Celoteh, Celoteh Pemikiran, Celoteh Pengalaman, Kerja

Milenial Kutu Loncat

Izinkan saya menulis pemikiran dari pengalaman kerja saya selama 2,5 tahun terakhir ini.

Saya pertama kali bekerja di bidang internet governance. Mulai dari April 2016 hingga Agustus/September 2017.  Selama di sana, saya sering mendengar pembicaraan para senior bahwa generasi saya itu kutu loncat. Senang berpindah-pindah pekerjaan, dan motivasi utamanya adalah uang. Saya yang kala itu sudah 1 tahun lebih di kantor itu berpikir, “Ah engga tuh, buktinya aku bisa lama dan bertahan di sini.” Meski ujung-ujungnya resign karena merasa sudah mengerahkan yang terbaik dan ada hal-hal yang tidak bisa diperbaiki lagi oleh saya.

Eh setelah dari kantor itu, rupanya kutukan milenial itu terjadi ke saya.

Saya pernah bekerja sebagai guru di tempat les bahasa Inggris ternama di Indonesia selama 2 bulan. Kemudian di digital agency 5 bulan. Dan terakhir di perusahaan manufaktur hanya 2 bulan. Juga pernah di politik selama setahun lebih, hampir dua tahun.

Saya pun bertanya-tanya, “Apa sih penyebabnya? Kenapa gue ga betahan? Apa yang gue cari? Trus gue mau gimana?”

Setelah merenung, berpikir, berkontemplasi selama lebih kurang setahun, saya menemukan beberapa poin penting sebagai berikut:

 

1  Saya belajar dan benar-benar mengalami bahwa kita bekerja di kantor itu KEPADA dan DENGAN atasan, bukan KEPADA dan DENGAN kantor.

Maksudnya gini…

Ketika kita bekerja, sifat atasan kita amat mempengaruhi kinerja kita.

Ketika kita memiliki atasan yang bertindak sebagai pemimpin, mau bekerja sama mencari solusi, bertanggung jawab, menghargai pendapat anggota timnya itu akan membuat kita merasa didengar. Sehingga kita akan berkontribusi lebih banyak untuk perusahaan. Bahkan saya pernah merasakan “marrying my job” alias gue-kerja-ga-digaji-pun-gapapa-bahkan-rela-begadang-tiap-malem karena atasan dan tim saya yang amat suportif satu sama lain.

Sementara ketika kita memiliki atasan atau tim yang tidak bisa bekerja sama itu rasanya amat menyebalkan. Like….  *sigh* memberatkan pekerjaan.

 

2. Gaji dan tunjangan bukan pemikat utama

Saya pernah berada di perusahaan yang gajinya 2-3x lipat rata-rata gaji perusahaan lain, dengan jabatan dan scope kerja yang sama.

And guess what… Yep. I resign. After thinking it over and over.

Kenapa?

a. Di sana amat tidak egaliter. Memandang bawahan itu babu. Tidak memandang orang lain sebagai manusia.

Sementara saya -> Menyukai egaliter. Memandang pekerja lain selayaknya manusia BUKAN aset belaka. Memanusiakan manusia lain, bukan hanya diri sendiri.

Kalau bahasa generasi di atas milenial -> intinya minim apresiasi. Milenial butuh pengakuan #halah.

Cukup memandang kami sebagai manusia lain yang setara dengan dirimu itu sudah cukup bagi kami.

 

b. Birokrasi yang terlalu panjang.

Bayangkan ketika di era sekarang masih ada perusahaan yang proses administrasinya lebih ribet dari kementerian atau kelurahan.

Mas Bro, pemerintah aja berbenah mengurangi alur birokrasi yang terlalu panjang, lah situ malah nambah-nambah alur birokrasi. LOL.

 

c. Tidak kompatibel dengan dunia yang sekarang

Pernah beberapa dosen komunikasi dan TI  (baik S1 maupun S2) berkata seperti ini ke saya, “Di era digital sekarang, seharusnya teknologi itu membantu mempermudah pekerjaan.”

Dan ternyata, masih ada lho perusahaan yang menolak penggunaan aplikasi-aplikasi, atau bahkan menolak “kemudahan internet”. Padahal mereka punya media sosial ckckck. Pastinya ini bikin milenial ga betah. Wong dari lahir sudah pakai internet. Dari SD juga sudah ada pelajaran TIK di sekolah. Lagipula, kenapa menyulitkan diri sendiri, sih?

 

3. Tak bisa move on dari dream team

Salah satu alasan saya berpindah-pindah pekerjaan karena saya selalu membandingkan dengan dream team yang pernah saya punya di salah satu tempat kerja.

Sempat berpikir “Apa coba balik ke perusahaan itu aja, ya?”

Lalu akhirnya saya mengontak teman saya yang masih bekerja di situ.

Dan rupanya… keadaan di sana saat ini tidak lebih baik dari tempat kerja saya kini, dan tidak seindah dulu.

Dream team yang selalu saya kenang-kenang sudah bubar, dan digantikan dengan tim yang entah bagaimana kinerjanya.

Urung lah niat kembali ke perusahaan itu.

 

Kemudian saya bercerita mengenai poin ke 3 ini ke sahabat-sahabat saya.

Dan mereka berkata, “Coba bikin tim di tempat kerja yang sekarang sesempurna dream team mu itu.”

Saya sadar tentu tidak akan bisa. Orang-orangnya berbeda. Bidang kerjanya berbeda.  Budaya perusahaannya berbeda.

Jadi ya sudah, terima saja bahwa dream team itu tidak akan pernah ada lagi.

 

Ah, dan saya menyadari, sebenarnya dulu saya bukan marrying-the-job tapi marrying-the team.

 

4. Kita sadar tidak ada perusahaan atau tempat kerja yang sempurna

Banyak yang berkata milenial itu mencari utopia.

Nope.  We are not. We realized nothing is perfect.

Jadi sebenarnya saya pun tidak ngoyo cari yang semuanya harus sesuai sama keinginan saya. Cuma memang sepertinya belum menemukan lagi tempat kerja yang cocok.

 

After discuss with many people, I realized that milenial are going after the values, not money.

What can we give to others?

What others would benefit from this?

Have I done the right thing?

Will it make my life better?

Will it take me closer to my goal?

Work-life balance, can I do it here?

It is different for each person. So you better ask yourself, what are your values?

 

Untuk kamu para milenial yang sedang merasakan atau mengalami hal yang sama, saya punya beberapa pesan.

  1. Banyak orang tua yang mengingatkan kita untuk tidak sering berpindah-pindah tempat. Niatnya memang baik, dan pemikiran tersebut tidak salah. Tapi kamu yang menjalani hidup ini.
  2. Ditambah dunia kini berubah menjadi semakin cepat alurnya berkat digitalisasi. Kamu harus membayangkan “Akan jadi seperti apa saya 5, 10, 20 tahun lagi? Apa yang akan saya lakukan kala itu?”
  3. Jika pekerjaanmu sekarang membantumu selangkah lebih dekat ke sana, then do it.  Tapi jika tidak, do not let it ruin your career, rather your whole life!
  4. Jangan asal sembarang apply kerja! Hahaha. Saya tahu jadi pengangguran itu berat, apalagi kalau kita menanggung hidup banyak orang. Tapi kalau kita asal apply dan ternyata tidak cocok, kasihan employer kita. Mereka sudah mengeluarkan uang dan tenaga yang tidak sedikit untuk “menemukan” dan mendidik kita.

Ini bukan alasan kami tidak betah, tapi poin lain dalam kehidupan yang kami butuhkan, yakni: Kami butuh mentor!

Kami butuh seseorang yang bukan hanya mendikte dan men-judge kami. Kami butuh mentor sebagai tempat diskusi (tentang hidup, pekerjaan, keluarga, kuliah, dsb), tempat belajar (we really love to learn!). Kami sadar kami banyak kekurangannya. Sayangnya tak banyak orang-orang yang bersedia dan bisa menjadi mentor.

 

Saya juga berdiskusi dengan teman milenial lainnya, berikut pendapat mereka:

Oktadiora Pratama 

poin utama gue: it all depends on what you choose to believe.

buat gue, generasi milenial, X Y Z, baby boomers, late bloom, dsb itu cuma masalah penamaan sih, Div. gue punya banyak kenalan orang kelahiran 70-80an yg kutu loncat, sama kayak kita-kita ini yg kelahiran 90an. (TOTALLY AGREE, KI! -diva)

tapi tulisan lo ini sama sih kayak apa yg gue pikirin wkwk gue gak tau sebenernya apa yg gue cari dalam kerjaan

karena gue pernah ada di unit mahasiswa, tergabung dan bahkan pernah bikin organisasi, gue selalu membayangkan kondisi organisasi yg ideal ya (terkadang) organisasi yg pernah gue bikin ini. egaliter, memanusiakan manusia, nggak liat orang dari angkatan, dsb. semua punya kesempatan yg sama. yg kemudian berbanding jauh pas gue udah masuk ke dunia kerja. ya kayak bbrp kantor yg pernah gue ikuti, minusnya selalu ada di atasan, mereka nggak bisa menyampaikan ide dan pembawaan organisasi yg baik, jadilah gue selalu menganggap mereka ini mengeksploitasi tapi nggak tau sebenernya apa yg mereka lakukan.

tapiii, kayak yg gue bilang, it all depends on what you choose to believe. gue sebagai milenial pun berharap punya gaji tinggi sih terlepas dari gimanapun pressure di kantor itu, karena gue pengen bisa beli rumah dan lain2, yg gak bisa gue bayangin kalo gue kerja pas-pasan. 🙁
makanya kadang yg jadi dilematik buat milenial itu dua: idealisme dan realistis. idealisme itu passion, realistis itu kondisi hidup. mungkin lo bisa nambahin, sepenting apa sih dua hal itu. karena gue sendiri mengalami, idealisme gue ilang karena gue mencoba realistis. gue lulusan jurnalistik, passion gue di media massa. tapi kondisi hidup gue yg nggak memungkinkan untuk egois dengan passion, alhasil gue selalu mencari pekerjaan yg lebih baik buat memenuhi kondisi hidup itu.

meski kemudian gaji gue lebih tinggi dari kerja di media sih, cuma tetep aja nggak sukak. :)))

makanya, kutu loncat itu sebenernya nggak ada salahnya kok. termasuk freshgrad yg minta gaji tinggi di kesempatan pertama mereka.

karena, mau gimanapun, mau lo kelahiran tahun berapapun, lo punya sesuatu yg lo perjuangin dalam hidup lo. kerja itu all about money pertamanya, lalu kedua masalah idealisme. sederhananya, nggak ada kok milenial yg berharap kerja jadi cleaning service, tapi banyak kejadian. mereka punya passion, pengen jadi ini itu, tapi ya hidup mereka berkata lain, nomor satu uang dan apa yg dia perjuangin, nomor dua baru masalah dirinya sendiri.

kalo milenial yg talks about value, baguslah. berarti mereka punya banyak “kemewahan” dalam hidup mereka, yg bisa bikin mereka lebih bebas dalam mencari passion, dan kutu loncat buat mereka berarti terus mencari apa yg sesuai dengan passion mereka. kalo buat yg nggak bisa menuhin passion, kutu loncat ya buat mereka tetep bertahan hidup.

kemewahan ini banyak artinya ya, kayak, kebebasan dalam memilih kerja, jurusan kuliah, dsb. banyak yg terbatas dan dibatasi, ada juga yg bebas dan dibebaskan. makanya, it all depends on what you choose to believe. kutu loncat bukan kesalahan kok hihi

makanya gue pun sampe sekarang bingung sih kenapa gue harus kerja dan loncat2. tapi ya, balik lagi, gue salah satu tumpuan hidup di keluarga gue, means gue gak bisalah itu sok cari kerja jd wartawan. kebetulan, gue memang punya kapabilitas di kampus, yg kemudian pas gue nyari kerja bisa terus naik levelnya. cuma ya itu, di kesempatan pertama, gue nggak pernah mikir kalo skill yg gue punya akan gue pake untuk bertahan hidup. cuma, di sisi lain, gue bersyukur sih, seenggaknya skill gue bisa dipake buat apply ke industri yg lebih tinggi levelnya.

krn kalo boleh milih ya, gue memilih untuk jadi wartawan dan jadi dosen sih. di unpad. cuma ya itu, nggak kesampean.

 

Johanes Hutabarat

Ga apa2 kok kutu loncat
Namanya juga orang lelah
Kalo udah ga sevisi, mau gimana lagi. Ntar ga produktif

 

Arum Kusuma Dewi

Daripada tekanan batin

 

Yak sekian tulisan kali ini.

Artikel ini saya harap bukan menjadi bahan generalisasi atau stereotipe milenial.

Tiap manusia berbeda.

Anyway, I am open to discussion!

Please write your thoughts about this so-called-phenomena on comment!

You may also like...

1 Comment

  1. Well explained div.. setuju sm bbrp poin terutama ttg butuhnya kita sm mentor dan tim yg baik.
    Secara pribadi kupikir krn kita paham sm bbrp nilai2 perjuangan kita jd individu yg pny konsep pencapaian. Org2 yg bisa menekunu konsep pencapaiannya itu beruntung bgt si div. Mgkn anak2 milenial yg srg pindah kerja pny penilaian yg cepat atas relevannya/tidaknya situasi kerja dg konsep pencapaiannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *