Magister, Semester 1

Rangkuman Buku Nabi dan Oliver Bab 5, 6, 7, 12, 24, dan 27

Tugas Kelompok Kajian Media

Oleh:

Caroline Claudia Christy – 180165624

Gina Aulia Taqwa – 1806252643

Novan Choirul Umam – 1806252776

Svaradiva Anurdea Devi – 1806166330

 

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Program Pasca Sarjana Manajemen Komunikasi

2018

 

Cultivation Analysis and Media Effect

Analisis kultivasi mengeksplor kontribusi independen televisi terhadap konsepsi pemirsa tentang realitas sosial. Hipotesis terpusat pada eksplorasi dalam penelitian kultivasi, bahwa kalangan yang menghabiskan lebih banyak waktu menonton televisi berpotensi untuk melihat dunia nyata melalui cerminan pesan yang ditampilkan dengan cara yang paling umum dan berulang oleh televisi, dibandingkan dengan orang-orang yang cenderung jarang menonton televisi. Namun hal ini dapat pula diperbandingkan dengan aspek demografis yang berbeda pada khalayak penonton satu daerah dengan daerah lainnya.

 

Gerbner mendefinisikan peran pesan baik dalam interaksi sosial sehari-hari dan pada tingkat sosial budaya yang lebih besar, komunikasi sebagai “interaksi melalui pesan” dan Gerbner juga melihat budaya sebagai “sistem pesan dan gambar yang mengatur dan mereproduksi hubungan sosial” (Gerbner, 1990, p250). Akibatnya, pesan dan gambar yang ada di sekeliling kita mencerminkan dan mereproduksi cara kita berpikir tentang dunia.

 

Kehidupan kita sehari-hari saat ini begitu dibanjiri berbagai pesan & gambar yang diproduksi secara massal sampai terkadang kita cenderung lupakan bahwa ini adalah perkembangan sejarah yang relatif baru. Ini telah menciptakan lingkungan budaya baru yang simbolis, dan lingkungan ini membentuk cara kita memahami dan menafsirkan dunia. Pesan-pesan ini tidak “netral” tetapi mencerminkan nilai-nilai dan prioritas dari institusi yang menciptakannya. Sebelum pengembangan analisis kultivasi, sebagian besar peneliti dalam komunikasi massa tertarik untuk mengetahui bagaimana pesan, saluran, dan sumber tertentu dapat menghasilkan perubahan dalam sikap atau perilaku.

 

Konsep storytelling merupakan inti dari teori kultivasi, Gerbner berpendapat bahwa perbedaan mendasar antara manusia dan makhluk lain adalah manusia hidup di dunia yang diciptakan oleh cerita yang kita ceritakan. Manusia hidup secara unik di dunia yang dialami dan dibangun sebagian besar melalui berbagai bentuk dan cara bercerita. Kita tidak secara pribadi maupun langsung mengalami bagian besar dari apa yang kita ketahui atau kira kita ketahui; kita “tahu” banyak hal berdasarkan cerita yang kita dengar dan cerita yang kita ceritakan (Morgan, 2002). Televisi telah mengubah proses budaya mendongeng menjadi sistem yang terpusat, terstandarisasi, berorientasi pasar, dan disponsori oleh pihak pengiklan.

 

Framing and Agenda Setting

First and Second Level Agenda Setting

Agenda setting menjelaskan pengaruh media yang sangat kuat, dan kemampuan untuk dapat mengatakan pada masyarakat mengenai isu apa yang dianggap penting dan menjadi fokus perhatian. Penelitian mengenai agenda setting dimulai dari McCombs and Shaw (1972) yang melihat fungsi agenda setting dari media massa pada pemilihan presiden dimana keduanya berusaha untuk menilai hubungan antara apa yang pemilih di satu komunitas katakan adalah masalah penting dan merupakan konten sebenarnya dari pesan media yang digunakan selama kampanye. McCombs and Shaw menyimpulkan bahwa media massa memberikan pengaruh yang signifikan pada apa yang dianggap pemilih sebagai isu utama kampanye.

Asumsi  dasar mendasari sebagian besar penelitian tentang agenda setting:

  1.  Pers dan media tidak mencerminkan realitas melainkan mereka menyaring dan membentuknya.
  2. Konsentrasi media pada beberapa masalah dan subjek mengarahkan publik untuk memahami isu-isu tersebut sebagai lebih penting daripada isu lainnya, hal ini terlihat dari cara penempatan agenda berita yang hendak disebarkan.

 

Formulasi dari agenda setting awalnya merujuk pada yang disebut sebagai “first level”/tingkat pertama dari agenda setting. Tingkat pertama agenda setting secara luas mengeksplorasi bagaimana tingkat perhatian (seberapa besar perhatian masyarakat) terhadap suatu masalah, berkaitan dengan  arti-pentingnya di kalangan masyarakat tersebut. Namun terdapat pula banyak anggapan bahwa pendekatan ini menghapus hampir sebagian besar bahkan semua hal yang layak diketahui, tentang bagaimana media menutupi masalah dan hanya menyisakan “cangkang” atau bagian luar topik saja. Sehingga, meskipun agenda setting menyorot pada dampak media dalam melihat arti penting pada isu tertentu model ini gagal untuk menyebabkan dampak signifikan dalam membentuk opini publik.

 

Sebagai tanggapan atas kritik atas model tingkat pertama agenda setting, McCombs dan Estrada (1997) menegaskan bahwa melalui pemilihan atribut masalah tertentu pada  tingkat kedua agenda setting pengaturan agenda berita yang mempengaruhi opini publik. Pada “Second level”  agenda setting, kaum elit membentuk gambaran isu dengan pertukaran sejumlah atribut, merujuk pada definisi framing dalam membentuk beberapa aspek realita lebih mementingkan arti dalam teks sebagai upaya mempromosikan sejumlah masalah, interpretasi kausal, Evaluasi moral dan rekomendasi perlakuan atas setiap hal yang dijelaskan.

Pemahaman tersebut mendahulukan tingkat kedua agenda setting dan menyediakan sebuah cara dalam menjelaskan kekuatan media untuk secara langsung mengarahkan pemikiran individu melalui interpretasi terhadap situasi atau objek, memberitahu khalayakmengenai apa yang harus dipikirkan.

Framing & Priming

Framing merupakan proses dimana penekanan atau konstruksi pesan mempengaruhi interpretasi penerima, memiliki tradisi panjang yang melampaui aplikasinya untuk penelitian komunikasi massa (Goffman, 1974). Dalam lingkup sosiologi, Bateson (1972) mengadaptasi metafora bingkai foto untuk menjelaskan cara membingkai susunan informasi dan menyediakan perspektif melalui pesan mana penerima dapat mengerti pokok permasalahannya. Sedangkan, dalam lingkup psikologi Bock and Loebell (1990) merujuk pada rangka bangunan yang menentukan bentuk dari struktur bangunan yang akan dibangun. Selayaknya rangka bangunan mencakup jendela dan pintu membuka pengalaman tamu yang berkunjung akan interior di dalamnya, bingkai media juga dapat mengaktifkan sebagian kesadaran/pengetahuan dalam pikiran penontonnya.

 

Kombinasi antara lingkup sosiologi dan psikologi tersebut, framing dalam bidang komunikasi massa secara umum merujuk pada proses dimana makna diberikan pada suatu hal terkait isu atau peristiwa politik. Yang mana merupakan hasil dari interaksi kompleks para elit politik, jurnalis, organisasi baru, norma & praktik profesional serta budaya dan ideologi yang luas. Meskipun antara framing & priming tidak dapat dipertukarkan namun keduanya merupakan proses yang saling berkaitan. Framing seringkali dikaitkan dengan agenda setting  melalui priming. Antara framing  dan priming keduanya memiliki kesamaan antara lain:

  1.      Keduanya menjelaskan bagaimana struktur pesan berinteraksi dengan struktur kognitive dari anggota khalayak untuk mempengaruhi penilaian selanjutnya
  2.      Keduanya merupakan efek aksesibilitas dimana karakter

Namun keduanya memiliki ciri khas dan perbedaan masing-masing seperti:

  1.   Di satu sisi efek framing cenderung diterapkan pada respon langsung yang dibentuk oleh pesan , sedangkan efek priming dapat merujuk lebih umum ketika pesan membuat skema tertentu lebih mudah diakses untuk aktivasi dan digunakan dalam tugas berikutnya.
  2.   Efek framing dinyatakan secara langsung setelah paparan pesan, sedangkan efek priming adalah produk dari kedua kebaruan dan kronisitas paparan pesan ke rangsangan.

Precision Vs Realism

Pendekatan yang menekankan ketepatan/presisi mengadopsi orientasi eksperimentalis yang ketat dalam mempelajari efek framing. Dalam hal ini peneliti dapat mengidentifikasi dan menaksir efek dari pembingkaian dan mengeliminasi kemungkinan yang dapat diakibatkan dari hal-hal lain selain pembingkaian. Namun, pendekatan ketepatan/presisi untuk mengisolasi efek murni dari pembingkaian pesan memiliki keterbatasan yaitu:

Peristiwa dan masalah yang menjadi pokok sebagian besar berita tidak memungkinkan mereka untuk menyusun bingkai yang setara. Sebaliknya, mereka adalah alternatif yang secara kualitatif berbeda untuk bagaimana merakit peristiwa, fakta, dan informasi lain menjadi berita.

 

Upaya untuk membatasi manipulasi framing ke frame logis yang setara atau untuk menggeser penekanan paragraf utama dapat menghasilkan cerita yang tidak sesuai dengan berita yang dihasilkan oleh jurnalis, yang dapat mengubah pemilihan paket tekstual, fakta, sumber-sumber , dan target yang sesuai dengan frame.

 

Keterbatasan terkait kontrol ketat pada eksperimental menuntun peneliti untuk mengadopsi pendekatan yang lebih ringan dan realis dalam mempelajari efek framing.  Seringkali, peneliti juga mengadaptasi berita aktual untuk manipulasi eksperimental, mengorbankan kemampuan untuk secara eksperimental, mengisolasi elemen mana dari pemindahan teks ke bingkai, fakta, sumber, atau target yang menghasilkan efek yang diamati. Akhirnya, pada studi eksperimental, berita dengan berbagai bingkai dapat mengandung tambahan fakta dan informasi yang tidak setara pada beberapa kondisi.

 

Contoh Efek Framing

Efek dari framing sendiri terbagi ke dalam empat kategori, yaitu:

  1. Pendekatan Spesifik – Presisi

Pendekatan ini menjelaskan bahwa framing terhadap sebuah berita atau informasi  memiliki efek terhadap kesejahteraan masyarakat. Penelitian Shen dan Edwards (2005) menunjukkan bahwa framing dapat mempengaruhi sikap dan pikiran tentang kesejahteraan khalayak.

  1. Pendekatan Transenden – Presisi

Menjelaskan bahwa framing juga memiliki pengaruh terhadap penilaian khalayak kepada sebuah publik figur. Framing yang dilakukan terhadap informasi mengenai sebuah sosok memberikan efek langsung terhadap penilaian khalayak pada sosok tersebut.

  1. Pendekatan Spesifik – Realisme

Pendekatan ini menunjukkan bahwa khalayak akan menerima sebuah informasi tergantung pada bagaimana sebuah media membungkus informasi tersebut. Perbedaan gambar, narasumber dan segala materi informasi sangat berpengaruh terhadap penerimaan khalayak akan sebuah framing terhadap informasi.

  1. Pendekatan Realisme – Transenden

Pendekatan ini menunjukkan bahwa efek framing ditangkap oleh khalayak kedalam dua hal. Misal pada sebuah pemilu, Framing yang dilakukan bisa dianggap sebagai bagian dari isu itu sendiri atau efek framing yang diberikan dinilai sebagai sebuah strategi pemilu.

Keempat efek framing ini terkadang juga dipadukan untuk melihat bagaimana pengaruh sebuah framing yang dilakukan, sehingga maksud dan tujuan yang tersembunyi dari sebuah framing dapat diketahui.

Moderator Framing

Moderator berperan dalam menentukan apakah efek framing tersebut sampai atau tidak pada khalayak. Namun moderator yang baik dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah a) karakteristik khalayak (motivasi dan kecenderungan). Bagi sebagian individu yang memang memiliki karakteristik yang kuat, maka peran moderator tidak akan begitu signifikan dalam proses framing yang dilakukan terhadap individu tersebut. b) isi pesan serta keterkaitannya dengan isu terkini. Seperti misalnya, masyarakat sosial akan lebih menerima bentuk framing mengenai sebuah kegiatan sosial, sedangkan masyarakat dengan karakter cenderung individual, maka tidak akan tertarik dengan isu ini. c) konteks situasional saat framing dilakukan. Menjelaskan bahwa kondisi serta situasi sangat berpengaruh terhadap framing yang dilakukan.

Model Efek Terintegrasi

Model ini menjelaskan bahwa enam komponen penting sebuah pesan diproses, yaitu ketersediaan, penerapan, penerimaan, aktivasi, asosiasi dan kegunaan. Pertama adalah ketersediaan dalam menerima pesan. Kepercayaan, pengetahuan serta ekspektasi penerima pesan akan mempengaruhi penerimaan pesan itu sendiri. Lalu pesan akan sampai kepada memori manusia, namun akan ditentukan dengan penerapan serta penerimaan memory kita. Penerapan dan penerimaan akan dipengaruhi apakah pesan yang masuk sesuai dengan skema serta atau pemikiran yang selama ini dipegang individu tersebut. Jika diterima maka akan mengaktifkan memori yang selama ini terekam di otak kita, dan akan memunculkan pengetahuan kita terhadap pesan tersebut. Jika pesan tersebut dirasa berguna, maka akan disebarkan sebagai sebuah pesan yang kita keluarkan.

Chapter 7 – Pengaruh Media yang Telah Terprediksi

Khalayak mengerti bahwa media memiliki dampak terhadap pola kehidupan mereka sehari-hari. Namun, dalam penelitian komunikasi terkini, menyebutkan bahwa terdapat sebuah daya magis di dalam kekuatan media dalam mempengaruhi khalayak. Menurut W. Phillips Davison, komunikasi melalui media akan lebih berpengaruh terhadap penerima, daripada pengirim komunikasi itu sendiri. Lalu akan berakibat pada pengambilan sebuah keputusan ataupun aksi terhadap proses komunikasi yang telah dilakukan. Ini kemudian disebut dengan The Third Person Perception (TPP).

Mekanisme yang Mendasari Persepsi Orang tentang Pengaruh media

Ada dua tipe yang akan menjelaskan mekanisme ini, Penjelasan secara Motivasi dan Penjelasan secara Kognitif.

Pada umumnya, manusia selalu merasa yang paling baik, paling berpengaruh, lebih unggul dari manusia lainnya. Alhasil mereka berada di posisi optimisme berlebih. Keadaan ini lantas menimbulkan sebuah pemikiran bahwa mereka merasa dirinya akan sulit untuk dipengaruhi oleh media. Selain itu, ada kebutuhan untuk melindungi batin mereka dari paparan media. Sehingga walau nyatanya mereka telah terpapar oleh media, mereka tetap tidak mengakuinya.

Secara kognitif, manusia diasumsikan sebagai ilmuwan sosial yang naif, untuk memprediksi bagaimana dunia ini akan berjalan. Ketika mengetahuinya lebih lanjut, maka manusia cenderung akan mendengarkan kata hati (persepsi) dan deal with it. Lantas kata hati atau persepsi ini yang menjadi landasan untuk menolak bahwa mereka telah terpapar media.

Komponen Perilaku: Pengaruh Media yang Telah Diduga

Paparan media menimbulkan reaksi yang keluar dari khalayak ataupun individu yang menangkap pesan dari media tersebut. Reaksi ini merupakan bagian dari komponen perilaku dari pengaruh media yang diterima. Reaksi ini meliputi perilaku, persepsi, sikap dan respon lainnya. Reaksi ini lantas terbagi kedalam tiga kategori, yaitu pencegahan, koordinasi dan pengaruh normatif. Pencegahan merupakan sebuah tindakan atau dorongan untuk menghentikan penyebaran pesan yang dianggap tidak baik ataupun mengganggu. Contohnya adalah sensor. Semakin manusia merasa efek negatif dari media, maka semakin banyak sensor itu dilakukan sebagai sebuah bentuk pencegahan.

Ketika tindakan pencegahan dilakukan sebelum pesan disebarluaskan, maka untuk dua respon berikutnya, dilakukan sebelum pesan itu disebarluaskan. Koordinasi merupakan sebuah respon dimana kita mempelajari bagaimana sebuah efek media mempengaruhi satu orang, lalu kemudian menyebar menjadi sebuah stereotype bagi orang lainnya. Untuk itu dibutuhkan sebuah prediksi tentang respon orang lain, untuk kemudian menyelaraskan respon pribadi terhadap respon orang lain. Agar tidak mudah untuk diseragamkan oleh pesan dari media.

Respon terakhir adalah pengaruh normatif. Dimana respon ini tidak semerta-merta menolak sebuah tindakan yang tidak wajar atau tidak sesuai dengan norma. Dimana sebagian besar individu begitu takut dengan norma atau kesepakatan bersama. Misalnya, bagaimana seorang wanita muda mati-matian melakukan diet agar dipandang sexy atau tidak gendut, sesuai dengan gambaran banyak pihak selama ini. Ini menunjukkan pesan media juga sangat berpengaruh terhadap norma-norma yang ada di masyarakat. Untuk itu, respon pengaruh normatif dibutuhkan untuk tidak begitu mudah terpapar oleh gambaran yang telah dibentuk media serta dikuatkan oleh norma di dalamnya.

 

Current Research in Media Priming (David R. Roskos-Ewoldsen dan Beverly Roskos-Ewoldsen)

 

 

  • Definisi

 

Priming adalah efek stimulus pada bagaimana kita bereaksi terhadap seseorang atau suatu kejadian.

 

Di studi media, priming merujuk pada efek suatu konten di media pada tingkah laku, pikiran, dan penilaian orang yang terpapar konten tersebut. Biasanya priming digunakan untuk mempelajari efek jangka pendek konten kekerasan di media, efek jangka panjang liputan politik seperti evaluasi kandidat, dan stereotipe pandangan terhadap minoritas (Roskos-Ewoldson, Klinger, 2007).

 

 

  • Karakteristik

 

  1. Efek priming menghilang seiring berjalannya waktu
  2. Primes yang lebih kuat akan cenderung berefek lebih kuat pada penilaian dan tingkah laku manusia
  3. Primes cenderung memiliki efek yang lebih kuat pada situasi yang ambigu.

 

 

  • Cara ukur efek priming

 

Terdapat tiga cara mengukur priming:

  1. Dapat melihat pada efek tiap operasionalisasi yang berbeda pada penilaian masyarakat atas kejadian yang ambigu;
  2. Efek priming pada tingkah laku, seperti meningkatnya agresifitas tingkah laku sekelompok orang yang menonton konten kekerasan di media dan membandingkannya dengan kelompok yang tidak menonton;
  3. Mengukur waktu seseorang untuk merespon sesuatu

 

 

  • Kekerasan di TV dan priming

 

Penelitian riset media terkait priming mengungkap ada tiga domain utama bidang penelitian: konten kekerasan di media, penilaian politik, dan stereotipe.

 

 

  • Model priming agresif

 

Terdapat dua model utama priming agresi.

Pertama, model neoassosiatonik. Hipotesanya adalah penggambaran konten kekerasan di media mengaktifkan konsep permusuhan -dan agresi- di otak.

 

Kedua, model General Affective Aggression (GAAM). Model ini memasukkan pengaruh dan gairah dalam rangka kerja, dan memperkenalkan proses tiga tahapan yang pada situasi tertentu mempengaruhi agresifitas dan tingkah laku.

 

Tingkat pertama melibatkan proses otomatis di luar kontrol diri. Tahapan kedua, kognisi dan afeksi, mempengaruhi penilaian utama. Penilaian ini seperti interpretasi situasi. Tahapan ketiga, secondary appraisals. Lebih memikirkan alternatif tingkah laku atas situasi.

 

 

  • Liputan Politik dan evaluasi presidensial

 

Ide bahwa isu yang diliput media memberi pengaruh pada informasi yang digunakan masyarakat untuk menilai presiden (Iyengar&Kinder, 1987).

Model priming politik Price dan Tweksbury (1997) berdasar pada model jaringan atas memori dan peran media dalam meningkatkan akses informasi dari memori.

Miller dan Krosnick (2001) salah menginterpretasi peran deliberatif proses sebagai pemaknaan akan aksesibilitas bukan merupakan komponen penting dari efek priming politik.

  • Media priming dan stereotipe

Penjelasan teoritis utama atas efek priming ditemukan pada liputan media mengaktivasi stereotipe di memori, pengaruhi penilaian terhadap hal lain dan isu kebijakan. Hal yang amat mencolok dari studi priming ialah stimulus didesain agar tidak ada referensi eksplisit akan stereotipe. Media secara implisit priming stereotipe yang secara langsung mempengaruhi pemikiran, kepercayaan, dan penilaian.

 

 

  • Kesimpulan

 

Priming media adalah fenomena nyata yang terjadi di berbagai domain dan media, mulai dari liputan berita hingga lirik rap, dan drama tv hingga dokumenter.

Priming biasanya dianggap sebagai model “efek terbatas” akan efek media.

 

Efek konten kekerasan di media (Bushman, Huesmann, Whitaker)

 

  1. Efek agresor

Penelitin eksperimen menunjukkan bahwa keterpaparan konten kekerasan di media menyebabkan orang-orang bertindak lebih agresif. Biasanya studi eksperimen ini menunjukkan konten kekerasan pada partisipan selama 15-30 menit, kemudian mengukur pemikiran agresif, perasaan, dan tingkah laku partisipan.

Contoh efek yang terukur seperti pada penelitian Geen dan O’Neal (!969) bahwa partisipan studi eksperimen lebih mempunyai keinginan memberikan orang lain kejut listrik. Pada studi Bartholow dan Anderson (2002) partisipan lebih mempunyai keinginan untuk mengeluarkan suara yang keras. Dan pada penelitian Josephson (1987) partisipan anak kecil dan remaja cenderung menyerang secara fisik satu sama lain.

 

Tak hanya TV dan film, musik pun memberikan efek yang sama (Anderson, Carnagey, &Eubanks, 2003; Johnson, Jackson, & Gatoo, 1995). Juga video games (Konijn, Nie Bijvank, & Bushman, 2007).

 

Meski metode yang digunakan berbeda-beda, namun kesimpulannya sama: terpapar konten kekerasan di media meningkatkan agresifitas dan kekerasan. Namun konten kekerasan di media bukan lah satu-satunya faktor penyebab tingkah lagu agresif dan kasar.

 

 

  • Fear of Victimization Effect

 

Penelitian menunjukkan bahwa penonton televisi di atas 4 jam per hari lebih takut menjadi korban kekerasan, lebih tidak percaya orang lain, dan memandang dunia sebagai tempat yang berbahaya, jahay, dan penuh kekerasan (Gerbner dan Gross, 1976, 1981).

 

Secara umum, efek ini terjadi ketika seseorang mengevaluasi lingkungan yang tidak dikenalnya.

 

 

  • Efek mati rasa atau matinya kesadaran

 

Orang yang mengonsumsi banyak konten kekerasa menjadi kurang simpatik terhadap korban kekerasan.

 

Orang yang bermain video games penuh kekerasan memberikan hukuman yang kurang keras dibanding yang bermain permainan tanpa kekerasan (Deselms&Altman, 2003).

 

Orang yang terpapar konten kekerasan memandang korban sebagai orang yang tidak terlalu terluka (Linz, Donnerstein, & Adams, 1989) dan menunjukkan lebih sedikit empati pada korban (Linz, Donnerstein, & Adams, 1988).

 

Efek ini nampaknya bertahan lama atau bisa berlangsung selamanya.

 

 

  • Mengapa orang mengacuhkan efek media?

 

    1. Kemungkinan besar orang berpikir “Saya (atau orang yang saya kenal) menonton banyak konten kekerasan dan tidak pernah membunuh siapapun. Saya juga tidak pernah mendengar seseorang menonton banyak konten kekerasan kemudian membunuh orang. Maka dari itu, konten kekerasan tidak ada efeknya.”

Kesalahan berpikir ini adalah contoh bagaimana kemungkinan heuristik digabung dengan masalah mendasar (Kahneman&Tversky, 1973) mengganggu pemikiran dalam menemukan penyebab.

    1. Orang percaya bahwa media memiliki efek yang lebih kuat dibanding diri mereka sendiri, disebut efek sudut pandang orang ketiga (Davison, 1983; Innes & Zeitz, 1988; Perloff, 1999). Konsekuensi efek psikologi ini adalah orang berpikir bahwa konten kekerasan memiliki dampak buruk bagi sebagian orang, namun bukan pada mereka, anak mereka, atau anak orang lain yang dibesarkan dengan cara seperti anaknya.
    2. Industri hiburan sering klaim bahwa konten kekerasan di media tidak meningkatkan agresifitas (Bushman & Anderson, 2001).
    3. Orang tidak memahami proses psikologis sebagaimana mereka memahami proses biologis.

 

Bagian Gina (chapter 24 Moderator of Violent Media Effects – Chapter 27)

 

Penengah Efek Kekerasan pada Media

Walaupun penelitian telah menemukan bahwa kekerasan di media dapat memproduksi keagresifan, korban dan efek mati-rasa, ada beberapa penengah yang penting dari efek-efek ini. Pertama, umur. Anak-anak lebih rentan terdampak dalam efek kekerasan jangka panjang. Moderator selanjutnya yaitu bagaimana kekerasan digambarkan dalam media. Dan juga penting untuk mengetahui siapa yang mengkonsumsi kekerasan pada media. Orang yang memiliki tingkat agresif yang tinggi rentan beresiko meniru kekerasan yang ditampilkan media.

 

Kenapa kekerasan pada media meningkatkan agresi?

Efek jangka pendek kekerasan pada media, meningkatkan sikap agresif anak-anak melalui tiga proses psikologis: 1) Sikap agresif yang pada dasarnya sudah ada, kognisi yang agresif atau reaksi emosional; 2) Peniruan sederhana dari skenario yang agresif; 3) Perubahan emosional distimulasi dari pengamatan kekerasan yang ditampilkan media.

Efek jangka panjang kekerasan pada media, meningkatkan sikap agresif melalui dua proses: 1) Belajar secara mengamati kekerasan yang ada di media; dan 2) pengaktifan dan pe-non-aktifan proses emosional.

 

Mengurangi Efek Kekerasan pada Media

Dapat dikurangi dengan pelabelan acara TV, namun ironisnya pelabelan tersebut justru menarik program TV untuk menambahkan tingkat kekerasan pada acaranya, walaupun disaat yang bersamaan industri TV mengaku bahwa mereka bertanggung jawab atas efek kekerasan pada acaranya. Pelatihan untuk orangtua dengan memberikan informasi lebih lanjut mengenai efek negatif pada kekerasan media agar mereka dapat lebih berhati-hati dengan tontonan anak-anaknya.

 

Chapter 27: Media and Sexuality

Konten seksual di Media

Ward (2002) mengidentifikasikan enam pola yang konsisten dalam sikap seksual pada media di Amerika. Diantaranya:

  1. Konten seksual lebih ditampilkan melalui sindiran secara verbal atau lewat lelucon daripada melalui penggambaran secara visual.
  2. Kebanyakan aktivitas seksual pada media terjadi diluar hubungan pernikahan.
  3. Konsekuensi fisik (seperti hamil atau terinfeksi secara seksual) dari aktivitas seksual jarang dibahas.
  4. Kuantitas macam-macam konten seksual dapat berbeda-beda di tiap media.
  5. Badan wanita lebih sering dijadikan objek daripada badan laki-laki.
  6. Seiring berjalannya waktu, referensi seksual meningkat di beberapa media.

 

Diluar konten hingga kemungkinan efek. Beberapa teori klasik tentang efek  media seperti teori kultivasi, teori kognitif sosial, dan teori proses informasi, digunakan untuk menjelaskan efek media dalam pengetahuan, sikap, serta tingkah laku seksual. Teori-teori ini jika digabungkan, akan membantu menjelaskan bagaimana media menggambarkan seksualitas dan interaksi seksual yang mungkin akan mempengaruhi konsumen media yang masih muda tentang pengetahuan dan penerimaan sikap seksual.

 

Tantangan Teoretis: Siapa? Kapan dan Bagaimana? Identitas sosial demografi seperti gender dan ras/etnis, karakteristik personal dan konteks sosial lainnya, mempengaruhi media mana yang dipilih, konten mana yang mendapatkan perhatian lebih dan mana tingkatan yang cocok untuk kehidupan sehari-hari remaja dan mana yang membuat remaja merasa seksual.

 

Kunci Penengah: Gender dan Ras/Etnis. Merupakan dua komponen identitas yang mempengaruhi konten media yang dipilih dan bagaimana ia diinterpretasikan. Ward (2003), menyimpulkan bahwa kepercayaan seksual laki-laki tidak begitu dipengaruhi oleh program televisi dibandingkan dengan perempuan.

 

Bagaimana dengan Media Baru? Kehadiran media baru membuat para remaja mulai menemukan hal-hal tentang seksualitas dan berinteraksi secara seksual dengan orang yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Di satu sisi, studi-studi menunjukkan bahwa banyak remaja yang menemukan informasi tentang kesehatan seksual di Internet. Namun di sisi lainnya, keterbukaan internet meningkatkan perhatian tentang eksposur pornografi yang tidak diinginkan, pelecehan seksual secara online, dan resiko seksual jika dua orang bertemu secara online.

 

Intervensi Potensial untuk Kesehatan Seksual. Media secara khusus berguna untuk mengajarkan remaja tentang praktik seksual dan kesehatan reproduktif. Namun secara bersamaan hal-hal itu membantu mempromosikan sikap seksual yang beresiko.

 

Edukasi Entertainment. Keuntungan edukasi entertainment dibandingkan dengan kampanye media yang tradisional bahwa ia dikelilingi oleh isu seksual (hubungan, nilai, cinta, keluarga, penyesalan) dapat dipahami lebih lanjut dengan bentuk dan nuansa yang lebih menarik.

 

Literasi Media. Edukasi mengenai literasi media merupakan pendekatan baru agar orang lebih memperhatikan kesehatan mereka. Literasi media fokus pada bagaimana media diproduksi dan dikemas dengan asumsi bahwa anak muda yang kritis resiko mengalami sikap tidak sehat yang dipromosikan di media lebih sedikit.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *