dan teknologi, sebagian besar informasi dan pengetahuan yang diperoleh masyarakat berasal dari konten-konten yang ditampilkan media. Meskipun tiap bentuk media memiliki retorika dan bahasa yang memposisikan masyarakat sebagai penonton atas tujuan hiburan yang ditawarkan media, namun untuk dapat menampilkan tayangan yang menarik dan dekat bagi penonton, media tidak dapat mengabaikan adanya konteks sosial, kultur budaya, politis dan historis yang ikut direkonstruksikan.

Media sendiri disadari merupakan rekonstruksi yang diciptakan dan dimanipulasi sesuai dengan adanya kepentingan atau maksud tertentu dari pihak penyedia media seperti stasiun tv diwakili oleh penulis konten, produser, sutradara dan orang-orang yang bekerja untuk membangun dan mengarahkan konten media yang hendak dipublikasikan.

Dalam menggambarkan individu dari apa yang ditampilkan oleh dirinya bukan dari keunikan diri yang dimiliki. Stereotipe dapat didasari dari persepsi yang muncul dari representasi yang dibentuk seseorang atas penampilan, perilaku dan keyakinan yang ditampilkannya terlepas apakah itu sesuai dengan jati dirinya atau pun tidak. Stereotipe seringkali disebut juga sebagai pelabelan, karena fokus dari stereotype adalah apa yang ditampilkan dari luar tanpa melihat keunikan dan kompleksitas isi yang sesungguhnya ada di dalamnya. Stereotipe seringkali berkaitan dengan asumsi umum dan memiliki arti sempit dari hal yang direpresentasikan.

Stereotipe biasanya dilakukan untuk menggambarkan kaum minoritas yang memiliki ciri khas atau keunikan tertentu dan terkadang dianggap mencolok dan kurang memiliki pengaruh sosial dibanding kaum mayoritas yang biasanya memiliki keseragaman dan ciri perilaku pada umumnya, seperti merujuk pada suku/etnis di Indonesia: Tionghoa, Batak,dll. Terlepas dari adanya unsur kebenaran dan realita yang seharusnya diperhatikan dalam representasi media, pelabelan/stereotipe sulit untuk dihindari karena di sisi lain mempermudah informasi diserap dan diingat oleh penonton.  

Penggunaan stereotip ras dan sexist dalam bentuk media seringkali dijumpai di Indonesia pada acara komedi, drama, film maupun sebagai alat periklanan.

Film Cek Toko Sebelah, adalah salah satu film yang dengan jelas ingin membawa topik stereotipe etnis tionghoa yang ada di Indonesia. Gambaran keluarga Tionghoa yang umumnya berdagang kelontong, dengan harapan ketika anaknya beranjak dewasa (meskipun disekolahkan tinggi hingga ke luar negeri) dapat meneruskan usaha tersebut secara turun temurun diperankan oleh Ernest sebagai Erwin. Dikisahkan pula ciri Orang Tionghoa yang teliti dan perhitungan, dengan logat khas yang ditampilkan sang ayah. Selain itu, stereotipe lain yang muncul adalah ketika kekasih Erwin menolak keputusan Erwin untuk meninggalkan karir nya demi menjaga toko ayahnya dengan anggapan bekerja kantoran memiliki persepsi masa depan yang lebih cerah.

Genre

Genre berasal dari bahasa Perancis yang berarti tipe, kategori, atau jenis. Juga mengakar dari kata-kata lain di bahasa Inggris seperti gene, genotype, dan gens (kata Romawi untuk kelompok keluarga yang memiliki leluhur yang sama).

Genre dapat diasumsikan sebagai sistem penandaan berdasarkan sekumpulan kode dan kebiasaan yang bersama-sama digunakan oleh produser maupun audiens suatu teks/seni/karya cipta.

Ketika kita mempelajari kategorisasi atau jenis teks, kita membaginya menjadi genre studi atau kritik. Genre kritik dalam bidang studi kita berasumsi bahwa seni dalam medium apapun -misal televisi- dengan berbagai cara, dan menggunakan serangkaian terminologi (termasuk retorik, estetik dan semiologi) dan dari pekerja media itu sendiri.

Genre itu dinamis. Mereka dapat dikenali melalu elemen-elemen yang selalu ada dalam genre tersebut. Misal, genre serial polisi seperti CSI, Law and Order, dan Morse. Mereka punya beberapa elemen yang sama: polisi menjadi pemeran utama, terdapat kasus/kejahatan yang harus dipecahkan, terdapat korban. Dinamis karena kisahnya berbeda-beda namun tetap dalam tematik yang sama.

Hibriditas Genre. Dokumenter kini dibagi menjadi beberapa subgenre seperti sejarah, biografi, travel, wildlife, dsb). Toko-toko musik dan seni kini membagi konten mereka berdasar koran, majalah, buku komik, dst. Sementara ritel daring seperti Amazon dan Netflix menggunakan perangkat lunak untuk menjelaskan pilihan pembayaran dan rekomendasi barang ke konsumer.

Perubahan dinamis dan hibriditas tidak selalu menjadi solusi dalam perkembangan genre. Genre yang sepenuhnya baru bisa muncul dalam berbagai jenis media, guna memberikan sesuatu yang “baru dan menyenangkan” untuk audiens. Meski ada kemungkinan gagal menarik audiens dikarenakan kurang populer.

Genre dalam konteks produksi dan konsumsi

Genre dan produser tak dapat dipisahkan. Audiens memiliki “ekspektasi” terkait hal tersebut. Misal, ketika mendengar atau membayangkan film Marvel, audiens akan berekspektasi “Pasti diproduseri Kevin Feige, atau Stan Lee.” Begitu pula ketika mendengar nama “Kevin Feige” kita akan berekspektasi ia pasti meluncurkan film Marvel.

Naratif

Naratif dapat diartikan sebagai penyusunan elemen tekstual ke dalam pola dalam konteks ruang, waktu dan sudut pandang/perspektif. Naratif mendorong untuk membaca bagian teks sebagai peristiwa yang terbentuk sebagai akibat dari peristiwa lainnya (kausalitas).

Pada umumnya masyarakat luas memiliki pemahaman naratif yang berasal dari persepsi sosial dan individual tentang waktu (bangun tidur ketika hari sudah terang, tidur ketika hari sudah gelap) dikaitkan juga dengan berbagai cerita yang disampaikan sedari kecil. Saat masih kecil, anak-anak seringkali mengarang cerita dari khayalannya sendiri namun sudah disadari bahwa dalam suatu cerita harus memiliki awalan/pengantar, isi cerita dan akhir cerita, kesadaran akan hal tersebut menjadi dasar memahami struktur naratif.

Fabula

Fabula dapat diartikan sebagai cerita. Fabula merupakan pola yang diciptakan penonton film melalui asumsi dan dugaan, fabula tidak dapat dilihat di layar film atau didengar dari soundtrack film. Film sangat bergantung pada kode dan kesepakatan bersama untuk menarasikan informasi pada suatu cerita, dan sebagai penonton kita dapat memahaminya karena pembuat film dapat menarik suatu kesamaan yang spesifik tentang bagaimana memahami dunia. Dapat disimpulkan, ketika dihadapkan dengan suatu cerita dari koran, berita yang didengar dari radio, atau film kita sebagai penonton sudah memiliki konsep awal yang direpresentasikan sendiri dan dibawa ke dalam teks.

Syuzhet

Syuzhet merupakan susunan dan presentasi nebula di dalam film, sebagai sebuah sistem yang menyusun elemen-elemen, cerita atas kumpulan peristiwa, sesuai dengan prinsip-prinsip tertentu.  Konsep syuzhet berguna untuk memungkinkan kita menganalisa elemen-elemen pada bentuk media seperti film, yang disusun oleh konsumen ke dalam suatu cerita.

Terdapat tiga prinsip yang menghubungkan antara syuzhet (plot) pada fabula (cerita):

1. Naratif Logis

Plot pada film seringkali lebih kompleks dari cerita yang dikonstruksikan oleh penonton, sebagai upaya membuat film menarik dan tidak mudah ditebak.

2. Waktu

Plot dapat memungkinkan penkonstruksian peristiwa dimunculkan pada rentang waktu mana pun (dalam durasi jam, tahun bahkan dekade). Dengan narastif logis, representasi waktu dapat digunakan untuk mendukung atau justru menghambat dan menimbulkan kebingungan pada konstruksi cerita.

3. Ruang

Untuk dapat menkonstruksi cerita sebagai penonton kita butuh adanya rasa keterlibatan pada peristiwa atau kondisi yang disampaikan dalam film. Terkadang hal tersebut secara tidak sengaja timbul karena adanya pemahaman atau kesamaan peristiwa yang pernah dialami penonton atau kreativitas tim pembuat film yang mampu membuat peristiwa dalam film seolah nyata dan mengajak penonton “hadir” di dalamnya.

Pembahasan

Representasi

Dalam tayangan Borneo’s Sea – Bajou The Real Water World People, satu laki-laki dewasa dan satu perempuan dewasa dianggap sebagai perwakilan atas suku Bajou. Mereka juga dianggap mewakili kualitas anggota suku Bajou, yakni hidup di tengah laut lepas, jarang menginjak daratan, dan memiliki kemampuan menyelam yang di atas rata-rata manusia biasa.

Sudut pandang yang digunakan dalam tayangan tersebut adalah sudut pandang orang ketiga dan masyarakat dominan, bukan sudut pandang suku Bajou. Dalam tayangan tersebut, tinggal di atas laut adalah hal biasa. Ditegaskan pula dengan pilihan kalimat dari wawancara yang ditampilkan bahwa si perempuan lahir di atas laut dan hampir selalu berada di atas laut.


Narasi yang digunakan pun mendukung anggapan akan kualitas suku Bajou. Di awal tayangan, digambarkan rumah-rumah yang berdiri di atas laut lepas.

Kemudian digambarkan perempuan suku Bajou mengasuh bayinya di air laut.

Bahkan anak kecil pun digambarkan mengajak adiknya bermain di laut.

Semua ini dilakukan untuk mengemas konstruksi bahwa suku Bajou terbiasa hidup di laut dari lahir.

Dari sini, barulah fokus cerita terbagi pada dua tokoh utama, yakni si perempuan dan si laki-laki.

Teks pada media massa di seluruh dunia didominasi oleh gambar dengan ideologi yang menegaskan ‘feminitas’ dan ‘maskulinitas’: bagaimana laki-laki dan perempuan diharapkan untuk terlihat dan berperilaku. Dimana feminin biasanya digambarkan sebagai contoh yang lemah lembut, keibuan, lemah, anggun, berhati-hati dan lain-lain. Sedangkan maskulin biasanya di digambarkan dengan sosok yang dominan, kuat, tagguh, berwibawa, dapat diandalkan, dan lain-lain.

Di tayangan ini, digambarkan bahwa laki-laki suku Bajou amat maskulin. Mampu berburu di dasar laut hanya dengan tombak dan kacamata renang. Mereka berburu guna memenuhi kebutuhan pangan keluarganya. Sementara perempuan suku Bajou digambarkan kerjanya mencuci dan mengurus anak.

Menurut Long dan Wall, produser media mungkin tidak sadar melakukan pembedaan maskulin dan feminin. Begitu pula yang terjadi dalam tayangan ini. Para pembuat dokumenter tersebut tanpa disadari membawa pandangan “lumrah” terkait feminim maskulin dalam kehidupan sehari-hari mereka dan menggabungkannya dengan secuil atau sepenggal aktifitas warga suku Bajou.

Stereotipe

Stereotipe yang muncul atas representasi suku Bajou di tayangan tersebut adalah suku Bajou selalu hidup di atas laut. Laki-lakinya berburu, perempuannya mengurus anak dan mencuci.

Memang stereotipe mempermudah informasi diserap dan diingat penonton, namun fokus stereotip hanya pada apa yang ditampilkan di luar tanpa melihat keuniikan dan kompleksitasnya. Stereotipe seringkali memiliki arti sempit dari hal yang direpresentasikan.

Dalam tayangan Borneo’s Sea – Bajou, tak satupun ditampilkan kegiatan belajar anggota sukunya. Baik belajar dalam memiliki kemampuan khusus yakni menyelam dan berburu di dasar laut, ataupun belajar dalam pandangan masyarakat dominan yakni membuka buku, belajar membaca dan menghitung. Hal ini memunculkan anggapan bahwa semua anggota suku Bajou terlahir langsung dengan kemampuan khusus.  

Genre

Tayangan Borneo’s Sea – Bajou The Real Water World People bergenre dokumenter. Dan dikarenakan adanya hibriditas Genre guna menarik penonton, dokumenter tersebut subgenrenya adalah wildlife.

Genre dan produser tak dapat dipisahkan. Audiens memiliki “ekspektasi” terkait hal tersebut. Ketika membayangkan dokumenter wildlife, penonton langsung berasumsi

orang atau kegiatan yang disorot amat ekstrim. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan menyelam dan berburu yang secara fokus disorot dan memakan waktu hampir ⅓ tayangan tersebut.

Syuzhet (plot) dan Fabula (cerita)

1. Naratif Logis

Dari sudut pandang masyarakat dominan, tayangan dokumenter ini melihat bahwa dalam kehidupan “normal” masyarakat global, ternyata ada sebuah suku yang hidup hampir sepenuhnya di atas laut tanpa menginjak daratan. Penonton diajak mengetahui kegiatan sehari-hari suku Bajou yang amat berbeda dan tidak masuk di akal masyarakat dominan. Tentunya ditunjukkan dengan gambar yang menekankan realitas kehidupan di laut masyarakat Bajou dan kalimat-kalimat yang dilontarkan dalam wawancara dengan suku Bajou.

2. Waktu

Suku Bajou direpresentasikan mengikuti jam kerja dalam tatanan masyarakat dominan, di mana pagi hingga petang hari digunakan untuk bekerja. Bekerja dalam pandangan masyarakat Bajou antara lain direpresentasikan dengan berburu, mengurus anak, dan mencuci baju.

Tak ada satupun kegiatan malam hari suku Bajou yang ditampilkan dalam dokumenter tersebut.

3. Ruang

Dengan adanya kesamaan waktu antara suku Bajou dan masyarakat dominan, kesamaan ruang (bangunan rumah sebagai tempat tinggal, perahu sebagai tempat bekerja) pun dibangun menurut konstruksi masyarakat dominan. Hal ini guna mempermudah penonton mencerna kegiatan suku Bajou yang ditampilkan.

Diskusi

Film dokumenter tak pernah sepenuhnya lepas dari subjektifitas pembuatnya. Representasi dan stereotipe yang dikonstruksi dalam dokumenter sering kali dibuat berdasar pandangan, nilai, atau kebiasaan pembuatnya. Pandangan pembuat dokumenter akan maskulin dan feminin, gender role, kesamaan waktu dan ruang tanpa disadari masuk dalam tayangan dokumenter yang dibuatnya. Bahayanya, asumsi masyarakat global secara luas percaya bahwa dokumenter menampilkan tayangan apa adanya. Inilah gunanya studi akan representasi dan stereotipe media terus dilakukan, guna mematahkan asumsi bahwa dokumenter selalu menyatakan kebenaran.

Daftar Pustaka

Long dan Wall, 2013. Media Studies: Texts, Production, Context 2nd Edition.
Borneo’s Sea – Bajou The Real Water World Peoplehttps://www.dailymotion.com/video/x31tl9y diakses pada 27 Desember 2018.

You may also like...

1 Comment

  1. wah makasih referensinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *