Mengapa Ada Perang Atas Nama Agama, Jika Semua Agama Mengajarkan Kebaikan?

Kejahatan perang terbesar di dunia ialah kejahatan-kejahatan yang mengatasnamakan Tuhan dan agama. Dan sebagian besar dari kejahatan tersebut merupakan pembantaian.

Ketika Al Qaeda membajak pesawat untuk menyerang Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, tindakan ini menyulut pertempuran besar (yang disebut perang global oleh sebagian orang) di millennium baru. Serangan 11 September ini menandai munculnya kelompok garis depan yang terinspirasi dari kekhalifahan Islam namun amat melenceng jauh dari ajaran Islam. Para teroris mengeksploitasi citra kebiadaban dan kebrutalan untuk kepentingan politis mereka. Pembunuhan ribuan orang tak berdosa atas nama “jihad” tentu bertentangan dengan nilai, etika, dan ajaran-ajaran yang dianut oleh masyarakat dunia.

Lain halnya dengan Rohingya. Banyak konspirasi yang berkembang di Asia mengenai Rohingya, ada yang mengatakan muslim sebagai teroris, ada juga yang mengatakan muslim tidak mau murtad dan memeluk Budha hingga akhirnya dibunuh. Namun, dibandingkan dengan sekedar konspirasi, fakta yang berkembang adalah dibantainya etnis Rohingya di Myanmar. Pembakaran perkampungan dan pengusiran mereka yang terjadi di Provinsi Rokhine, Burma, merupakan aksi yang tidak bisa dibiarkan oleh dunia internasional. Selama ini secara turun temurun telah terjadi perseteruan antara kelompok etnis Rohingya yang Muslim dan etnis lokal yang beragama Buddha. Rohingya tidak mendapat pengakuan oleh pemerintah setempat. Ditambah lagi agama yang berbeda. Beberapa laporan menyebutkan hingga saat ini sudah terjadi tragedi pembantaian lebih dari 6000 warga etnis Rohingya yang mayoritas beragama Islam. Selain dibantai, Etnis Muslim Rohingya juga ditolak kehadirannya di negeri Birma. Lebih menyedihkan lagi, presiden Myanmar, Thein Sein melontarkan pernyataan kontroversial mengusir Muslim Rohingya sebagai penyelesaian konflik bernuasa etnis dan agama di negara itu.  Lebih rumit lagi, ketika dua organisasi biksu terbesar di Myanmar, Asosiasi Biksu Muda Sittwe dan Asosiasi Biksi Mrauk Oo menyerukan agar warga Myanmar tidak bergaul dengan Muslim Rohingya. “Muslim Rohingya bukanlah kelompok etnis Burma. Mereka akar penyebab kekerasan,” kata salah seorang pemimpin biksu, Ashin Htawara dalam sebuah acara di London.

Melihat dari dua perang tersebut, muncul sebuah pertanyaan “Apakah di agama mereka diajarkan seperti itu?” Pertanyaan seperti ini amat sering muncul dalam pembicaraan-pembicaraan keagamaan. Jawabannya sederhana. Apa ada agama yang ajarannya tidak baik?

Lalu mengapa ada pembunuhan dan kejahatan perang seperti dua contoh di atas tadi?

Tiap agama tentunya memiliki kitab ajarannya masing-masing. Kitab ini berfungsi sebagai buku panduan dalam menjalankan perintah-perintah yang diamanatkan oleh Tuhan. Oleh sebab saya memberikan dua contoh di atas tadi, izinkan saya menjelaskan pandangan dari agama Islam dan Budha mengenai perang.

Mengutip dari buku yang ditulis oleh Benazir Bhutto dan Mark A. Siegel, Bhutto menjelaskan masalah ini dengan mengutip beberapa ayat-ayat Qur’an. Ayat-ayat yang dipilih ialah yang bernafaskan perang atau biasa disebut “ayat pedang”.

Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat, mendirikan salat, dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan epada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Quran 9:5). Bhutto mengatakan, sekilas ayat ini tampak menganjurkan kekerasan terhadap orang yang tidak percaya (terhadap Islam). Namun, konteks ayat ini adalah pertempuran spesifik di Madinah yang terjadi pada saat turunnya wahyu, pertempuran melawan penyembah berhala, bukan Ahli Kitab, bukan penganut monotoisme. Ayat ini juga memerintahkan untuk menghentikan kekerasan jika pelanggarnya bertaubat.

Ayat pedang kedua berbun­yi seperti berikut: “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya dan tidak beragama dengan benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (Al-Quraan 9:29). Bhutto mengatakan “Walau ayat ini tampak problematik, jika dibaca dengan saksama akan jelas bahwa ayat ini tidak menganjurkan kekerasan terhadap ahli kitab, melainkan hanya kepada mereka yang serta-merta menolak Tuhan dan ajaran-ajarannya.” Dan terakhir, jika musuh menginginkan perdamaian, maka harus diberikan: “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Quran 8:61).

Ayat-ayat di atas membuktikan bahwa sebenarnya ajaran Islam pun cinta damai. Namun mengapa ada sebagian pengikutnya yang tidak cinta damai? Hal ini bisa dikarenakan adanya penafsiran-penafsiran yang salah dan mereka tidak mentaati semua ajarannya, hanya mengambil bagian-bagian yang sesuai dengan tindakan mereka dan menjustifikasi tindakan mereka dengan ayat-ayat tersebut.

Sekarang mari kita telisik ajaran dalam agama Budha.  Agama Buddha dikenal sebagai agama yang mengajarkan cinta kasih dan kasih sayang. Tujuan utama umat Buddha adalah untuk mencapai kedamaian batin dan mencapai Nibbana.  Buddha tidak mendukung adanya suatu konflik. Tujuan dari agama Buddha adalah untuk mengatasi konflik yang ada pada tingkat kesadaran individu. Hal tersebut dijelaskan dalam “The doctrine of the Buddha is such that one who lives in accordance withit succeeds in living in the world without coming into conflict with anyone” (M.I.109).

Dalam berbagai sumber kanonik Buddha, perang tidak mengasilkan suatu pemikiran yang  baik, akan tetapi menghasilkan pikiran kedengkian dan kebencian, yang benar-benar tidak sehat (S.IV.308). Oleh karena itu, tentara yang ikut berperang dalam mengemban tugas, masa depan mereka akan menjadi salah satu yang menyedihkan, yang sesuai dengan kamma tidak bajik mereka. Semua perang, menurut pandangan Buddhis, berasal dari pikiran orang-orang yang belum terbebas dari lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan). Ketiga hal tersebut bila belum di tekan akan menimbulkan penderitaan.

Dalam Mahadukkhakkhandha Suttadikatakan bahwa: “Having taken swords and shield, having girded on bow and quiver, bothsides mass for battle and arrows are hurled and knives are hurled andswords are flashing. Those who wound with arrows and wound withknives and decapitate with their swords, these suffer dying then andpains like unto dying.” (Horner 1954: 114; Trenckner 1888: 86).  Pernyataan tersebut memberikan pengertian bahwa suatu peperangan yang dilakukan dengan senjata akan mengakibatkan penderitaan bagi orang lain. Oleh karena itu hal tersebut harus dihindari.

Psikologi perang adalah bertentangan dengan psikologi Buddhis tentang pembebasan. Pembebasan dipastikan hanya dengan penghapusan keserakahan, kebencian dan kebodohan. Ketika Buddhist mengejar pembebasan berarti tidak melibatkan diri pada peperangan karena peperangan terjadi akibat adanya keserakahan, kebencian dan kebodohan. Suatu peperangan melibatkan perilaku kekerasan terhadap orang-orang yang ada di dalamnya dan hasil dari kejahatan dan kekerasan dimotivasi oleh suatu keinginan untuk mencapai apa yang diinginkan. Oleh karena itu ajaran kanonik lebih menekankan pada pentingnya menerapkan metode damai untuk menyelesaikan konflik sebelum memulai perang. Di dalam Dhamapada ayat 5 dikatakan bahwa kebencian tidak akan berakhir bila dibalas dengan kebencian akan tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih. Serta Kemarahan seharusnya dimenangkan oleh ketidak marahan, dan kekikiran dengan kemurahan hati (ayat 223).

Dari penjelasan di atas, terlihat dengan jelas bahwa agama Buddha pun mengajarkan kebaikan dan cinta kasih. Lalu mengapa ada pembantaian etnis muslim Rohingya? Jawabannya sama seperti jawaban terhadap pertanyaan umat muslim, karena mereka (yang melakukan kejahatan) hannya mengambil beberapa ayat yang sesuai dengan tindakan mereka dan menjadikan ayat tersebut justifikasi atas tindakan-tindakan yang mereka lakukan.

Dan sebagai penutup, saya mengutip kata-kata Abdul Karim Soroush berikut ini sebagai kesimpulan terbaik dari seluruh problema etika dalam beragama. “Agama wahyu sendiri mungkin benar dan bebas dari kontradiksi, tetapi ilmu agama tidak harus demikiran. Agama mungkin sempurna atau menyeluruh, tetapi tidak demikiran dengan ilmu agama. Agama itu suci, tetapi interpretasinya sepenuhnya manusiawi dan duniawi…”

Nurchoolish Madjid mengatakan “Iman, takwa, dan pengalaman religious dari apresiasi ketuhanan bersifat spiritual. Ini berarti bahwa nilai-nilai tersebut berhubungan dengan sesuatu yang sepenuhnya intrinsik dalam diri seseorang, yang disebut ketulusan. Namun, mereka tetap harus berasal dari pilihan yang bebas dan independen. Dengan alasan inilah nilai-nilai religious sangat bersifat individual.”

Kesimpulannya, etika dalam beragama kembali pada keputusan pribadi masing-masing. Interpretasi yang berbeda-beda dan pengalaman pribadi yang unik lah yang menentukan pilihan etika dalam beragama dari tiap individu.

1 thought on “Mengapa Ada Perang Atas Nama Agama, Jika Semua Agama Mengajarkan Kebaikan?

  1. saya sepakat bahwa interpretasi thd agama manusiawi dan duniawi. saya tidak sepakat bahwa ada agama yang sempurna karena agama pada dasarnya adalah buah pemikiran manusia. satu-satunya yang sempurna adalah (kalau agama tersebut memiliki) Tuhan. apapun alasannya, menjadikan agama sebagai alasan untuk memerangi orang yang berbeda keyakinan adalah hal yang menyedihkan. namun, terus terang pada masa sekarang ini saya belum mendengar atau menemukan ada pelaku kekerasan atas nama agama yang mengutip ayat atau ajaran agamanya sebagai alasan untuk menyerang orang lain kecuali islam. itulah mengapa muncul pertanyaan apakah islam mengajarkan kebencian kepada yang berbeda keyakinan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *