Gelar Magister, Semester 1

Paul Long dan Tim Wall Chapter 7 – Media Production in A Global Age

Tugas Kelompok Kajian Media

 

Media Studies (Texts, Production, Context) – Paul Long dan Tim Wall

Chapter 7 – Media Production in A Global Age

Oleh:

Caroline Claudia Christy – 180165624

Gina Aulia Taqwa – 1806252643

Novan Choirul Umam – 1806252776

Svaradiva Anurdea Devi – 1806166330

 

Apa Itu Media Global ?

Perkembangan zaman pada akhirnya membawa media pada sebuah dunia baru. Dimana media kini bisa diakses bagi siapa pun, asalkan ada internet. Keberadaan internet membuat setiap individu di dunia ini memiliki kemampuan untuk mengetahui apa yang terjadi di belahan bumi yang jauh dari posisinya berada. Perkembangan ini lantas diikuti dengan munculnya perusahaan-perusahaan yang berada dalam lingkungan media menjadi lebih maju. Sebagai contoh, kita bisa melihat bagaimana Facebook berkembang. Sebuah jejaring sosial yang pada awalnya diperuntukan bagi para mahasiswa, kini menjadi sebuah media global yang banyak digemari oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Begitu pula yang terjadi pada Google. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada, kini Google memiliki banyak media global yang mampu menjawab kebutuhan manusia pada umumnya. Seperti Google Search, Google Images, Google Maps, Google Earth hingga Youtube.

Namun, itu semua dapat dinikmati bagi mereka yang memiliki akses terhadap internet. Bagi mereka yang tidak memiliki sumberdaya untuk menikmati internet maka itu semua tidak dapat mereka nikmati. Alhasil, terjadilah sebuah ‘Perpecahan Digital’. Karena adanya ketidaksetaraan perihal akses ke media global (Balnaves et al., 2008).

Informasi Global – Akar dan Format Bisnis Media Global

Lahirnya internet kemudian memberikan akses untuk dapat merasakan langsung kejadian yang terjadi jauh dari posisi kita. Akses terhadap internet akhirnya sedikit mengesampingkan media konvensional dalam memberikan informasi atau berita kepada masyarakat. Perusahaan-perusahaan media televisi dan radio yang memang telah lebih dulu muncul pada akhir abad ke-18, menjadi pusing bagaimana agar bisnis media mereka tetap dapat bertahan menerima serangan dari media-media di internet. Ditambah lagi, kenyataan bahwa berita yang mereka hasilkan sedikit banyak mendapatkan pengaruh dari para pengusaha yang notabenenya adalah konsumen setia mereka, sehingga masyarakat sedikit ragu dengan kualitas berita para media-media konvensional ini.

Masyarakat pada akhirnya lebih percaya dan tertarik pada kisah yang secara langsung diceritakan oleh sang aktor dari tempat kejadian langsung, dan kebutuhan itu tersedia pada media-media di internet.  Sebagai langkah adaptasi, pada akhirnya perusahaan-perusahaan media konvensional mencoba untuk masuk ke internet dengan menyediakan berita-berita yang dapat dinikmati masyarakat secara online dimanapun dan kapanpun, asalkan terhubung dengan internet.

Lingkungan Baru Media Global, Layanan Pencarian dan Akses Informasi

Kemunculan internet lantas melahirkan layanan-layanan pencarian informasi seperti Google dan Yahoo. Namun pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana Google ataupun Yahoo memproses kata kunci yang kita berikan menjadi sebuah informasi yang kita inginkan ?

Ada beberapa cara, yang pertama adalah mereka akan mengarahkan kita pada situs-situs berbayar untuk mendapatkan informasi yang kita inginkan. Kedua, mereka banyak mengarahkan kita pada informasi yang berbasis dengan Bahasa Inggris. Untuk itu, pencarian informasi menggunakan bahasa non-Inggris terasa lebih susah. Ketiga, jika kita mencari informasi berita di mesin pencarian, maka yang akan muncul adalah situs-situs berita yang sumber beritanya merupakan berita-berita pada media konvensional, yang notabenenya diproduksi oleh para perusahaan berita konvensional pula. Artinya beritanya sedikit banyak sama dengan berita-berita offline.

Permasalahan-permasalahan ini kemudian menuntut lahirnya organisasi-organisasi yang lahir untuk memperhatikan fenomena ini. Mereka menggali aspek manajemen serta fungsi dari internet itu sendiri. Seperti www.internetgovernance.org dan World Wide Web Consortium (W3C) (www.w3.org).

Tatanan Media Global

Pertanyaan mengenai apakah media penyebaran informasi global seperti internet dapat diatur? Jika bisa, di mana keseimbangan terletak antara dapat secara bebas mengakses dan mengirimkan informasi, di satu sisi, dan mengamankan hak kami atas privasi, keamanan dan kekayaan intelektual, di sisi lain? Ketika pers nasional dan lembaga penyiaran yang merundingkan sesuatu dengan lama dan keras, info tersebut sudah tersedia secara bebas di internet. Dalam kasus kartun Muhammad misalnya, Human Events.com (2006) dan Mohammed Image Archive sudah menyebarluaskan karikatur tersebut.

Regulasi internet ditakutkan bermasalah ketika pemerintah menindas atau paranoid menggunakan dalih melindungi warga negara dari ‘ide subversif’ atau membela ‘keamanan nasional’ atau ‘kohesi nasional’ untuk menolak akses mereka ke internet, biasanya dengan memaksa mereka untuk berlangganan ISP yang dikelola negara. Seperti pemerintah Tiongkok yang mengoperasikan penyensoran internet dalam skala besar dan canggih, memotong pencarian dan memblokir situs-situs tertentu dan, ketika orang-orang berhasil terhubung ke situs yang dilarang, menyela dan mengakhiri aliran. Sensor ini telah mendorong respons yang terorganisasi. The Great Firewall of China adalah kelompok pekerja media nirlaba yang bertujuan untuk membuat sistem sensor Tiongkok transparan. Dengan demikian, situs web mereka melacak dan berapa banyak, atau berapa kali, situs web disensor di China (lihat: www.greatfirewallofchina.org).

Penerapan regulasi internet juga bisa menjadi masalah. Isu-isu perubahan teknologi, dampak keuangan negatif pada operator media komersial, dan peraturan yang berbeda di berbagai negara, seperti studi kasus pada acara penyadapan internet. Permasalahan regulasi lainnya adalah jika produksi dan distribusi informasi didominasi oleh konglomerat media global dari sejumlah negara (Eurocentric, Anglo- American, Judaeo-Christian, white, dll.), Atau didominasi oleh regulasi yang berasal dari negara-negara tertentu, maka ini kemungkinan akan “mewarnai titik-titik pandang” atau mudahnya menjadi “berat sebelah” dalam mengelola informasi yang dipilih, disajikan, didistribusikan dan diatur.

Entertainmen Global

Sebagian besar media hiburan abad ke-20 adalah film, TV, dan musik populer. Pola-pola dominasi global dilihat sebagai kesempatan oleh para perintis film awal dengan cepat untuk apa yang kemudian dikenal sebagai ‘globalisasi’ dan mengembangkan struktur organisasi dan teknik pemasaran untuk memanfaatkannya (Balnaves dkk., 2008). Pada 1930-an, sistem studio Hollywood memungkinkan lima studio besar (MGM, Paramount, Twentieth Century Fox, Universal dan Warner Brothers) menjadi kartel yang mengendalikan semua aspek produksi, distribusi dan pameran. Ini adalah proses yang disebut ‘integrasi vertikal’, menerapkan hal yang sama – prinsip produksi massal dan efisiensi waktu dan gerak untuk film – selayaknya Ford Motor Company menjalankan bisnis mobil.

Sayangnya untuk industri film (seperti dengan sektor media lainnya), dengan munculnya digitalisasi dan konvergensi media pada intelektual tahun 1990-an hak milik (HAKI) sangat ditantang, sebagai konten hiburan dan produk digital lainnya dapat diduplikasi dan dibagikan melalui internet hampir gratis. Industri musik pun ditantang karena adanya internet. Napster, sebuah perangkat lunak yang dibuat pada tahun 1999 oleh seorang mahasiswa berusia 19 tahun, yang memungkinkan orang di berbagai belahan dunia untuk berbagi musik melalui komputer mereka.

Pada 2001, setelah adanya gugatan hukum atas hak cipta, ditetapkan bahwa Napster harus mencegah pelanggannya mendapatkan akses ke konten pada indeks pencariannya yang dapat melanggar hak cipta. Keputusan ini berarti mengakui bahwa konsumen musik, melalui Napster, telah mengubah distribusi, bentuk dan akses ke produk budaya dan membuktikan kepada industri bahwa ada pasar yang signifikan untuk berbagai bentuk konsumsi trek individu, terutama jika langsung tersedia, daripada melalui pembelian compact disc yang unik (Ó Siochrú dan Girard, 2002).

Televisi dan Globalisasi

Hari ini, televisi menyebar di seluruh dunia. Masalah yang mempengaruhi kebijakan pembuatan, ekonomi dan budaya, mempengaruhi agenda sosial masyarakat dan ruang publik mereka (Volkmer, 1999). Misalnya, sejumlah saluran kabel Amerika Serikat yang membawa program berita -seperti NBC / MSNBC, CNN Internasional, Bloomberg dan CNBC- telah meluas ke dunia internasional Eropa dan Asia Tenggara. Dimensi lain yang dipengaruhi globalisasi televisi adalah cakupan dan liveness 24/7 (biasanya disebut sebagai berita bergulir), dan kapasitas yang dihasilkan untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah- dikenal sebagai efek CNN.

Selanjutnya, semua sistem penyiaran komersial bergantung pada iklan, yang menyebabkan pembuat program hanya membuat program dan menghasilkan berita untuk pemirsa yang disukai oleh pengiklan (Machin dan van Leeuwen, 2007)

Media Global, Pasar Bebas dan Aturannya

Dorongan bisnis media menuju ekonomi skala besar dan dalam mengejar strategi seperti sinergi di Indonesia untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan laba, kepemilikan lintas-media sangat besar potensi menghasilkan uang, terutama jika dilihat secara global.  Undang-undang Telekomunikasi tahun 1996 di AS menghapus batasan antara media yang berbeda, yang memungkinkan perusahaan untuk membuat akuisisi dan merger di berbagai media – sehingga satu perusahaan sekarang bisa memiliki banyak media penyiaran dan cetak yang berbeda (padahal, secara historis, perusahaan surat kabar cenderung hanya memiliki surat kabar dan perusahaan siaran hanya perusahaan radio dan TV). UU tersebut juga mengangkat semua pembatasan kepemilikan stasiun radio, dan pembatasan di stasiun TV kepemilikan selama kepemilikan perusahaan mencapai tidak lebih dari 35 % khalayak nasional. Akibatnya, ada 185 akuisisi dan merger dalam industri penyiaran pada tahun 1996 (Demers, 2002). Semangat dari Undang-Undang ini kemudian menyebar luas secara global, mulai dari Eropa dan Amerika Latin.

Pemerintah berkewajiban untuk melepaskan pembatasan dan kontrol atas kepemilikan sumber daya media dan lembaga mereka jika mereka mau berpartisipasi dalam perdagangan dunia dan berlangganan perjanjian yang diresmikan WTO (Machin dan van Leeuwen, 2007). Lingkungan pengaturan ini mengarah pada penciptaan media konglomerat besar-besaran pada 1990-an, seperti Viacom, Disney dan News Corporation, karena mereka membeli perusahaan lain di seluruh dunia. Konglomerat semacam itu termasuk di dalamnya perusahaan terbesar di dunia, dengan minat di berbagai bidang lainnya industri (Herman dan Chomsky, 2002). Fakta bahwa konglomerat seperti itu mudah dan secara aktif menyerap perusahaan media yang lebih kecil telah menciptakan sebuah situasi di mana berbagai bentuk media, genre, dan saluran distribusi yang amat beragam hanya dimiliki oleh segelintir konglomerat media.

Mengevaluasi dan Menolak Globalisasi

Ada tiga argumen yang mengusulkan bahwa penting bagi kita untuk mengevaluasi kembali dan menolak keberadaan globalisasi, diantaranya:

  1. Komersialisasi dan globalisasi, dalam menyebarluaskan jumlah informasi yang ditawarkan ke publik, namun dalam saat yang bersamaan mempersempit jarak informasi.
  2. Dengan keberadaan media konglomerat yang memiliki dan mengontrol portal media dan hiburan, garis pemisah antara fakta dan propaganda menjadi lebih sulit untuk dibedakan.
  3. Studi-studi menunjukkan bahwa media global, seperti media mainstream memperkuat institusi dominan dan sistem nilai, seperti bertanggung jawab atas kapitalisme dan representative demokrasi.

Imperialisme Media dan Imperialisme Budaya

        Imperialisme budaya menaruh perhatian pada cara hidup manusia, seperti nilai, kepercayaan, struktur moral, pada masyarakat sosial yang didominasi oleh cara hidup masyarakat lainnya. Hal ini dapat dimengerti dalam hubungannya dengan gagasan bahwa sistem dunia terdiri dari masyarakat yang memegang jumlah kuasa yang berbeda dan dapat dibedakan pada ‘core’ (memiliki kuasa, modern, dan seringkali Negara-negara barat) dan ‘peripheral’ (marginal, tidak begitu punya kuasa, negara berkembang). Imperialisme budaya mengacu pada jumlah proses di mana masyarakat perifer tertarik, tertekan, dipaksa dan terkadang disuap menjadi institusi sosial yang sesuai dengan atau yang mempromosikan nilai dan struktur dari sistem modern yang mendominasi (kapitalis, pasar bebas, kebarat-baratan).

        Imperialisme media mengacu pada proses dimana kepemilikan, distribusi dan konten media pada suatu Negara adalah subjek tekanan eksternal substansial dari kepentingan media dan Negara lain. Secara lebih jelas, perusahaan media memiliki peran penting untuk bermain dalam penyebaran budaya dan proses imperialisme budaya.

Menglilustrasikan ‘ide bebas’: Al Jazeera

Al Jazeera dihormati oleh para jurnalis, memegang perjanjian dengan CNN, ABC, NBC, FOX, BBC, Japan’s Broadcasting Corporation, Nipon Hoso Kyokai (NHK), dan perusahaan televisi publik milik Jerman, Zweites Deutshes Femsehen (ZDF). Sepuluh tahun setelah dikeluarkan Al Jazeera pada 2006, dikeluarkanlah Al Jazeera International (AJI). AJI membawa agenda berita yang berbeda pada negara barat. Fokus pada mengembangkan isu-isu dunia dan menggunakan reporter dari saluran lain. Tujuan utama Al Jazeera adalah membangun identitas Muslim secara global dan Muslim transnasional. Terbukti dengan transmisi hariannya yang menyampaikan pesan-pesan religi.

 

Dampak Media Global – Pendekatan & Konsep

 

  • Dorongan untuk Pengembangan
    Studi awal mengeksplorasi peran modernisasi media Barat tentang agraria, masyarakat tradisional, tentang cara mereka mendorong ‘pengembangan’ melalui menyebarkan keaksaraan, keterampilan komunikasi dan gagasan serta nilai ‘progresif’. Evaluasi dan kritik asumsi ‘memacu untuk pembangunan ‘- baik secara moral untuk dampak disintegratifnya terhadap budaya nasional, dan praktis untuk fakta bahwa itu akan berdampak pada elit negara berkembang.

 

  1. Media dan imperialisme budaya dari konglomerasi global

Setelah proses dekolonisasi Perang Dunia Kedua menghasilkan gelombang bunga dari koloni dalam kemerdekaan yang dibangun di atas rumah-tumbuh nasionalisme. Mereka mencari kemerdekaan tidak hanya dalam ekonomi-politik mereka struktur tetapi dalam struktur komunikasi mereka. Studi mengenai konsep ini berpendapat bahwa media konglomerasi mengubah struktur media nasional, sebagai lalu lintas internasional produk media komersial yang mengalir dari pusat ke pinggiran adalah ‘cara paling menonjol yang digunakan untuk melemahkan masyarakat yang lemah secara budaya ke dalam sistem dunia modern.

  1. Efek Politik dari transmisi produksi media internasional dan global

Studi tentang negara totaliter besar (seperti Uni Soviet dan Cina) berfokus pada sifat propaganda dari komunikasi mereka, yang didesain untuk meredam perbedaan pendapat dan mengintegrasikan beragam etnis dan negara yang sebelumnya terpisah menjadi bentukan bangsa tertentu. Studi terhadap peran BBC World Service juga telah dipelajari – meskipun biasanya berfokus pada dampak statusnya sebagai penyiar terpercaya secara luas. Misalnya, penelitian Skuse (2002) tentang peran sosio historis radio di Afghanistan menunjukkan bahwa BBC Worlds service jauh lebih dapat dipercaya oleh masyarakat umum daripada stasiun radio nasional, yaitu Radio Afghanistan Suara Radio Taliban Shari’at.

  1. Heterogenerisasi

Heterogenerisasi atau keragaman dihasilkan dari bagaimana orang menggunakan dan menginterpretasikan media global. Keragaman terjadi melalui hibridisasi atau, cara-cara di mana bentuk-bentuk media dipisahkan dari praktik yang ada dan dikombinasikan dengan bentuk baru.

Formulasi dibentuk terhadap konsep seperti de-teritorialisasi yang menggambarkan bagaimana individu kehilangan rasa relasi natural terhadap geografi dan teritori sosial daerah asal atau tempat tinggal. ‘Re-teritorialisasi’ sendiri adalah ketika orang-orang mencoba untuk membangun atau menghadirkan kembali sebuah budaya rumah/asal kemanapun mereka pergi atau empat orang mencoba untuk membangun kembali rumah budaya baru kemanapun mereka pergi, atau menggabungkan tradisi impor dengan sumber daya di wilayah baru untuk membuat versi lokal dari budaya yang jauh.

Konsep lain yang relevan adalah ‘pribumisasi’, di mana produk globalisasi dibuat atau disesuaikan agar sesuai dengan kekhususan tempat-tempat lokal. Sebagai contoh, perusahaan media global mungkin melokalisasi produk mereka sendiri dengan mempekerjakan orang dengan latar belakang multikultural atau yang memiliki  pengetahuan tentang target pasar di mana produk akan dipasarkan, sehingga menghasilkan produk yang sudah dilokalisasi; atau dengan melokalisasi produk global, seperti format TV tertentu dengan mempekerjakan aktor lokal. Contohnya Film Crazy Rich Asians, adalah film drama komedi romantis mengenai kisah cinta seorang profesor wanita keturunan Asia dengan anak konglomerat Asia yang tinggal di Singapura.  Film ini dirilis oleh Warner Bros. Pictures America sebagai film Hollywood pertama yang mayoritas diperankan oleh aktor keturunan Asia dan Asia-Amerika, dengan lokasi syuting di Singapura dan disutradarai oleh John M. Chu yang juga merupakan keturunan Tionghoa.

Semua konsep ini layak ditindaklanjuti dan dipikirkan sebagai alat bantu memahami proses dan konsekuensi dari globalisasi. Diantara pendekatan ini, kita dapat membedakan unsur optimisme dan pesimisme apa artinya hidup dalam ekonomi global, di mana budaya menjadi lebih baik berdifusi dan dibagikan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *