Rangkuman Sejarah “TEMPO” dalam Buku Dapur Media

Habis Gelap Terbitlah Terang

Latar Belakang:

Goenawan Muhammad, wartawan di Harian Kami, baru pulang dari studi lanjut di Brugges, Belgia.

Fikri Jufri, mahasiswa yang ingin menjadi Ekonom, namun bekerja untuk harian Pedoman.

1969, Goenawan dkk. menerbitkan majalah Ekspres yang dibiayai Burhanudin Muhamad Diah, pemilik harian Merdeka. Goenawan jadi pemimpin redaksi Ekspres.

Belum genap setahun, terjadi dualisme kepemimpinan di Persatuan Wartawan Indonesia. B.M. Diah ditunjuk Ali Moertopo menjadi ketua PWI untuk mengontrol wartawan, sedangkan PWI memilih Rosihan Anwar dari Pedoman sebagai ketua.

Ekspres sebenarnya tidak terlibat, namun waktu itu Goenawan nmembuat pernyataan bahwa ia tidak mendukung keputusan Moertopo. Ia pun dipecat oleh B.M. Diah, teman-temannya pun turut hengkang dari Ekspres.

Pendirian

Tekad untuk memiliki majalah sendiri muncul karena keinginan untuk menampung teman-teman yang turut hengkang dari Ekspres, ingin mempunyai majalah di mana modal dari luar tidak mendikte, serta mengembangkan kebebasan Pers.

Lukman Setiawan, wartawan olahraga Kompas memberitahu Goenawan bahwa Ciputra (pendiri Yayasan Jaya Raya dan dirut PT Pembangunan Jaya) ingin bertemu. Harjoko Trisnadi dari majalah Djaya juga diundang bertemu.  Ketika mereka bertiga bertemu, Ciputra menyarankan agar Djaya digabungkan saja dengan majalah yang sedang direncanakan.

Majalah Djaya merupakan majalah yang berafiliasi pada pemda DKI Jakarta, di mana sebagian besar alumni Star Weekly bergabung.

Pada saat itu, Bur bercerita bahwa ada peraturan yang mengharuskan sebuah penerbitan mempunyai SIT (Surat Izin Terbit), padahal SIT hanya dapat diperoleh jika ada rekomendasi dari PWI, sedangkan PWI dikuasai kelompok B.M. Diah. PWI cabang Jakarta pun dipimpin oleh Marzuki Arifin yang pernah terlibat sengketa dengan kelompok Goenawan dalam Ekspres.

Akhirnya diputuskan bahwa Bur yang mengurus SIT. Ia pun mendatangi Menteri Penerangan , Budiardjo, namun beliau hanya dapat memberikan izin asal mendapat rekomendasi dari  PWI Pusat dan PWI Jaya (Jakarta Raya). Bur pun langsung mendatangi Marzuki Arifin yang lansung menolak begitu mendengar nama Goenawan. Tetapi Bur tak kehilangan akal. Surat rekomendasi ternyata sah jika ditandatangani salah satu jajaran ketua PWI. Ia meminta tandatangan seorang temannya yang menjadi salah satu wakil ketua PWI Jakarta.

Ketika Bur datang ke Departemen Penerangan, Anwar Luthan, sekretaris jenderal Pers dan Grafika sudah menyiapkan surat izinnya. Akhirnya terbentuk lah majalah Tempo yang tentunya dimodali oleh Yayasan Jaya Raya, sehingga orang dari PT Pembangunan Jaya yang bernama Eric Samola lah yang ditugaskan mengelola Tempo.

Berikut jajaran direksi nya:

Ketua Dewan Direksi          : Goenawan Mohamad

Wakil Ketua                        : Bur Rasuanto

Redaktur Pelaksana          : Usamah

Dewan Direksi                    : Christianto Wibisono, Fikri Djufri, Hardjoko Trisnadi, Isma Sawitri, Lukman

Setiawan, Putu Wijaya, Sju’bah Asa, Toeti Kakiilatu, dan Zen Umar Purba.

Alasan memilih nama Tempo :

  1. Singkat dan Bersahaja
  2. Netral
  3. Bukan symbol suatu golongan
  4. Arti “Tempo” sederhana, yaitu waktu.

Laporan utama Tempo nomor perkenalan waktu itu berjudul “Bunyi ‘Kraak’ Dalam Tragedi Minarni”. Judul ini dibicarakan di mana-mana di Jakarta karena tak lazim sehingga menimbulkan minat baca.

AWAL MENDIRIKAN

Zainal Abidin, bagian sirkulasi Tempo, awalnya mengacung-acungkan majalah tersebut di jalanan, dibagikan dengan gratis, tetapi orang malah bersungut-sungut dan mengucapkan kata-kata yang ‘makan hati’. Perlahan Tempo dapat merebut hati pembaca. Edisi pertama laku 10.000 eksemplar, edisi kedua terjual 15.000 eksemplar.

1974, PT Grafiti Pers yang merupakan kolaborasi antara PT Pikatan (perusahaan kertas) dan Yayasan Jaya Raya didirikan dengan maksud agar karyawan mempunyai cukup kekuasaan dalam perusahaan agar tak diberhentikan begitu saja.

Begitu majalah Tempo berkembang , mulai ada perbedaan pendapat. Konflik pertama muncul karena persoalan saham. Konflik bermula dari keengganan para direksi Tempo untuk berbagi saham. Menurut Goenawan, sebaiknya selain para direksi tidak usah memiliki saham, yang penting mendapat keuntungan. Sedangkan menurut Salim, ini bukan soal keuntungan, tapi semacam rasa memiliki.

KETIKA EDISI KETIGA TERBIT

Seorang mahasiswa Universitas Padjajaran menulis surat yang mengatakan bahwa Tempo dalam segalanya meniru Time.

Persoalan internal

1978, Bur berniat membentuk majalah baru Obor.

Meski Tempo menjadi salah satu surat kabar yang merajai Indonesia pada era 90-an,  Nasib pahit juga dialami saat Tempo melanggar kode etik”pers bebas dan bertanggung jawab” yang pada akhirnya menterti penerangan Indonesia Ali Moertoyo menegeluarkan surat keputusan untuk Tempo pada 12 April 1982.

Akibat penertiban yang diberikan untuk Tempo, dampaknya sementara waktu Tempo menghilang sementara dari pasar, namun  tak berarti kesempatan terbit lagi tertutup karena surat keputusan tersebut hanya membekukan saja. Kemudian dilakukan proses negosiasi atau lobi untuk mendapatkan izin terbit kembali atas dasar mau dibina pemerintah dan pernyataan maaf atas kesalahan yang dibuat. Pada saatnya pada tanggal 7 juni 1982 Tempo kembali mendapatkan izizn terbit. Seiring berjalan waktu Tempo mendapatkan guncangan lagi setelah 5 tahun berjalan kembali, pada juli1987 majalah terbesar di asean ini mendapatkan guncangan setelah beberapa rang yang juga karyawan tempo mendatangi gedung Tempo dengan permasalahan karyawan-karyawannya mengalami perpecahan sehingga memaksa mereka ingin keluar dari perusahaan majalah besar itu. Berita inipun menjadi santapan hangat media lokal ibukota saat itu.

Pada 1984 Kinerja Tempo mengalami masa-masa terbaiknya saat itu dengan mencetak 103.700 eksemplar perpekannya. Namun hal tersebut tidak memastikan kesejahteraankaryawan solid. Keuntungan tersebut hanya dinikmati segelintir individu saja. Rasa keadilan yang terusik ini melahirkan kesimpulan bahwa sebagai manusia mereka tak dipandang sebagai aset perusahaan yang profesional. Tempo berusaha mengubah organisasi dan managemen untuk membalikkan keadaan berbentuk paguyuban jadi patembayan. Contohnya leinginan bertemu dengan pimpinan seperti Goenawan yang saat itu menjadi salah satu pimpinan tertinggi tempo. Untuk berbicara sepatah kata saja harus ijin dengan sekretaris.namun perubahan sistem manajemen lebih dipermudah tidak hanya jabatan selevel saja yang bisa dengan mudah bertemu namun bawahan juga. Upaya ini dilakukan untuk mensolidkan kembali struktur organisasi di Tempo

Memang tidak mudah melakukan sebuah perubahan, meski tuduhan-tuduhan masih ada terhadap pimpinan Tempo. Goenawan mengahadipnya dengan kepala dingin. Goenawan pun membantah setiap tuduhan yng dilontarkan pada Tempo oleh karyawan yang mengatak bahwa Tempo melantarkan nasib karyawan-karyawannya, khususnya koresponden di daerah. “saya selalu memperbaiki masalah di daerah, jadi itu bukan masalah serius kok”.ujar Goenawan.  Sehingga pada 1994. Wakil direktur Tempo Mastoem berpisah dengan tempo dan mendirikan majalah baru”Gatra”. Mastoem menyebutkan bahwa Semakin lama perusahaan berdiri maka semakin banyak jenderal yang memimpin, sehingga memaksa karir jenderal yang sudah lama memimpin mentok dan stag. Adanya unsur suap dari pihak luar untuk mengambil alih jabatan untuk pindah ke level yang lain seperti editor, memaksanya tetap konsisten dan keluar.

Persaingan pun jadi, niscaya yang ternyata menjurus pada hal-hal yang kurang patut. Isu yang mengatakan bahwa editor tidak dijual karena didudukin orang, ada agen tidak boleh jualan editor, dan itu tidak pernah ada. Dalam mengantisipasi munculnya editor-editor itu, Tempo melakukan pendekatan secara intensif bukan untuk menjegal peredaran editor tapidiskusi menumbuhkan rasa saling pengertian. Peningkatan promosi daan pemasangan iklan dimana-mana.

Setelah masalah eksodus yang diikuti editor usai, muncul masalah baru yaitu Salim, salah satu seniman cum Tempo yang sudah bersama Tempo sejak perintisan yang mengaku kecewa terhadap pimpinan Tempo Goenawan yang banyak mengingkari janjinya. Salim pergi ke Amerika untuk studi, dan Goenawan menjanjikan kepadanya saat sepulangnya Ia akan diberikan jabatan baru yang lebih tinggi namun saat pulang dari Amerika justru Salim diperintahkan memulai karirnya dari awal lagi atau dari bawah. Munculnya jenderal- jenderal baru membuatnya juga serupa dengan wakil direktur tempo sebelumnya untuk keluar dari Tempo dan bekerja pada Salemba.  Hal ini merusak hubungan antara Goenawan dengan Salim yang dulunya baik sekali menjadi tidak baik saat itu.

Adanya isu-isu baru yang mengatakan bahwa naik pangkat disebabkan karena agama. Salah satu orang yang ikut melontarkan isu agama itu adalah Zaim Bachri  Sehingga memunculkan banyak pesaing dari luar yang menawarkan gaji lebih tinggi untuk keluar dari Tempo dan mengikuti perusahaan peminangnya. Salah satunya Agung Firmansyah yang keluar dan bergabung dengan Prospek. Eksodus ini terjadi pada tahun 1990-an.

Pembredelan

Ketika kekuasaan rezim Orde Baru semakin berkibar,konsolidasi kekuasaan yang otoriter itu makin tidak terlawankan.  Oportunisme dan avonturisme jadi nabi baru dalam meraih prestise. Tempo berkiprah menorehkan peran ketika berada didalam arena kejujuran dekat – dekat dengan kebodohan dan kepintaran dekat – dekt dengan kelicikan.

Pada Juni  1994, majalah berita paling bergengsi ini di bredel pemerintahan Soeharto. Seperti Tempo, Editor, dan Detik juga dibredel.  Pembredelan  dilakukan setelah Tempo menurunkan laporan utama tentang pembelian kapal perang eks Jerman Timur.

Teori kedua, Pembredelan itu akibat konflik internal dalam rezim Soeharto. Majalah yang dibredel ini, karena pendirinya dianggap terlalu dekat dengan Jenderal Benny Moerdani, salahh satu pendukung awal Soeharto yang pension sebagai panglima militer Indonesia pada 1994.

Lima hari Tempo di bredel, pada 26 Juni 1994 mengadakan perkumpulan seperti  diceritakan Djojohadikusumo menawarkan Tempo untuk terbit lagi dengan beberapa syarat.

Perjuangan Meruntuhkan Kediktatoran Soeharto

Menjelang PEMILU 1997, rezim Soeharto menganggap Megawati Soekarnoputri sebagai gangguan utama. Soeharto menyingkirkan Megawati dari kursi nomor satu PDI dengan cara tak merestuinya, dan lebih mengakui Soerjadi, pesaing Megawati.

Kemudian terjadilah peristiwa 27 Juli 1996. Pemerintah Orde Baru mencari kambing hitam. Propaganda ditebar bahwa peristiwa kerusuhan Juli 1996 itu terjadi karena perilaku “setan gundul” atau “organisasi tanpa bentuk” atau Partai Rakyat Demokratik.

Para wartawan muda dari AJI, termasuk awak Tempo yang tersisa, merekam gerakan rakyat yang menentang kekuasaan Soeharto. Para wartawan ini dapat meliput karena membuat Tempo Interaktif meskipun majalah Tempo dibredel. Pada 21 Mei 1998, Soeharto akhirnya membacakan pidato pengunduran diri.

 

Kebebasan- Kata yang Mahal Harganya

Wakil Presiden B.J. Habibie, yang otomatis menggantikan Soeharto, membuka keran demokrasi dan mengizinkan penerbitan kembali Tempo. Minggu, 4 Oktober 2001, lewat PT Arsa Raya Perdana, mereka mengadakan jumpa pers. Dalam nomor perkenalan itu. Nama Goenawan Mohamad muncul sebagai pemimpin redaksi. Bambang Harymurti wakil pemimpin redaksi dan Zulkifly Lubis sebagai pemimpin perusahaan.

Perubahan

Belum genap setahun membenahi penampilan, Tempo mengadakan serah terima jabatan pemimpin redaksi. Goenawan Mohamad, sosok yang selama 30 tahun menjadi kepala redaksi dan bahkan icon Tempo, menyerahkan jabatannya kepada Bambang Harymurti.

Ada beberapa alasan. Pertama, pemimpin redaksi sebaiknya dari kalangan muda. Posisi tersebut menuntut kerja keras, ketekunan, kegesitan, dan keberanian mengambil resiko. Orang muda selalu diceritakan dengan ideal itu. Kedua, Harymurti dinilai sebagai orang yang sukses ketika diserahi tugas sebagai pemimpin. Ketiga, deengan mundur dari jabatan pemimpin redaksi, ia mau mencontohkan bahwa budaya mundur bukan hal yang jelek.

Bambang Harymurti memberi ancar-ancar bahwa perbandingan antara gaji terendah dengan gaji tertinggi adalah 1 berbanding 7. Perbedaan wartawan Jakarta koresponden daerah juga menyangkut masalah karir. Hasan menjelaskan bahwa karena status mereka bukan karyawan, maka hubungan kerja lebih berdasar pada berita atau laporan yang ditugaskan lalu dibayar jika dimuat. Sementara wartawan di Jakarta selalu mendapat beasiswa untuk mengikuti pendidikan, kursus, atau penataran, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Jika mau berkualitas ya mengikuti pelatihan dasar di luar Tempo, entah di AJI (Aliansi Jurnalis Independen) atau aktif di lembaga swadaya masyarakat.

 

KETIKA MEDIA SUDAH JADI INDUSTRI

Redaksi dan bisnis ibarat dua sisi dari satu keping mata uang. Berbeda tapi tak dapat dipisahkan.

Leonardi Kusen menjelaskan bahwa perkembangan bisnis Tempo sangat prospektif. Dalam dua tahun terakhir, riset Survey Research Indonesia, Media Index 1999, Tempo merupakan majalah berita mingguan dengan sirkulasi terbesar dibandingkan empat majalah lain : Forum, Gamma, Gatra, dan Panji Masyarakat. Hasil sirkulasi memberikan kontribusi sebesar 45,21 % pada pendapatan perseroan.

Hasil riset AC Nielsen 1999 menunjukkan kue iklan yang diraup Tempo sebesar 41%. Berdasarkan hasil tersebut, Tempo memimpin di puncak dibandingkan dengan majalah berita lainnya.

Perolehan iklan Tempo bahkan meningkat menjadi 58 persen. Peningkatan ini juga ditunjukkan dengan penambahan halaman iklan. Hingga pertengahan 2000, rata-rata 35 halaman iklan berwarna.

Sampai 2005 porsi kontribusi iklan untuk pendapatan keseluruhan perseroan mencapai sekitar 70 persen. Peningkatan tarif iklan setiap tahun mencapai sekitar 15 persen.

Tempo menerbitkan edisi bahasa Inggris pada 12 september 2000. target komposisi pembaca edisi Inggris adalah 60 persen orang asing di Indonesia (eksekutif perusahaan asing, kedutaan asing) dan 40 persen pembaca lokal. (Tempo bisa dibeli di luar Indonesia)

Edisi bahasa Inggris terbit satu minggu sekali, dua hari setelah edisi bahasa Indonesia.

Sejak penerbitan perdana, edisi bahasa Inggris ini laku terjual 7.500 eksemplar perminggu. Rata-rata halaman iklan delapan hal dengan tarif iklan hal Rp 11 juta.

Kusen memutuskan Tempo akan menjual sebagian sahamnya di pasar bursa. Keputusan ini menjadikan Tempo sebagai majalah pertama yang masuk pasar bursa.

Mengganti nama PT Arsa Raya Perdana yang didirikan pada Agustus 1996 menjadi PT Tempo Inti Media pada 29 September 2000.

Penawaran perdana, perseroan menawarkan saham perdana maksimal 200 juta saham (25 persen) disertai maksimal 100 juta waran guna meraih dana Rp 75 Milyar.

Setelah masuk pasar bursa, komposisi kepemilikan saham berubah. Sebelum masuk bursa, Tempo dikuasai 20 persen PT Grafiti Pers, 30 persen Yayasan Jaya Raya, 30 persen Yayasan 21 juni 1994 dan 20 persen Yayasan Karyawan Tempo.

Setelah penawaran saham, jumlah saham terbesar dimiliki Yayasan Karyawan Tempo sebesar 17.2 persen dikuasai publik.

2 April 2001 majalah Tempo berulang tahun ke-30 dan terwujud untuk menerbitkan HARIAN KORAN Tempo. Karena menurut Bambang Harymurti, secara umum Koran Tempo ingin mengembalikan prinsip-prinsip jurnalisme harian yang kini terabaikan : cepat, lugas, tajam dan ringkas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *