Magister, Semester 1

Rangkuman Media Studies (Texts, Production, Context) – Paul Long dan Tim Wall Bab 5: Bisnis Media

Investigasi Bisnis Media

Ketika kita mengkonsumsi produk media, kita tidak sepenuhnya menyadari siapa perusahaan atau organisasi yang membuatnya. Kita lebih tertarik pada detil cerita produk tersebut.

Kita dapat mengeksplorasi ini dengan mencari informasi “siapa” atau “apa” yang bertanggung jawab terhadap pilihan media kita. Cara termudahnya adalah melihat “credit title” di akhir film atau acara.

Terkadang, seseorang yang mempelajari media memiliki bayangan “romantis” akan bagaimana produk media diproduksi. Membayangkan para pekerja media mengikuti insting atau angan-angan mereka dalam memproduksi sesuatu yang kreatif. Dalam kenyataannya, pekerja media memang punya kesempatan untuk membentuk hal-hal kreatif, hanya staf kreatif dan managerial yang bertanggung jawab atas pembuatan konten untuk audiens, dalam bujet terbatas berdasar organisasi bisnisnya.

Sering kali harus berkompromi dengan ketatnya peraturan internal dan eksternal – seperti institusi pengatur media, norma sosial, norma budaya. Memahami hal-hal ini merupakan bagian dari mempelajari media.

Signifikansi media sebagai organisasi dan sebagai bisnis dalam skala ekonomi yang lebih luas membuat mereka sering menjadi subjek berita mereka sendiri.

Terdapat tiga cara pendekatan yang telah dikembangkan untuk mempelajari tiga

tingkat dalam memahami bagaimana organisasi media berjalan.

Pertama, melihat bisnis media dalam kacamata ekonomi dan politik, sehingga disebut “ekonomi politik media”.

Kedua, melihat detil struktur dan objektifitas organisasi yang disebut “studi organisasi”.

Ketiga, melihat budaya media bekerja, mengeksplor ide-ide profesional, memperluas kemampuan pekerjanya, meningkatkan kreatifitas dan pandangan audiensnya. Ini disebut “etnografi kantor”.

1. Ekonomi Politik Media

Di mana nilai ekonominya? Bagaimana kepemilikannya?

Ekonomi politik media menginvestigasi kondisi institutsi dan organisasi media yang dibentuk, bagaimana insentif, dan cara mereka bekerja.

Banyak peneliti menanyakan hal-hal berikut terkait ekonomi politik media: siapa yang membayar produksi media? Apa komoditas utama medium tersebut? Bagaimana konsumen membayar untuk komoditas ini dan aktifitas ekonomi media lainnya? Hingga akhirnya disebut ekonomi politik kritis.

Organisasi media dalam pasar bebas

Salah satu hal terkait bisnis media dalam sistem ekonomi kapitalis ialah kompetisi. Organisasi media harus bersaing satu sama lain untuk memperebutkan audiens, penjualan, dan pendapatan lainnya seperti iklan. Untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan membagikan profit ke para pemilik kepentingan.

Relasi komoditas

Hampir tiap orang yang bekerja di media konsentrasi pada memproduksi program dan publikasi, guna memastikan mereka menghasilkan kualitas yang bagus dan bermakna untuk audiensnya. Mereka sebenarnya juga memproduksi hal-hal yang bernilai secara ekonomi bagi perusahaan yang mempekerjakan mereka.

Audiens sebagai komoditas

Dallas Smythe berargumen bahwa kita sebaiknya tidak berpikir bahwa media memproduksi surat kabar, situs, ataupun program televisi, melainkan memproduksi audiens.

Audiens Mass dan Niche, serta Efek Hotelling

Perusahaan yang mengejar profit akan memproduksi hal-hal yang menarik massa besar atau justru audiens yang amat spesifik (niche). Audiens niche akan bernilai secara ekonomi jika mereka lebih konsumtif dari pada pengiklan yang rela membayar per jumlah audiens.

Hotelling beranggapan bahwa perusahaan yang mengejar profit selalu memosisikan dirinya dekat dengan target market dan secara geografik dekat dengan konsumen potensial.

Mengontrol ketidakpastian

Kombinasi komodifikasi media dan “tidak-membeli-ulang” produk media mengarah pada tingkat ketidakpastian yang tinggi di produksi media. Meski ada keinginan untuk bermain aman dalam memproduksi, nyatanya produk fashion sering berubah amat cepat, hingga membuat organisasi media kesulitan memprediksi apa yang menarik berikutnya, dan membuat rencana.

Untuk mengatasi ini, media menggunakan beberapa strategi seperti branding, sehingga mendorong sikap konsumtif yang lebih mudah ditebak.

2. Studi Organisasi

Berbicara mengenai bisnis media tentunya tidak akan pernah lepas dari bagaimana organisasi yang berjalan dalam sebuah perusahaan media. Bagaimana mereka mampu untuk menciptakan sebuah karya yang layak untuk dijual guna menghasilkan laba. Bagaimana peran masing-masing staff, pembagian divisi, hingga proses produksi yang berjalan di dalamnya menjadi menarik untuk kita ketahui.

Pertama kita perlu tahu bagaimana pemetaan divisi yang ada serta fungsi dari masing-masing divisi. Sebagian besar organisasi atau perusahaan memiliki struktur hierarki yang bertujuan untuk memperjelas tugas serta fungsi setiap orang dalam perusahaan. Orang-orang dengan jabatan tinggi akan dengan mudah mengarahkan bawahannya untuk melaksankaan tugas serta fungsi yang spesifik, untuk mengimplementasikan tujuan organisasi. Bahkan dalam era yang lebih modern seperti sekrang, perusahaan media tercipta melalui kolaborasi para individu kreatif, manajer dan buruh industri.

Williams (1982: 38-56) membagi tiga era dimana terjadi perubahan organisasi pada perusahaan media. Era pertama terjadi kala orang-orang kreatif disokong modal besar, sehingga terlindungi dengan baik untuk mengskplore kreatifitasnya. Lalu pada abad 19, orang-orang kreatif mulai berani keluar untuk menciptakan sendiri karya yang dia buat, dan menyebarluaskan karyanya agar dapat dinikmati khalayak ramai. Sedangkan para manajer dan staff teknis ikut bergabung ke dalam satu organisasi yang ada, meninggalkan para pemilik modal. Lalu pada abad 20, mulai masuk seni visual dalam media massa. Para pemilik modal kembali muncul untuk menyatukan para pekerja seni ini ke dalam satu perusahaan besar yang memiliki tujuan tertentu seperti mencari laba, sebagai usaha untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. Namun, langkah ini kemudian ditemukan banyak melahirkan objektivitas serta menurunnya profesionalitas para pekerja media dalam memproduksi karya

Organisasi yang tercipta dalam sebuah perusahaan media membuat Theorist David Hesmondhalgh (2002) lantas mengkategorikan pekerja pada perusahaan media, yaitu 1)

Pekerja Kreatif Utama, 2) Pekerja Tekhnis, 3) Manajer Kreatif, 4) Pemilik dan Eksekutif. Pengkategorian ini pada akhirnya juga melahirkan sebuah mekanisme kerja yang terstruktur. Bagaimana para jurnalis di lapangan kemudian memproses berita yang ada. Editor diatasnya memeriksa berita yang ditulis reporter, terus proses ini berlangsung sampai berita tersebut dapat dinikmati pemirsa. Proses ini lantas melahirkan sebuah rutinitas yang memutar roda perusahaan.

Namun ini melahirkan sebuah kritikan dari para peneliti sosial, lantaran dengan lahirnya rutinitas ini menyebabkan berita atau karya yang diproduksi media menjadi tersrtuktur sesuai dengan arahan pimpinan. Dalam hal ini berita yang ada tidak lagi diliput untuk ditayangkan, melainkan diciptakan.

3. Budaya Produksi – Media Profesional, Pekerja Kreatif

Etnografi adalah sebuah studi yang melibatkan pengamatan dan penulisan deskripsi serta analisis dari beberapa bentuk praktik dan orientasi budaya. Menurut pengamatan Paul Espona (1982) pembelajaran mengenai budaya produksi melibatkan hal-hal berikut:

· Eksplorasi merek dan identitas karya yang dihasilkan pekerja media,

· Identifikasi rutinitas keseharian serta tugas-tugas awak media dalam menghasilkan karya,

· Mempelajari kontribusi individu dalam sebuah hierarki organisasi perusahaan media,

· Identifikasi bagaimana para awak media mendapatkan ide-ide dalam memproduksi sebuah karya,

· Mengeksplorasi etos kerja serta kreatifitas para pekerja awak media. Pekerja media tentunya merupakan bagian orang-orang yang memang memiliki bakat untuk menciptakan sebuah karya yang baik. Namun, tanggung jawab untuk bekerja sebagai bagian dari salah satu perusahaan, yang notabenenya memiliki budaya organisasi yang lebih luas, dapat mempengaruhi mereka dalam berkarya.

Bisnis Media dalam Era Digital

Pada era digital saat ini, perusahaan media seakan memiliki saingan baru, seiring munculnya perusahaan media modern seperti Youtube dan RapidShare. Tersedianya media-media ini membuat khalayak jadi lebih mudah untuk menikmati tayangan kreatifitas, bahkan menciptakannya sendiri. Pada era digital ini, karya kreatifitas dari perusahaan-perusahaan media mulai ditinggalkan. Lantaran platform digital yang ada memberikan fasilitas yang lebih sederhana untuk menunjukkan karya. Tidak harus memiliki sebuah perusahaan yang terbentuk dari sebuah budaya oraganisasi yang rumit. Fakta ini lantas membuat para pemodal perusahaan media tradisional mulai beralih pada media era digital.

Hingga pada akhirnya muncul beberapa artikel seperti “The Long Tail” yang menjelaskan bagaimana media era digital bisa lebih “laku” pada khalayak. Sebuah karya dengan biaya yang rendah dapat lebih menguntungkan daripada karya yang banyak mengeluarkan biaya. Media penyaluran yang banyak menjadi kuncinya. Dan kenyataannya, pada era digital ini, saluran pendistribusian karya sangat beragam. Memberikan altenatif yang baik bagi para produsen karya yang hanya bermodalkan sedikit biaya. Di lain sisi, faktor viral menjadi sebuah senjata baru yang dapat dimanfaatkan para .pemain baru’ untuk masuk ke dunia insudtri media. Viral menjadi sebuah senjata untuk mengalahkan para popularitas ‘pemain lama’.

Era digital yang menerima kelahiran dunia internet juga mematikan sebuah Teori Kelangkaan. Adanya internet yang tidak memiliki batas penyimpanan, membuat fenomena langka hilang. Ini mengakibatkan para produser tidak dapat memainkan harga yang bisa mereka patok terhadap sebuah barang yang terbilang langka. Internet menciptakan sebuah media yang tidak terbatas, yang mampu menjadi media baru, namun justru mematikan media berkarya yang lama. Lantas karya ini lebih diminati lantaran kemampuannya untuk dapat menampung aspirasi para penikmatnya. Media di era digital seperti beberapa sosial media twitter, facebook dll, mampu lebih banyak menarik minat khalayak lantaran mereka merasa memeiliki andil terhadap karya yang keluar. Berbeda dengan media di era terdahulu yang menguasai peran dalam memproduksi karaya lalu kemudian menyebarkannya pada khalayak. Tentu ini akan menjadi sebuah tantangan baru bagi para perusahaan media yang masih menjalanakan roda perusahaan secara tradisional.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *