Past

12 Desember 2010

20:00

Mandi? Sudah. Shalat? Sudah. Makan? Sudah. Belajar? Ah malas sekali rasanya. Tak tahan diriku untuk membuka Facebook, bercengkrama dengan teman-temanku. Kalian tidak tahu Facebook? Itu lho, jejaring sosial yang menawarkan fasilitas chatting, posting status, foto, dan comment. Nah.. tahu kan?

Kubuka Facebook-ku dengan penuh semangat. Kubuka notifications, message, dan friend request secara berurutan. Tiba-tiba kulihat satu nama yang kukenal sejak dulu. Nama yang membuatku trauma akan laki-laki, “Hiroshi Lukito”. Nama itu terpampang paling atas dalam friend request Facebook-ku. Darimana dia tahu Facebook-ku? Untuk apa dia add aku? Kupejamkan mata, mencoba membawa pikiran-pikiran baik ke dalam otak ku.

Dua tahun sebelumnya

22 Juni 2008

Kriiing…

Suara telepon masuk.

“Halo, bisa bicara dengan Nadia?”

“Ya, ini saya sendiri. Maaf, ini dengan siapa?”

“Dengerin baik-baik ya cewek gatel, jauhin Lukito! Dia itu tunangan gue! Dasar perempuan murahan!”

Tuuuut…

Suara telepon terputus.

 

 

Tiga tahun kemudian

14 November 2011

23:00

Pip.

Suara sms masuk.

Kubuka sms dari nomor tak dikenal itu.

Nadia, nama bokap lo Suhi, ya?

Astaga! Siapa ini?! Malam-malam seperti ini tiba-tiba mengirim sms menanyakan nama Papaku.

Dengan bodohnya aku tetap menjawab sms itu,

Ini siapa?

1 detik…

2 detik…

3 detik…

Pip.

Ini Hiroshi.

Deg.

Jantungku berhenti berdetak.

Darimana dia tahu nomor ku? Bukankah selama ini aku sudah menghindari dia?

Iya shi, ada apa ya?

Tak lama kemudian ia membalas.

Gapapa, gue nge-fans sama bokap lo.

Oh Tuhan… Mungkin lelaki ini sudah sakit jiwa.

Menghilang tiada kabar tiba-tiba muncul begitu saja mengakui kalau dia nge-fans sama Papaku.

Kuceritakan perihal sms dari Hiroshi ini kepada Kakakku, Natasha.

Kulihat air mukanya berubah ketika kusebut nama “Hiroshi”.

“Lo ngapain sih dek masih jawab sms dari dia? Bukannya udah cukup dia nyakitin lo?”

“Iya aku tau kak, lagipula kan dia cuma nanya nama papa doang.”

“Inget baik-baik dalam otak lo. Itu cowok tuh udah sakit jiwa. Dia udah nyakitin lo dan ninggalin lo begitu aja! Ngapain lo masih baik-baikin dia? Kalo lo masih sayang sama diri lo, mending lo jauhin dia!”

……

Aku membisu. Teringat kembali kenangan-kenangan buruk itu. Kenangan akan…

Tok tok tok…

“Dek… Keluar kamar sebentar dong!”, panggil Papaku.

Kubuka pintu kamar dengan malas.

“Ada apa, pa?”

Dibawanya aku ke ruang keluarga, mendekati laptopnya yang sedang membuka halaman Facebook.

“Sini deh sini, lihat Facebook papa. Kayaknya ada temenmu yang nge-add papa. Namanya Hiroshi Lukito.”

Jeder! Petir seolah-olah menyambar diriku.

Ada apa dengan lelaki ini? Apa maunya? Meng-add Facebook-ku, mengirim sms malam-malam, lalu sekarang ingin mendekati Papaku?

“Oh itu temen Nadia, pa.”

“Oh ya? Papa accept ya.”

“Hem.. Sebaiknya jangan menurut Nadia.”

Perlu diketahui Papaku memang pemusik yang cukup terkenal, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Tetapi.. Ada angin apa tiba-tiba Hiroshi nge-fans sama Papaku?

29 November 2011

17:00

“Oh ya.. Di Citos ya, jam 8. Oke oke, sampai ketemu nanti ya.”

Kudengar Papaku asyik mengobrol di telepon dengan seseorang. Disambarnya kunci mobil kesayangannya dan beberapa partitur lagu-lagu klasik yang sudah sering ku dengar.

“Papa mau ke Citos? Ngapain, pa? Ketemu siapa?”

“Itu lho dek, temen kamu, si Hiroshi! Dia ngajakin papa konser diluar negeri.”

Duarrrr!

Meledak rasanya otakku!

“K-kok bisa, pa? Emang papa udah pernah ngobrol sama dia?”, tanyaku dengan tergagap. Aku tidak berani bicara kasar kepada Papaku.

“Iya, papa pernah ketemu dia sebelumnya di Citos. Bareng mama dan adik-adiknya juga.”

“Kok papa engga bilang-bilang ke Nadia?! Emang papa engga curiga tiba-tiba diajak konser keluar negeri sama orang yang baru dikenal gitu?”, tanyaku dengan nada sengit.

“Ya.. kan sekarang papa udah bilang ke kamu. Kok kamu jadi marah ke papa?”, jawab Papaku dengan nada tinggi penuh keheranan.

“Oh engga pa, engga ada apa-apa. Maaf”

Tuhaaaan… Kumohon bangunkan aku dari mimpi yang tak dapat kumengerti ini…

Aku termenung. Tidak tahu lagi apa yang ada di dalam otakku. Aku harus bertindak. Ada yang mencurigakan dari gelagat Hiroshi.

Kuambil handphone-ku yang tergeletak di kasur. Kucari nama “Hiroshi Lukito” dalam phonebook-ku. Kutekan tombol dial berwarna hijau. Terdengar nada sambung yang membuatku teringat kenangan-kenangan masa lalu. Kenangan-kenangan yang mengerikan itu…

“Halo Nadia… Akhirnya kamu nelfon aku juga.”, suara Hiroshi terdengar nyaring di gendang telingaku.

Kuberanikan diri menjawab perkataan dia dengan kata-kata kasar.

“Heh lo mau ketemuan sama bokap gue? Ngapain, hah? Dasar gila!”

“Eits.. Kok ngomongnya kasar sih? Aku kan cuma bermaksud baik sama papa dan keluarga kamu. Engga ada salahnya kan menjalin hubungan baik dengan “teman lama”?

Kudengar ia sedikit menekan kata “teman lama” dengan maksud mengejek diriku.

“Stop, shi! Apa sih mau lo? Engga usah bawa-bawa keluarga gue dalam hal ini!”

“Waduh non Nadia.. Kan udah dibilangin, saya hanya bermaksud baik kepada ayah dan keluarga nona.”

Tut…

Kumatikan telepon itu. Tidak ada gunanya aku berbicara dengan orang gila seperti dia! Bisa-bisa aku ketularan gila seperti dia.

Kucoba menelepon Papaku berkali-kali, tetapi tidak diangkat juga.

Oh Tuhan… Apa yang terjadi? Semoga papaku baik-baik saja.

30 November 2011

03:00

Tak henti-hentinya aku berdoa mengharapkan keadaan Papaku baik-baik saja.

Bam.

Suara pintu ditutup.

Tiba-tiba terlihat bayangan seseorang memasuki rumah.

“Assalammu’alaikum..”, kata Papaku.

“Wa’alaikumsalaaaaam! Papaaaaaa! Darimana aja? Kok baru pulang jam segini?”, jawab diriku sambil mengecek badan Papaku.

“Iya, tadi keasyikan ngobrol sama Hiroshi. Eh, papa konser di Bandung tanggal 12 Desember. Kamu sama kakak mau ikut engga? Disiapin akomodasi tuh sama Hiroshi.”

Tuhaaaan! Tak tahan lagi aku dengan sikap lelaki satu itu!

Pasti ada maksud tertentu dibalik semua sikap baiknya.

Semua perlakuan dan ucapan baiknya hanya untuk menutupi maksud jahatnya saja.

“Hem… Nanti Nadia pastiin dulu ya pa, soalnya seinget Nadia tanggal segitu tuh lagi ujian semester.”

“Hoo yasudah, nanti kamu kabari langsung saja ke Hiroshi. Papa tidur dulu ya, kamu juga langsung tidur!”

12 Desember 2011

07:00

Pagi ini kuawali dengan penuh perdamaian dengan diriku sendiri.

Akhirnya aku dan kakakku memutuskan untuk menghadiri konser Papaku di Bandung.

Papaku sudah berangkat duluan dengan Hiroshi dan rombongannya kemarin pagi. Aku tak sempat mengantarkan papaku ke bandara karena ada ujian.

“Kak… kira-kira gimana ya disana? Aku takut dan males banget sebenarnya harus ketemu Hiroshi lagi.”, tanya diriku kepada kakak yang sedang membaca majalah di dalam pesawat.

“Mau bagaimana lagi? Papa sudah sangat bersemangat dengan konser ini. Hiroshi juga sudah menyiapkan tiket untuk kita berdua. Yang penting kamu nanti jangan terlalu banyak kontak dengan dia.”, kata Kakakku sembari mengeratkan sabuk pengaman.

Penerbangan itu berjalan lancar. Tidak ada hambatan berarti, meskipun pikiranku dipenuhi dengan berbagai pertanyaan dan pernyataan tentang Hiroshi.

Sesampainya di Bandung, kami mencari orang yang diutus Hiroshi untuk menjemput kami. Lalu kami berganti pakaian dan beristirahat sejenak di hotel.

Ketika malam tiba, kuterima sms dari papa yang menyuruh aku dan Kakakku untuk turun ke ruang makan dan ikut makan malam bersama pemain musik lainnya.

Kakakku berjalan terlebih dahulu, terburu-buru meninggalkan aku dibelakang sendirian.

Kususuri tangga satu per satu, lalu di ujung tangga kulihat seorang pria tampan berpakaian necis seperti ABG metroseksual. Saat kutatap lekat-lekat pria itu, tiba-tiba mata kami bertemu dan ia tersenyum padaku.

“Nadia, apa kabar?”

Tangannya terulur seolah ingin menjabat tanganku.

“Baik. Maaf, siapa ya?”

“Kamu lupa? Waaah parah, ini aku, Hiroshi!”

Kakiku lemas seolah tak mampu menopang tubuh. Keluar keringat dingin dari leher dan kepalaku.

Hiroshi?! Pria kurang ajar itu? Lelaki yang telah menyakiti jiwa dan raga ku ini?

Bagaimana ini? Aku tidak boleh terlalu banyak kontak dengan dia. Aku harus secepatnya menjauh dari dirinya.

“Nad, kok diem? Udah laper banget ya? Yuk buru-buru ke ruang makan!”

Selama perjalanan ke ruang makan, kujejali otakku dengan berbagai pertanyaan yang tak bisa kujawab. Tanganku gelisah gemetaran.

“Nad, kamu masih marah ya sama aku?”, terka Hiroshi sambil nyengir seolah-olah kami sedang bermain tebak-tebakkan.

“Eh…hem…iya…eh engga kok. Kamu kuliah dimana? Seharusnya kamu lagi sibuk skripsi kan sekarang?”, jawabku seolah mencairkan suasana.

“Aku kuliah di ITB, pasti kamu tahu kan? Aku baru saja lulus S1. Kamu sendiri gimana?”

“ITB? Bohong! Aku di UI, baru semester 5. Kamu serius lulusan ITB?”

“Kamu memandang rendah diriku ya? Ckck tidak boleh seperti itu. Sungguh, aku lulusan ITB. Tanya pada mahasiswa-mahasiswa disana, siapa yang tidak kenal Hiroshi Lukito?”, jawabnya dengan penuh percaya diri.

“Hoo baiklah aku percaya. Gimana kabar tunangan kamu?”

Deg.

Kusadari aura tubuhnya berubah.

Raut wajahnya mengeras dan pandangan matanya menajam ke arah jendela.

“Dia…meninggal.”

Diam.

Hanya itu yang bisa kulakukan setelah kusadari topik pembicaraan yang salah arah ini.

Seraya memasuki ruang makan, kulihat tidak hanya Papa dan Kakakku yang berada disana, tetapi juga Mama, Kakek dan Tanteku. Apa aku salah lihat ya?

“Nadia! Sini!”, teriak Papaku dari ujung ruangan.

“Eh shi, aku kesana dulu ya. Dipanggil Papaku.”

“Oh oke, sampai nanti, ya!”

Kutinggalkan Hiroshi di depan pintu masuk ruang makan sambil berlari ke arah Papaku di ujung ruangan satunya.

Tiba-tiba kurasakan bulu kudukku bergidik ngeri seolah-olah ada kengerian yang tercipta diruangan itu.

Kutengok ke belakang, mencoba melihat suasana di ruang makan yang ramai, dan kudapati Hiroshi sedang berdiri di salah satu sudut ruangan sambil tersenyum sinis kepadaku seolah berkata, “Bersiap-siaplah Nadia, kita lihat apa kamu bisa melewati kejutan dariku atau tidak.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *