Rangkuman Bab 9 Journalism Today

Bab 9: Doing In-depth Reporting

Pemberitaan informasi ataupun kasus di media massa sering kali tidak mendalam dan hanya memaparkan secara sekilas. Padahal banyak berita yang membutuhkan riset dan penelitian lebih lanjut yang dinamakan in-depth reporting. Sayangnya, sering kali jurnalis yang ingin melakukan in-depth reporting ini dibenturkan dengan kepentingan media, waktu, serta jumlah uang yang dikeluarkan selama melakukan investigasi, sehingga menghalangi jurnalis dari melakukan kegiatan tersebut.

Data dari TRU Teenage Marketing and Lifestyle Study (2003) menunjukkan bahwa berita mengenai kekerasan terhadap anak, mabuk saat berkendara, dan prasangka atau rasisme merupakan  3 topik berita yang paling dicari oleh remaja.

Dalam buku ini diberikan 2 contoh berita, Development of the Boeing 757 dan Watergate. Berita mengenai pesawat Boeing 757 yang ditulis oleh Peter Rinearson memuat 1.200 halaman, 25.000 kata, dan dipublikasikan lebih dari 8 edisi Seattle Times. Banyak orang menganggap apa yang ia tulis merupakan in-depth reporting, namun Rinearson sendiri merasa tidak yakin apakah tulisannya merupakan bagian dari n-depth reporting atau tidak, karena menurutya laporan investigasi adalah laporan yang mengungkapkan kesalahan.

Lain halnya dalam kasus Watergate. Hal yang dibahas mengenai kasus tersebut dalam buku ini ialah dampak dari pemberitaan Watergate ini. Setelah berita mengenai Watergate dipublikasikan, ada perubahan yang terjadi di media massa dalam memahami apa itu laporan investigasi ataupun in-depth reporting.

Masih ada beberapa contoh tulisan in-depth reporting lainnya yang diberikan sekilas di dalam buku ini, namun yang perlu dipahami ialah bahwa semua laporan investigasi dan in-depth reporting memiliki tema yang tidak mudah untuk ditulis dan dilaporkan.

Mencari topik di sekitar sekolah yang dapat ditulis menjadi sebuah in-depth reporting tidaklah harus mengenai skandal ataupun menunggu kasus yang sensasional. Dengan sedikit usaha, cobalah menggali lebih dalam mengenai hal-hal sederhana dan menjadikannya berita yang bermakna. Misalkan, mengapa banyak murid yang berhenti sekolah? Mengapa banyak orang yang terbunuh dalam kecelakaan lalu lintas? Mengapa beberapa guru yang hebat justru malah berhenti mengajar? Semua dimulai dengan kata “mengapa”.

Laporan in-depth yang bagus tidak hanya mengambil beberapa kutipan, menulis enam hingga tujuh paragraf, namun mewawancarai sumber yang sama sebanyak empat hingga lima kali, mewawancarai lebih dari selusin orang yang terkait dengan topik yang dibahas, menghadiri pertemuan maupun musyawarah yang bersangkutan dengan topik, dsb.

Hampir semua tulisan in-depth reporting bukanlah tulisan yang pendek. Lalu, dalam majalah kampus atau sekolah, akan ditaruh di rubrik atau halaman yang mana? Hal pertama yang dapat dilakukan dalam  menyediakan space untuk tulisan in-depth reporting ialah menghilangkan trivia. Hal lain yang bisa dilakukan ialah membuat sidebars. Banyak pembaca yang menyukai sidebars atau biasa dianggap quick-read menus yang memaparkan informasi dengan terorganisir. Seperti menuliskan 5W + 1H dengan singkat.

Ketika menulis in-depth  stories yang panjang, kita harus lebih memerhatikan bagaimana menulis introduction-nya dibanding memikirkan apa lead-nya. In-depth reporting yang bagus, harus memiliki introduction yang menarik perhatian pembaca, bisa saja dimulai dengan kalimat anecdot ataupun penggambaran suasana.

Tiga paragraf pertama dalam menulis in-depth reporting berfungsi seperti lead, sebagai introduction. Misal, jika menulis laporan in-depth mengenai anoreksia, 3 paragraf pertama dapat menceritakan kisah salah satu penderita anoreksia, bisa mengenai bagaimana ia berjuang mengurangi berat badan dengan tidak makan, latihan fisik berlebihan, ataupun bagaimana ia menyembunyikan penyakit tersebut dari orang-orang terdekatnya.

Setelah paragraf perkenalan, barulah penulis dapat masuk ke dalam topik yang ingin diangkat, misal bagaimana penyakit anoreksia itu berdampak pada penderita dan bagaimana cara terbaik mengobati penderita. Di akhir tulisan, penulis dapat memaparkan mengapa hal ini perlu diberitakan atau menulis kutipan yang amat menggugah hati pembaca.

Riset, organisasi atau tim, waktu untuk menilik ulang kembali hal-hal yang diungkapkan dalam tulisan, serta cara penulisan yang baik merupakan elemen-elemen dari laporan in-depth. Jangan lupa untuk mencari validitas dan reliabilitas sumber-sumber yang digunakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *