Phatom of The Opera Synopsis

Jarang sekali ada film horor yang tak hanya menyeramkan, namun juga memberikan nuansa musikal di dalamnya. Phantom of The Opera pertama kali ditulis oleh Gaston Leroux dalam bahasa Perancis “Le Fantôme de l’Opéra” pada 1909-1910. The Phantom of The Opera, Angel of Music, dan Music of The Night merupakan lagu-lagu yang terdapat dalam film maupun pentas drama The Phantom of The Opera ini. Novel Le Fantôme de l’Opéra ini juga menginspirasi Andrew Lloyd Webber untuk menggubah lagu dalam teater musikal The Phantom of The Opera yang dipentaskan di West End pada 1986. Drama musikal ini pun sudah ditampilkan sebanyak 10.000 kali. FIlmnya pun sudah dibuat berkali-kali oleh berbagai sutradara. Namun kisahnya tetap sama.

Kisah ini bercerita mengenai Christine Day, seorang gadis yang berencana mengikuti casting di sebuah opera yang berjudul The Swan. Dengan bantuan temannya, Meg, Christine mulai mencari-cari lagu yang cocok untuk dinyanyikan saat casting. Mereka mencari partitur-partitur kuno di sebuah perpustakaan, dan mereka menemukan partitur kuno berjudul Don JUan Triumphant yang digubah oleh Eric Destler. Christine amat gembira dan langsung coba menyanyikan lagu tersebut. Namun tak disangka, not-not balok di partitur tersebut mengeluarkan darah dan membanjiri telapak tangannya. Christine menjerit memanggil Meg, namun ketika Meg datang, tangannya sudah bersih, tak ada setitik pun noda darah.

Ketika casting, Christine menyanyikan lagu Don Juan Triumphant tersebut hingga para juri amat terbuai dibuatnya. Tiba-tiba sebuah lampu panggung jatuh tepat di bagian kepala Christine hingga ia pun pingsan.

Saat tersadar, Christine sudah berada di tempat lain, tepatnya di London Opera House, namun bukan pada zaman sekarang. Ia seakan mengalami perjalanan dengan mesin waktu. Ia mendapatkan perna kecil dalam opera berjudul “Don Juan Triumphant“. Joseph Buquet, kru yang bertugas mengangkat layar, mengatakan bahwa saat latihan, Christine memang jatuh pingsan karena ada karung yang jatuh dari langit. Ia juga mengatakan bahwa hantu lah yang menjatuhkan karung tersebut ke panggung.

Malam pun tiba, hantu yang disebut-sebut tadi mendatangi kamar Christine. Namun Christine mengira bahwa hantu tersebut adalah malaikat yang dikirimkan oleh ayahnya untuk membantunya berlatih. Hantu tersebut mengajarinya lagu “Marquerite” yang sebenarnya dinyanyikan oleh pemeran utama, La Carlotta.

La Carlotta memang diva dunia opera, sayangnya ia sombong dan jahat. Ia memaksa pemilik London Opera House untuk menyingkirkan Christine. Sang hantu opera pun memberikan pelajaran kepada La Carlotta. Ia menggantung mayat Joseph yang telah dikuliti di dalam lemari baju Carlotta. Ia terkejut dan menjerit hingga suaranya habis. Hal ini membuat Carlotta tak lagi dapat bernyanyi. Christine pun dipilih sebagai penggantinya.

Ketika sedang tampil sebagai pemeran utama “Don Juan Triumphant”, Christine baru menyadari bahwa cerita opera tersebut menggambarkan kisah sang hantu opera semasa hidupnya. Ia adalah penggubah lagu yang berbakat dan ingin karyanya diingiat seperti Mozart dan Beethoven. Maka ia pun menjual jiwanya pada setan yang menjanjikan ia bisa membuat sang hantu opera terkenal. Tak disangka, si setan merusak wajah sang hantu opera hingga menjadi buruk rupa dan berkata, “Dunia memang akan menyukai dan mengingat lagumu. Tapi hanya itu saja yang akan mereka sukai darimu.” Dan hal tersebut membuat sang hantu opera tidak percara diri sehingga tidak bisa bergaul dan bersosialisasi dengan manusia lain.

Christine yang berhasil memukau penonton malam itu langsung menjadi buah bibir. Namun ada satu kritikus opera yang berpendapat bahwa penampilan Christine malam itu amat buruk dan tak layak menjadi diva. Sang hantu opera yang mengetahui hal ini langsung membunuh si kritikus. Ia kemudian mendatangi Christine dan berjanji ia akan membuat Christine terkenal dan tidak akan ada yang berani mengkritiknya. Christine pun setuju dan mengikuti si hantu opera pulang ke tempat tinggalnya yang ternyata berada di saluran got tepat di bawah London Opera House.

Di tempat tinggal sang hantu opera, Christine menyadari bahwa sang hantu adalah Eric Destler. Dan di situ pula Eric memaksa Christine menerima lamarannya dan menyelipkan cincin di jari manisnya. Christine tak bisa menolak dan tak bisa melepaskan cincin tersebut.

Tak lama kemudian, serombongan polisi datang untuk mencari keberadaan Christine. Eric yang mengetahui kejadian ini membunuh semua orang yang terlibat dalam pencarian tersebut. Tapi Richard, kekasih Christine, dan Inspektur Hawkins tetap hidup dan berhasil menemukan tempat tinggal Eric. Murka, Eric membunuh mereka berdua di depan Christine. Ia sangat marah hingga ia menyambar lilin dan melemparkannya ke partitur Eric yang belum selesai. Eric panik, karena partitur-partitur tersebut adalah jiwanya, dan tanpa partitur-partitur tersebut ia akan mati. Api menjalar begitu cepat, sang hantu opera pun musnah. Christine pun pingsan.

Ketika tersadar, Christine telah kembali ke casting opera yang dilakukannya di New York. Saat itulah ia bertemu dengan Foster, pemilik gedung opera di New York yang wajahnya sangat mirip dengan Eric Destler. Dan ternyata, Foster memang arwah Eric yang hidup kembali karena Christine menyanyikan Don Juan Triumphant. Partitur yang berubah menjadi darah itulah yang menjadi kebangkitan awal dari Eric, dan ia tetap mengincar Christine.

Untunglah Christine sudah tersadar, ia tak mau lagi terkena rayuan palsu dan janji Eric ataupun Foster akan ketenaran dan keberhasilan di dunia opera. Christine pun menikam jantung Foster dan melarikan karya-karya Eric yang belum selesai. Ia merobek dan membuangnya ke selokn, termasuk partitur asli Don Juan Triumphant.

2 thoughts on “Phatom of The Opera Synopsis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *