Magister, Semester 1

Multi-Step-Flow dan Firehose of Falsehood Prabowo dalam Pemilihan Presiden 2019

Abstrak

Media massa tak lagi menjadi satu-satunya sumber pencarian informasi. Peramban publik, aplikasi chat, dan media sosial dapat dikatakan menjadi sumber utama publik dalam mendapatkan informasi kini. Tiga tahun terakhir ini, dunia sedang mengalami perubahan besar pada dunia politik. Banyak politisi menggunakan teknik firehose of falsehood yang dapat dipahami sebagai upaya melempar retorika asal-asalan untuk meningkatkan popularitas, salah satunya Trump. Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan Statista pada Maret 2018, sekitar 35 persen responden AS lebih percaya Trump daripada CNN yang hanya dipercaya 18 persen responden. Prabowo, salah satu kandidat Pemilihan Presiden Indonesia 2019-2024 dianggap turut menggunakan teknik ini dan juga menerapkan multi-step-flow sebagai penyebaran informasi.

Kata Kunci: Prabowo, Multi-step-flow, Firehose of Falsehood, Pemilihan Presiden, 2019

Pendahuluan

Kini pilihan masyarakat dalam mencari informasi tak lagi terpaku hanya pada televisi dan radio. Terdapat beragam aplikasi chat, media agregator, dan situs citizen journalism, dan media massa daring.

Jika terdapat suatu isu yang ingin diketahui oleh publik, mereka utamanya membuka browser guna mencari info tercepat yang tersedia di internet. Dan biasanya, media massa online lah yang paling cepat (bahkan berlomba menjadi paling cepat) dalam menyediakan info terbaru. Di Indonesia, ada media online detik.com, liputan6.com, kumparan.com, dan tribunnews yang terkenal adu cepat dalam memberitakan suatu kejadian.

Pilihan kedua ialah bertanya atau mendapat informasi di grup chat. Contoh grup chat yang digunakan masyarakat Indonesia antara lain Whatsapp, Line, Telegram, Blackberry Messenger, dan Facebook Messenger. Berdasar penelitian yang dilakukan oleh ComScore, aplikasi chat WhatsApp merupakan aplikasi mobile terpopuler dengan pengguna terbanyak di tanah air, tentu saja setelah aplikasi wajib para pengguna Android, yaitu Google Play. Menurut comScore, per januari 2017, WhatsApp memiliki sekitar 35,8 juta pengguna di Indonesia.

Tak hanya mempunyai jumlah pengguna yang banyak, WhatsApp pun merupakan salah satu aplikasi yang paling sering digunakan, setelah Facebook dan LINE. Hal ini terlihat dari rata-rata waktu yang dihabiskan oleh para pengguna di dalam aplikasi tersebut, yaitu sekitar delapan jam dalam sebulan.

Di Whatsapp, pengguna bisa mengirim pesan kepada orang yang saling menyimpan kontak, juga dengan hanya salah satu pihak yang menyimpan kontak, atau dengan teman satu grup chat. Pengguna juga bisa mem-broadcast pesan kepada seluruh kontak yang ia simpan dan memiliki Whatsapp. Sering kali, fitur broadcast ini digunakan untuk menyebarkan informasi-informasi “terkini”. Bahkan kini terdapat fenomena “kiriman dari grup sebelah” yang menjamur di Indonesia.

Pilihan ketiga dalam mendapat informasi ialah dari media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter.

Tiga hal di atas dapat dikatakan menjadi sumber utama publik dalam mendapatkan informasi kini. Media massa tak lagi menjadi satu-satunya sumber pencarian informasi.

Dalam menggunakan media sosial dan aplikasi chat, manusia cenderung akan menerima informasi yang sesuai dengan pandangannya. Orang-orang menderita “bias konfirmasi”: Mereka melihat berita dan pendapat yang mengkonfirmasi keyakinan yang ada sebagai lebih kredibel dari pada berita dan opini lainnya, terlepas dari kualitas argumen (Paul & Matthews, 2016: p. 1).

Tiga tahun terakhir ini, dunia sedang mengalami perubahan besar pada dunia politik. Banyak politisi menggunakan teknik firehose of falsehood yang dapat dipahami sebagai upaya melempar retorika asal-asalan untuk meningkatkan popularitas. Menurut Christopher Paul and Miriam Matthews (2016), firehose of falsehood adalah teknik yang menekankan pada membuat target kebingungan sehingga bertindak demi kepentingan propagandis, tanpa menyadari bahwa mereka telah dipropaganda.

Ciri teknik ini yang paling menonjol ialah jumlah saluran dan pesan yang tinggi, serta tidak adanya rasa malu menyebarluaskan kebenaran parsial atau fiksi utuh.

Politisi pertama yang secara global diasumsikan menggunakan teknik ini adalah Donald Trump. Berikut beberapa pernyataan Donald Trump yang penulis kutip dari laman berita tribunnews.com:

1. Muslim AS gembira atas serangan 9/11

2. Masjid-masjid di AS seharusnya diawasi

3. Muslim AS dikelompokkan dalam sebuah database khusus

4. Keluarga militan ISIS seharusnya dihabisi

5. Bangun tembok di perbatasan antara AS dan Meksiko

6. Deportasi semua imigran ilegal

7. Tutup masjid-masjid di AS

8. Pulangkan pengungsi-pengungsi Suriah

9. Tutup internet di AS

10. Larang muslim masuk AS

Trump rajin menuduh media berbohong. “Media BERITA PALSU (@nytimes, @NBCNews, @ABC, @CBS, @CNN) bukan musuhku, mereka musuh masyarakat Amerika!” kicau Trump pada Februari 2017.

Trump mengakui menggunakan media sosial seperti Twitter dan Facebook untuk “menyerang balik” berbagai pemberitaan mengenai dirinya.

Menurut penelitian yang diadakan oleh Pew Research Center, Facebook telah menjadi sumber berita bagi hampir setengah warga AS. Ini menunjukan adanya pergeseran sumber berita masyarakat AS yang dulu didominasi oleh surat kabar.

“Perang media sosial sangat besar. Dan saya rasa media sosial memiliki kekuatan lebih masif ketimbang uang kampanye yang mereka [pihak Hillary Clinton] keluarkan. Di taraf tertentu, saya membuktikannya,” ujar Trump, dikutip dari CNN.

Trump bahkan beberapa kali menyebut saluran berita terbesar di dunia, CNN sebagai ‘fake news‘ yang tidak bisa dipercaya. Mirip dengan ucapan Prabowo yang kini menyatakan hanya mau diwawancara oleh TvOne.

Sumber: instagram.com/mojokdotco

Tuduhan-tuduhan Trump terhadap media perlahan mengubah pandangan publik. Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan Statista pada Maret 2018, sekitar 35 persen responden AS lebih percaya Trump daripada CNN yang hanya dipercaya 18 persen responden.

Dapat dikatakan, Trump menjalankan ide ‘tak ada publisitas yang buruk’.

Tilik sejenak pemilihan umum di Brazil tahun ini. Bolsonaro, salah satu kandidat Presiden Brazil -yang kini telah terpilih menjadi Presiden- rajin memproduksi pernyataan-pernyataan kontroversial.

Sumber: tirto.id

Pernyataan-pernyataan kontroversial Bolsonaro membuat ia dijuluki Trump-nya Brazil.

Di Indonesia, teknik firehose of falsehood ini sering digunakan salah satu kandidat pilpres 2019 Prabowo Subianto.

Beberapa bulan lalu masyarakat Indonesia digemparkan dengan adanya “ancaman bubar pada tahun 2030”. Wacana tersebut diungkapkan oleh Prabowo Subianto, salah satu Calon Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, rupanya isu tersebut didapatkan dari novel fiksi bernama Ghost Fleet. Beberapa ahli memberikan tanggapan beragam. Salah satunya datang dari Irfan Abubakar, Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah. Ia mengatakan sikap seperti itu justru menimbulkan dua kubu besar yang menganggap Indonesia bisa bubar atau bertahan (Kompas.com, 28 Maret 2018).

Contoh bukti nyata yang percaya akan bubarnya Indonesia di 2030 datang dari Wakil Ketua Umum Gerindra, Ferry Juliantono. Ia mengatakan rasio gini tanah nasional 0,8% dan beban keuangan Indonesia merupakan prasyarat bubarnya Indonesian (BBC.com, 24 Maret 2018). Ratna Sarumpaet juga merupakan salah satu orang yang mendukung pernyataan Prabowo, hingga akhirnya bertengkar dengan Mahfud MD melalui Twitter.

Mahfud MD yang saat itu diketahui salah satu kandidat calon wakil Presiden Jokowi pun memberikan tanggapan berbeda. Ketika diskusi di Indonesia Lawyers Club (ILC), Mahfud berkata, “Indonesia bisa bubar tahun depan, atau tahun 2030, atau tidak bubar sama sekali.”

Baru-baru ini, Prabowo kembali melontarkan granat retorikanya yang menuding media massa telah berupaya memanipulasi demokrasi. Ia mencontohkan soal pemberitaan Reuni Akbar 212.

“Hebatnya, media-media dengan nama besar dan katakanlah dirinya objektif, padahal justru mereka bagian dari usaha memanipulasi demokrasi. Kita bicara yang benar, ya, benar, yang salah, ya, salah. Mereka mau katakan yang 11 juta [tapi] hanya 15 ribu. Bahkan, ada yang bilang kalau lebih dari 1.000. Minta apa itu terserah dia,” papar Prabowo, dikutip dari Tirto.id.

Sumber: tirto.id

Permasalahannya adalah, jika merujuk pada perkembangan teori komunikasi, kita adalah khalayak aktif yang memiliki kemampuan dalam memilih media dan pesan yang kita terima. Namun mengapa di Amerika dan Brazil, khalayak bisa terkena efek dari info yang diterima terus menerus? Dan apakah efek ini juga akan terjadi di Indonesia?

Kerangka Teori

Multi Step Flow

Model alir banyak tahap merupakan gabungan dari model alir satu tahap dan model alir dua tahap.

Model ini menyatakan bahwa pesan media massa sampai kepada khalayak melalui suatu interaksi yang sangat kompleks. Media mencapai khalayak dapat secara langsung dan dapat pula melalui macam-macam penerusan (relaying) secara beranting, baik melalui pemuka pendapat (opinion leaders) maupun melalui situasi saling berhubungan antara sesama anggota khalayak.

Selayaknya teori komunikasi dua tahap, teori multi tahap ini menyatakan bahwa media massa tidak membuat pembacanya langsung terpengaruh oleh muatan informasi yang dibawanya.

Beberapa anggota dari khalayak luas itu memperoleh pesan-pesan secara langsung dari media massa, sementara yang lain memperolehnya dari sumber atau saluran lain, atau dari tangan kedua, ketiga, atau yang seterusnya lagi. Dua tahap penyampaian pesan dalam model ini adalah pesan media pada pemuka pendapat (opinion leader) dan pesan pemuka pendapat kepada khalayak.

Model alir banyak tahap.

Pada tahap pertama, para pemuka pendapat akan mengakses informasi dari media massa, kemudian pada tahap kedua para pemuka pendapat berbagi opini dengan anggota dalam lingkaran sosial mereka.

Anggota yang tergabung dalam lingkaran sosial itu memiliki kelompok sosial lainnya, termasuk keluarga, bawahan dan anggota kelompok lain yang akan dipengaruhi oleh mereka. Satu orang dipengaruhi dan mempengaruhi orang lain. Diskusi dengan keluarga atau orang lain mungkin akan membuat seseorang tersebut mempertimbangkan kembali keyakinannya. Setiap tahapan dalam proses pengaruh sosial dimodifikasi oleh norma-norma dan kesepakatan dari setiap lingkaran sosial baru itu. Opini-opini ini akan dicampur dengan opini-opini lain yang asli dari sumber elit lainnya dan secara perlahan melebihi informasi yang disampaikan oleh media massa (Ardianto, 2004: p. 61).

Apabila variasi volume informasi dari pemuka pendapat menyebabkan efek yang positif pada khalayak, maka akan menguntungkan pihak sumber, namun jika variasi dari pemuka pendapat bersifat negatif, maka hal ini akan menyebabkan terjadinya pengikisan volume informasi. Dengan kata lain para pemuka pendapat menjadi kunci atau penjaga gawang (gatekeeper).

Di Indonesia, opinion leaders tersebut dapat berwujud dalam sosok seorang kepala suku, kepala RT, pemimpin agama, kyai, dan lain sebagainya. Pengaruh opinion leaders ini sangat kuat terutama pada para pemimpin agama dan oleh karena itulah banyak tokoh-tokoh agama atau pun opinion leader lainnya yang biasanya dimintai tolong oleh pemerintah untuk membantu menjalankan program-program pembangunan di daerah seperti program keluarga berencana, program buang air besar di toilet pada masyarakat pedesaan dan lain sebagainya.

Kelebihan dari model ini adalah terdapat beberapa jaringan yang bekerja diantara media dan khalayak yang berfungsi untuk meneruskan pesan dari yang satu kepada yang lain dalam penyebaran pesan-pesan media khalayak.

Model ini efektif bila pesan ditujukan ke banyak khalayak, dimana pemuka pendapat cukup satu kali menyampaikan pesan, lalu pesan akan diolah dan diteruskan oleh lebih banyak pihak.

Firehose of Falsehood

Model propaganda ini dikemukakan oleh Christopher Paul and Miriam Matthews pada 2016 dalam penelitian mereka yang berjudul The Russian “Firehose of Falsehood” Propaganda Model Why It Might Work and Options to Counter It.

Propaganda ini mencakup teks, video, audio, dan gambar diam yang disebarkan melalui Internet, media sosial, televisi satelit, dan siaran radio dan televisi tradisional.

Paul dan Matthews menemukan empat ciri dan cara bekerja model ini, yaitu:

1. Penyebaran pesan dengan jumlah banyak (volume tinggi) dan menggunakan beragam channel (multichannel);

2. Cepat, terus-menerus, dan berulang;

3. Tidak memiliki komitmen terhadap realitas obyektif;

4. Tidak memiliki komitmen terhadap konsistensi.

  1. Volume tinggi dan multi-channel

Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa variasi sumber informasi merupakan faktor penting dalam kesuksesan menyebarkan propaganda. Banyak sumber lebih persuasif dari pada satu sumber, terutama jika sumber-sumber itu mengandung argumen berbeda yang mengarah pada kesimpulan yang sama.

Manusia pada umumnya beranggapan bahwa informasi dari berbagai sumber kemungkinan akan didasarkan pada perspektif yang berbeda dan lebih patut dipertimbangkan.

Namun pada akhirnya jika pesan berasal dari sumber yang berbagi karakteristik dengan penerima, maka akan dianggap lebih penting dan kredibel.

Teori ini beranggapan bahwa kredibilitas dapat bersifat sosial. Maksudnya adalah orang lebih cenderung menganggap sumber sebagai kredibel jika orang lain menganggap sumber tersebut kredibel. Efek ini bahkan lebih kuat ketika tidak tersedia cukup informasi untuk menilai kelayakan sumber.

Dan ketika jumlah informasi yang tersebar rendah, penerima cenderung mempercayai ahli. Akan tetapi ketika jumlah informasi yang tersebar tinggi, penerima cenderung menyukai informasi dari pengguna lain.

2. Cepat, berulang, dan terus-menerus

Pengulangan informasi mengarah pada keakraban, dan keakraban menuntun pada penerimaan. Pemaparan berulang atas pernyataan telah terbukti meningkatkan

anggapan penerimaannya bahwa informasi yang diulang terus tersebut sebagai benar.

3. Tidak adanya komitmen pada kebenaran

Mengapa disinformasi ini dinilai efektif? Pertama, orang-orang sering secara kognitif malas. Karena informasi yang berlebihan (khususnya di Internet), mereka menggunakan sejumlah heuristik yang berbeda dan jalan pintas dalam menentukan apakah informasi baru dapat dipercaya.

Kedua, orang seringkali sulit dalam membedakan informasi yang benar dari informasi palsu, atau mengingat bahwa mereka telah pernah mencoba membedakannya sebelumnya.

4. Tidak ada konsistensi

Karakteristik khas terakhir dari propaganda Rusia adalah tidak berkomitmen pada konsistensi.

Pertama, media propaganda yang berbeda tidak selalu menyiarkan tema atau pesan yang sama persis.

Kedua, saluran yang berbeda tidak selalu menyiarkan yang sama objek yang sama akan kontes yang diperebutkan.

Ketiga, saluran yang berbeda merasa takut untuk “mengubah nada mereka.” Jika salah satu retorika falsehood ini terekspos atau tidak diterima dengan baik, propagandis akan membuangnya dan beralih ke yang baru.

Analisis

Analisis model multitahap

Dalam kasus falsehood oleh Prabowo, media massa terus memberitakan apapun ucapan Prabowo.

Opinion leader oleh Prabowo.
Sumber: tirto.id

Opinion leader dalam kasus polemik jumlah anggota Reuni 212 kubu Prabowo menggunakan beberapa tokoh opinion leader seperti:

1. Fadli Zon

Dilansir dari TribunWow.com dari acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang tayang di tvOne, Selasa (4/12/2018), Fadli Zon mengungkapkan jumlah peserta berdasarkan jumlah HP/ IMEI pada saat kejadian Acara Reuni 212.

Fadli Zon adalah Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia periode 2014 – 2019. Ia turut mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya dan menjabat sebagai wakil ketua.

2. Prabowo Subianto

Dilansir dari Kompas.com, Rabu (5/12/2018), Prabowo mengklaim ada 11 juta peserta yang berpartisipasi ikut Reuni 212, namun Prabowo tidak menyebut dari mana data itu berasal.

Prabowo Subianto adalah salah satu kandidat pemilihan Presiden Indonesia tahun 2019-2024. Sebelumnya, ia pernah beberapa kali mengikuti kontestasi pilpres sejak 2002.


3. Ketua Panitia Reuni Akbar Mujahid 212

Dilansir dari WartaKotaLive, Senin (3/12/2018), Ketua Panitia Reuni Akbar Mujahid 212, Ustad Bernard Abdul Jabbar menuturkan jumlah peserta reuni 212 yang ikut berpartisipasi.

Bernard Abdul Jabbar adalah seorang mualaf dan Ketua Forum Umat Islam (FUI) Bekasi Bernard Abdul Jabar. Ia pernah ceramah dan ‘klaim’ Ahok menyumbangkan dana APBD ke paduan suara gereja Rp. 1 milyar. Dan menurutnya, untuk kegiatan Islam, Ahok dinilai masih kurang peduli.

“Ahok pakai APBD sumbang gereja Rp. 1 milyar,” tambahnya saat menjadi pembicara bersama Kiai Cholil Ridwan dan Habib Selon dalam acara “Taqarrab Ilallah” di bilangan Menteng Atas, Jakarta.


4. Hidayat Nur Wahid

Mengenai jumlah peserta juga diungkapkan oleh Wakil ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid, menuturkan jumlah yang sama, dilansir dari WartaKota. Menurut penuturan Hidayat ia mendapat info panitia mengatakan peserta mencapai 8 juta.

Hidayat Nur Wahid adalah Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia 2014-2019. Pada tahun 2012, ia turut serta dalam pemilihan umum Gubernur DKI Jakarta sebagai calon gubernur dengan menggandeng Didik J. Rachbini dari Partai Amanat Nasional; namun pada putaran pertama, ia hanya menempati peringkat ketiga di bawah Joko Widodo dan Fauzi Bowo, sehingga gagal lolos ke putaran kedua. Menjelang pemilihan umum presiden Indonesia 2014, ia menjadi salah satu kandidat calon presiden dari PKS.

Kemudian para penerima informasi mengenai retorika Prabowo tersebut yang tergabung dalam grup-grup Whatsapp, Facebook, dan aplikasi sosial lainnya akan bertanya juga pada sekelompok orang dengan interest yang sama dan mengafirmasi pernyataan tersebut.

Sayangnya peneliti belum masuk dalam grup Whatsapp pendukung Prabowo sehingga belum bisa menyatakan teori ini benar dalam kasus ini. Namun, berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan Tirto (https://tirto.id/perang-hoaks-di-grup-whatsapp-pendukung-jokowi-amp-prabowo-c4xy) dapat dikatakan tahap kedua model teori ini berlaku bagi pendukung Prabowo dan Jokowi. Kedua pendukung ini sama-sama menyebarkan informasi yang sesuai dengan minat masing-masing.


Analisis firehose of falsehood

Pada kasus reuni 212 terakhir, kubu Prabowo terus menerus memberi kesan bahwa media massa tidak memberitakan secara objektif.

1. Penyebaran pesan dengan jumlah banyak (volume tinggi) dan menggunakan beragam channel (multichannel);

Prabowo dan sekutunya terus menerus menyebarkan informasi mengenai jumlah anggota reuni 212 dan menyatakan bahwa media massa tidak memberitakan secara objektif. Ini juga didukung dengan menggunakan berbagai opinion leader sebagai penguat kredibilitas informasi yang disampaikan.

2. Cepat, terus-menerus, dan berulang;

Tak hanya pada acara reuni 212, Prabowo pun mengungkapkan kekesalannya ini pada acara peringatan Hari Disabilitas Nasional.

3. Tidak memiliki komitmen terhadap realitas obyektif;

Tak adanya bukti otentik bahwa klaim anggota 212 yang tepat.

4. Tidak memiliki komitmen terhadap konsistensi.

Tiap opinion leader memberikan jumlah perkiraan anggota reuni 212 yang berbeda-beda.

Kesimpulan

Prabowo dapat dikatakan mengikuti teknik dan cara Donald Trump dalam menghadapi Pilpres AS, yakni memberikan granat retorika firehose of falsehood. Dan ditambahkan dengan multi-step-flow agar informasi apapun yang disampaikannya akan dianggap kredibel. Pemaparan berulang atas pernyataan telah terbukti meningkatkan anggapan penerimaannya bahwa informasi yang diulang terus tersebut sebagai benar. Sehingga orang akan sulit dalam membedakan informasi yang benar dari informasi palsu.

Daftar Pustaka

The Russian “Firehose of Falsehood” Propaganda Model Why It Might Work and Options to Counter It Christopher Paul and Miriam Matthews, 2016.

Internet

https://id.techinasia.com/comscore-whatsapp-adalah-aplikasi-terpopuler-di-indonesia

https://www.liputan6.com/global/read/2649039/10-faktor-pemicu-donald-trump-menang-dan-hillary-clinton-keok

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20161113104056-185-172277/trump-akui-peran-media-sosial-berhasil-lucuti-clinton?

https://www.academia.edu/12408558/Komunikasi_Model_Alir_Banyak_Tahap_Multi_Step_Flow_Model_Communication_

https://tirto.id/ada-donald-trump-di-balik-makian-prabowo-terhadap-wartawan-dbaE?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Popular

https://tirto.id/jualan-isu-komunis-amp-hoaks-whatsapp-bolsonaro-menang-pemilu-brazil-c8U9

https://tirto.id/prabowo-diskreditkan-media-nasional-demikian-pula-donald-trump-da9u?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Popular

You may also like...

1 Comment

  1. membangun image untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat indonesia tentulah tidak mudah, salah satunya adalah dengan pola diatas, terlepas dari konteks diterima atau tidak, masyrakatlah yang menilainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *