Gelar Magister, Semester 1

Rangkuman Media Studies (Texts, production, Context) oleh Paul Long & Tim Wall Chapter 10: Media Power

Caroline Claudia Christy

Gina Aulia Taqwa

Novan Choirul Umam

Svaradiva Anurdea Devi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Program Pasca Sarjana Manajemen Komunikasi

2018

Chapter 10: Media Power

Konseptualisasi Kekuatan

Kekuatan disini diartikan sebagai kemampuan untuk mengendalikan tindakan orang lain, serta diri sendiri. Begitu pula dengan kekuatan sebuah kelompok untuk mengendalikan tindakan kelompok lainnya.  Terdapat dua cara dalam mengaplikasikan kekuasaan tersebut:

  1. Kekuatan Fisik

Dimana kekuatan fisik (otot) dijadikan senjata utama untuk menguasai pihak lain. Kekerasan banyak dikedepankan dalam proses penguasaan tipe ini. Kendala yang terjadi adalah jika ada kelompok lain yang memiliki kekuatan lebih besar dari mereka. Untuk mengatasi ini, biasanya mereka akan “membeli” kekuatan itu agar mau bergabung dengan kelompok mereka.

2. Kekuatan Pikiran (Ide)

Kekuatan ini dianggap sebagai kekuatan alami yang tidak bisa dilawan. Para pengikutnya berpikiran bahwa melawan kekuatan ini sama saja dengan melawan takdir alam dan Tuhan.

Kekuatan disini bukan hanya terkait dengan suatu gerakan partai politik, dalam kehidupan kita sehari-hari nyatanya kekuasaan itu juga terjadi. Termasuk di dalam kekuasaan terhadap sebuah media.

Mencari Kekuatan

Lantas menjadi penting untuk mencari tahu siapa saja orang-orang diatas sebuah hierarki yang berkuasa, lalu siapa sekelompok orang yang berada di bawah sebagai bawahan para penguasa tersebut. Dari kekuasaan yang ada lahirlah beberapa golongan ataupun kelas yang mengkategorikan manusia kedalam beberapa kelompok yang memiliki perbedaan kekuatan.

Kelas yang terbentuk beberapa diantaranya adalah kelas atas yang diisi oleh para pemilik warisan kekayaan dan kebudayaan, lalu kelas menengah yang terdiri dari para wirausahawan, kapitalis dan profesional yang memiliki kekayaan berkat usaha mereka sendiri. Terakhir adalah kelas pekerja, kata halus dari kelas bawah. Sebutan ini bagi para kelompok mayoritas yang bekerja pada para kelas atas dan menengah.

Kekuatan dan Media

Media dianggap sebagai sebuah pekerjaan yang mampu memberikan kesempatan pada orang didalamnya untuk mengeksplorasi kebebasannya. Namun, perlu ditelusuri kembali seperti apa kebebasan yang terjadi dalam media itu sendiri. Bahasan ini dapat dilihat dari tiga cara, yaitu:

  1. Media yang Kuat

Kekuatan media sering dipandang sebagai sebuah kekuatan yang mampu perilaku para penikmatnya, mereka menyerang sisi emosional, psikologis dan fisiologis khalayak. Contohnya adalah bagaimana sebuah tayangan kekerasan yang ditampilkan di televisi terjadi pada kehidupan nyata, lalu bagaimana sebuah musik mampu meningkatkan motivasi individu dalam menjalani hari.

b. Media Menciptakan Manusia yang Kuat

Pandangan ini melihat bahwa media mampu membuat siapapun mereka yang menguasai media tersebut jadi terlihat kuat. Sesuai dengan arahan serta kepentingan yang penguasa media, maka pandangan khalayak terhadap penguasa itu akan selaras dengan peran media dalam menyampaikan pandangan terhadap penguasa tersebut, walaupun itu terkadang bukanlah hak yang sebenarnya.

c. Media Sebagai Agen Kekuatan

Media menjadi sebuah kebiasaan yang tak dapat dihindari oleh khalayak, untuk itu tidak mengherankan jika pada akhirnya media menjadi sebuah agen yang mampu menjangkau khalayak secara luas. Dari sini peran media kemudian semakin terlihat tatkala kepentingan penguasa dapat diterima dengan baik oleh beberapa kelompok dominan di masyarakat. Kendati terkadang sebuah kepentingan tersebut merugikan pihak tertentu, namun media berperan dengan baik sebagai agen untuk menyebarluaskan kekuasaan tersebut.

Ideology

Ideologi adalah seperangkat gagasan yang dibagikan yang tampaknya, bagi orang/kelompok yang memegangnya, menjadi alami dan tidak perlu dipertanyakan lagi; muncul tanpa hambatan sebagai komponen mendasar dari realitas dunia. Ideologi mengesankan bahwa ada mekanisme dinamis yang bekerja di dalam struktur kekuasaan, seolah menjadikan suatu pembenaran diri dan ‘alami’ sampai pada titik di mana tidak perlu dipertanyakan lagi.

Istilah common sense/ akal sehat digunakan untuk menggambarkan apa yang dianggap biasa, berkaitan dengan aspek pemahaman yang disepakati bersama atau berlaku umum. Namun, tak jarang pula pandangan yang dibagikan benar-benar hanya mencerminkan kepentingan bagian masyarakat tertentu, membenarkan kekuasaan orang-orang yang berkuasa, baik  kelompok politik dalam pemerintahan, pengendali ekonomi, atau yang menguasai operasi sistem hukum. Pada sebagian besar masyarakat tampaknya ada penerimaan yang luas bahwa sebagian orang memiliki hak atas kekayaan atau kekuasaan yang lebih besar daripada yang lain, bahkan ketika banyak kalangan yang tidak memiliki kekuatan dan sedikit kekayaan atau sangat menderita.

Hal tersebut menjadi tanda untuk menyadari bahwa kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh ideologi, dalam hal cara kita berperilaku, kalangan yang diakui otoritasnya otoritasnya dan gagasan yang digunakan untuk hidup. Sebuah contoh singkat dari dunia televisi menawarkan beberapa wawasan tentang peran media di dunia kontemporer ini. Ideologi menunjukkan bahwa ide-ide, dan kepentingan dari beberapa kalangan kuat untuk mendominasi banyak orang, dapat dilihat dari bagaimana televisi bertindak sebagai agen untuk ide ini, memanifestasikannya dalam teks dan praktiknya.

Contohnya, berkembangnya acara pencarian bakat seperti American Idol, X Factor maupun di Indonesia yaitu Indonesian Idol sebagai acara pencarian bakat yang mengaudisi banyak orang lintas provinsi di Indonesia untuk mencari seorang pemenang yang akan menjadi bintang dengan dipromosikan sebagai penyanyi terkenal. Ideologi yang ditonjolkan dari acara tersebut adalah bagaimana kriteria seorang bintang dikonstruksikan baik dengan kualitas suara dan gaya menyanyi tertentu, cara berpakaian yang terbukti disukai banyak orang dengan kemenangan yang diperoleh dari vote masyarakat. Pada akhirnya acara tersebut menunjukkan kualitas seseorang yang menjadi pemenang lebih tinggi dan terbaik diantara sekian banyak orang yang mendaftar dan hal ini terus berulang dan dibuktikan maraknya masyarakat yang mendaftar untuk mengikuti audisi acara pencarian bakat tersebut sebagai pembuktian diri untuk menjadi lebih unggul dari sekian banyak orang.

Unpacking ideology: the contribution of Marxism

Ideologi secara harfiah dapat diartikan sebagai ‘studi tentang ide-ide’.  Titik awal kami dalam memahami pentingnya Marx terletak pada kritiknya terhadap ‘ekonom politik’ dari abad kedelapan belas dan kesembilan belas, yang mencoba memahami masuknya industrialisasi dan perkembangan ekonomi modern dan kapitalisme. Mereka berpendapat bahwa, agar sistem ini berfungsi dengan baik dan memenuhi potensinya, harus ada liberalisasi umum dari jenis pembatasan yang mencirikan masyarakat kontemporer, yang sebagian besar tidak demokratis dan memerintah di sekitar dominasi elit otokratik untuk pemenuhan mereka sendiri. Para pemikir berpendapat bahwa membebaskan bidang ekonomi, hukum dan politik – memberikan kebebasan yang tak terbatas pada operasi pasar – akan menuntun setiap individu untuk mengejar kepentingannya sendiri, menghasilkan nilai (atau modal – kekayaan) yang pada gilirannya akan menguntungkan semua orang.

Marx mengembangkan kritik terhadap ide-ide ini berdasarkan empiris bukti di sekitarnya, seperti pertumbuhan daerah kumuh, jam kerja yang panjang dan gaji yang buruk untuk mayoritas, pekerja anak, perampasan kolonial yang memperbudak demi kepentingan negara-negara industri dan kekayaan luar biasa dari minoritas.

Dia menyarankan, ketimbang membebaskan semua orang menjadi periode baru peningkatan kekayaan, keadilan dan kebebasan, kapitalisme hanya memberikan kekuatan dan kekayaan kepada elit baru yang menjalankan kekuasaannya kekuatan sendiri dalam menindas mereka yang dibutuhkan untuk mempertahankan statusnya. Kelompok elit yang juga disebut kaum borjuis, terdiri dari para pemilik pabrik dan investor yang mendorong dan memperoleh manfaat dari industrialisasi dengan mengorbankan para elit pemilik tanah lama.

Dasar dari teori Hegel adalah bahwa ide  memiliki eksistensi sendiri. Dia mengusulkan bahwa satu set ide dominan di masyarakat pada satu waktu; ide-ide ini dia disebut ‘tesis’. Sementara seperangkat gagasan demikian dominan, penentang cara berpikir ini merumuskan alternatif yang sesuai dengan apa yang disebutnya ‘antitesis’ (anti-tesis)

Inovasi Marx adalah untuk membalikkan idealisme Hegel untuk menyatakan bahwa cara suatu masyarakat diorganisasikan – dasar materialnya – akan menentukan ide-ide dan cara orang berpikir tentang dunia. Marx menyarankan bahwa organisasi masyarakat yang berubah terlebih dahulu dan bahwa setiap cara baru dalam menjalankan sesuatu akan mengarah pada serangkaian gagasan baru yang menjelaskan berbagai hal. Marx menggunakan analogi sebuah bangunan untuk menjelaskan bagaimana teori-teorinya bekerja. Dia melihat organisasi ekonomi masyarakat sebagai padanan dari pondasi bangunan, dan semua gagasan dan institusi lain dalam masyarakat seperti bangunan yang terlihat. Anda mungkin menemukan ini disebut sebagai analogi ‘dasar dan suprastruktur’ di buku-buku lain.

Marx berpendapat bahwa mayoritas dalam masyarakat – mereka yang bekerja untuk upah (dipekerjakan oleh mereka dengan modal, yang bertambah lagi modal melalui kerja orang lain) – memiliki kepentingan kolektif yang obyektif yang bertentangan dengan minoritas. Di sinilah politik, ekonomi dan konsep utopia dari kolektivitas – sosialis dan komunis – berasal.

Bagi Marx, perjuangan politik yang sedang berlangsung adalah tentang mendorong kolektif kesadaran mayoritas (pekerja, kelas pekerja atau proletariat – mereka yang hanya memiliki tenaga kerja mereka), bahwa mereka akan menyadari ketidakadilan dan irasionalitas posisi mereka (pada gilirannya memaparkan ideologi untuk apa itu adalah) dan melakukan sesuatu tentang itu.

Antonio Gramsci and Hegemony

Hegemoni berasal dari Yunani yang berarti kepemimpinan. Di bawah hegemoni yang berkuasa, yang tertindas menerima dan secara aktif menyetujui penindasan karena mereka merasa itu hal yang terjadi secara alami.

Hal-hal yang dipelajari di sekolah, nilai-nilai yang diajarkan di keluarga, dan asumsi di balik penyajian berita atau narasi drama TV semuanya mengedarkan pandangan dunia berdasar sudut pandang penguasa tanpa dipertanyakan sama sekali.

Meski Gramsci berpendapat bahwa yang tertindas akan melawan kekuasaan elit. Elit atau yang berkuasa tidak memegang kekuasaan absolut selamanya. Di mana ada kekuasaan, pasti ada gerakan resisten atas kuasa tersebut; menegosiasikan batas dan parameter atas hegemoni yang berlaku.

Gagasan Gramsci tentang kepemimpinan merupakan bagian dari cara orang-orang yang berkuasa memperjuangan kekuasaan, memberi “semacam izin” atas beberapa hal – dukungan kesejahteraan atau peningkatan upah, misalnya – tetapi sebenarnya hanya untuk mempertahankan kekuasaan dan memegang status quo.

Produk pikiran Gramsci ini memberikan perhatian khusus pada cara hegemoni beroperasi dalam praktik media dan representasi tekstual, juga pada cara bagaimana ‘resistensi’ muncul.

Louis Althusser and structuralism

Seperti namanya, strukturalisme tertarik pada struktur dan metodenya. Digunakan untuk menginvestigasi dan menghubungkan pondasi struktur dalam bahasa dengan pemeriksaan struktur-struktur pendukung di masyarakat – seperti yang dilakukan Marx – dapat diperluas lagi pada struktur media dan bentuk, serta praktik budaya.
Karya Althusser berguna dalam memikirkan bagaimana ideologi bekerja, terutama ketika diperluas ke mekanisme media. Ia menunjuk satu bentuk fisik kontrol sosial yang jelas dan badan-badan sosial seperti militer, polisi, pengadilan dan sistem pemasyarakatan, dan memberi mereka nama aparatur negara represif (RSA). Dalam pandangannya, RSA saja tidak cukup untuk mempertahankan hubungan sosial dari sistem produksi yang tidak adil.

Kesetiaan mayoritas terhadap kekuasaan elit dicapai dengan cara yang tersamarkan – penyebaran ideologi melalui pendidikan dan agama, dalam keluarga dan struktur pengasuhannya, dan media. Area ini disebut sebagai aparatur negara ideologis (ISA). Konsep ISA dianggap lebih bermanfaat, karena berpusat pada negara dan perannya dalam menjalankan kekuasaannya. Konsep ISA menunjukkan bahwa agen-agen negara mempengaruhi secara ideologis.
Media massa dilihat sebagai alat penyedia pandangan dunia yang sebenarnya mencerminkan pandangan elit, baik dalam bentuk acara permainan yang mendorong perolehan kekayaan individu atau film yang mendukung nilai kepahlawanan individu dan selebriti, fitur di koran atau program gaya hidup, dan seterusnya.

Media dipandang sebagai agen kekuasaan, dan mirip seperti pandangan Gramsci atas pembedaannya antara masyarakat sipil dan masyarakat politis. Bedanya, Althusser lebih mekanistik dalam ideologinya. Konsep Althusser juga mengeksplorasi bagaimana media bekerja sebagai bentuk yang kuat dalam konsep interpelasi yang bersekutu.
Di majalah misalnya, Anda seakan sedang diajak bicara dan diharapkan memberikan tanggapan. ISA menempatkan kita dalam sistem nilai dan ide, di mana kita mengenali tempat kita dan bagaimana kita harus merespon dan bertindak di dunia. Faktanya bahwa ini tidak terjadi secara sadar – kita tidak terlibat dalam serangkaian pertanyaan dan jawaban yang tiada habisnya, kita “seakan” bertindak untuk menghasilkan subyektivitas kita atau rasa kita sendiri.

Kesadaran dan rasa individualitas dan penentuan nasib sendiri kita sendiri mungkin bersifat ideologis. Kita sendiri, sejauh yang kita sadari, adalah produk kekuasaan: memang kesadaran kita adalah ‘produk ideologis entah siapa’. Ideologi model ini bertindak atas kebaikan untuk kelompok minoritas, membuat “kebenaran” mereka diterima dan mempertanyakan hal; agar mengetahui bagaimana atau apa hal tersebut sebenarnya.

Memang tampaknya mengecualikan kemungkinan agen manusia dalam meraih kebebasan terlepas dari penindasan dan eksploitasi.  Sulit membayangkan ada suatu tempat tak tersentuh ideologi, untuk mencapai pencerahan tentang masyarakat dan ketidakseimbangan kekuasaan. Ketika sudah terpapar ideologi, seakan terjebak dan sulit untuk keluar. Dan media memainkan peran penting dalam membentuk struktur kekuasaan ini.

New Media, New Media Studies

Kekuatan dan perlawanan baru. Di Timur Tengah, orang bisa tidak diperbolehkan berkomunikasi secara bebas, hal ini dikarenakan penindasan politik, konservatif sosial, atau keduanya. Sekarang keberadaan media baru membuat pendapat mereka didengar secara anonim.

Sosial media mengangkat topik serta protes lewat konten yang disetir oleh anak-anak muda kelas menengah yang berpendidikan. Sedangkan sisanya hanya mengkonsumsinya. namun dengan kehadiran handphone 3G, akhirnya partisipasi demokratis mereka makin meluas.

Discourse, power and media

Para teroris meningkatkan fokus mereka pada wilayah budaya, representasi dan bahasa yang digunakan dalam reproduksi kekuasaan dan perjuangan dibaliknya. Dalam masyarakat modern, bentuk dan operasi media menjadi perhatian inti.

Karenanya, sejak 1960-an, dalam melawan praktik budaya dan bahasa dari hal-hal seperti sexism, racism, dan prasangka serta perspektif lainnya pun muncul. Kemudian menghasilkan sebuah ide dan metode yang membahas tentang kekuasaan: discourse (wacana).

Michel Foucault dan Wacana

Foucault merupakan sarjana Perancis yang dimentori oleh Althusser. Ia memiliki latar belakang akademis yang bermacam-macam dari filosofi, sejarah dan psikologi. Ia menawarkan analisis secara detail mengenai ide dan praktik yang penting menurut sejarah, menyediakan interpretasi berbeda yang terlihat kontras dari yang sudah disepakati sebelumnya.

Foucault menghubungkan serangkaian ide yang biasa disebut dengan poststructuralist (setelah strukturalisme). Post-structuralist berkonsentrasi tidak pada struktur, namun pada praktik. Tidak pada bagaimana masyarakat terstruktur, tapi apa yang kita lakukan di dalamnya. Tidak pada bagaimana bahasa terstruktur tapi bagaimana kita menggunakannya. Tidak bagaimana bawah sadar kita terstruktur, tapi bagaimana kita menggunakan ide-ide yang ada.

Maksud dari Foucault adalah bahwa wacana adalah ide-ide yang tertanam dalam apa yang kita lakukan, katakan dan pikirkan dan hal ini menentukan istilah-istilah yang kita ketahui di dunia ini. Foucault tidak membicarakan tentang kebenaran atau mencari penerangan kebenaran akan dunia, namun ia membicarakan tentang ‘rezim kebenaran’ yang diproduksi oleh praktik dan bahasa-wacana.


You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *