Magister, Semester 1

Media Studies (Theories and Approaches) Dan Laughey Chapter 3, 9 & 10

Tugas Kelompok Kajian Media

Oleh:

Caroline Claudia Christy – 180165624

Gina Aulia Taqwa – 1806252643

Novan Choirul Umam – 1806252776

Svaradiva Anurdea Devi – 1806166330

 

BAB 3 – EFEK MEDIA

        Media begitu mempengaruhi bagaimana khalayak berfikir serta perasaan yang khalayak rasakan. Namun, terkadang opini publik berbeda dengan pendapat pribadi mereka. Ketika kita menanyakan hal yang sama dengan keadaan yang lebih intens, maka pendapat itu akan berubah. Jadi secara tidak langsung masing-masing individu begitu terpengaruh dengan informasi yang disajikan oleh Media. Lantas terdapat beberapa teori yang mampu menjelaskan efek dari media itu sendiri.

Model Stimulus Respon

        Model ini menjelaskan bahwa paparan media yang kita terima setiap hari memberikan efek langsung terhadap kita sebagai khalayak media. Layaknya api yang secara langsung mampu membakar sebuah kayu. Layaknya sebuah makhluk hidup, manusia selalu harus menyesuaikan diri terhadap lingkungan di sekitarnya. Artinya, khalayak akan langsung memberikan respon terhadap informasi yang diterimanya. Misalnya, respon marah ketika mendengar sebuah berita tentang pembunuhan atau respon sedih ketika melihat berita mengenai bencana alam, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, media sangat memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri serta lingkungannya.

Teori Kognitif Sosial

        Teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Manusia memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dan terhubung dengan masyarakat di sekitarnya. Sebuah lingkup masyarakat dimana tempat individu tumbuh akan memberikan sebuah proses pembelajaran yang mampu diserap oleh individu tersebut. Lantas, respon mereka terhadap paparan media akan sangat bergantung pada respon masyarakat sekitarnya.

Priming

        Priming adalah sebuah efek jangka pendek yang menghubungkan kita pada kenangan dalam jangka waktu yang panjang. Semisal ketika kita mendengarkan sebuah lagu sedih, maka kita akan terkenang oleh kenangan masa lalu yang menurut otak kita, itu adalah kenangan tersedih yang kita alami. Efek priming menjelaskan bahwa media memiliki pengaruh yang besar untuk mempermainkan emosi kita. Salah satu contoh efek ini adalah ketika kita membandingkan karakter sebuah aktor pada film tertentu dengan karakter kita di dunia nyata.

Teori Kultivasi

        Teori ini menjelaskan bahwa semakin banyak khalayak terpapar oleh media, maka akan semakin kuat efek yang akan diterima oleh khalayak. Maka ketika informasi yang diterima secara terus menerus, maka akan memberikan dampak akan semakin setuju atau percaya informasi tersebut.

Agenda Setting

Pendekatan ini fokus pada bagaimana media mempengaruhi sikap orang pada isu publik. Teori agenda setting mengembangkan kelayakan dan nilai berita, keduanya dalam hal bagaimana berita disebarkan oleh produser berita dan diterima oleh audiens berita. Disaat itu jurnalis harus menentukan mana berita yang penting untuk dibahas dan mana berita yang tidak usah dimasukkan. Seperti teori kultivasi, pendekatan agenda setting ingin memahami efek media dalam jangka panjang untuk mengerti bagaimana opini dibentuk oleh satu sama lain.

The Innovation Diffusion Model

Terdapat lima kategori yang diungkapkan oleh Everett Rogers dalam Diffusion of innovations (1962). Pertama, ‘inovator’ adalah mereka yang ingin mencoba (atau membuat) teknologi-teknologi baru. Kedua, ‘adopter awal’ adalah mereka yang memiliki pengetahuan yang memimpin para inovator dan menjadi sebuah grup sosial yang mencoba inovasi tersebut. Ketiga dan keempat, datang dari ‘early majority’ dan ‘late majority’ adalah mereka yang membuat sebagian besar populasi menggunakan inovasi tadi menjadi lebih cepat dan membuang keraguan orang-orang dalam menggunakan inovasi tersebut.

BAB 9 – MORAL PANICS

Moral Panics

Moral Panics sangat erat kaitannya dengan masalah-masalah surveillance sosial. Studi media dari moral panic menekankan pada konsekuensi sosial dan hukum dari eksposur publik yang luas (via media) dari kejahatan yang terjadi.

Labelling Theory/Teori Pelabelan

Konsep dari moral panics berawal dari ‘labelling theory’. Premis teori pelabelan berdasar dari ide bahwa aksi orang-orang dinilai dan dilabeli dari reaksi orang lainnya. Pelabelan ditempatkan pada individu dan grup dari respon dari semua tindakan dan sifat nya. Belakangan ini tidak bisa dipungkiri bahwa media merupakan inti dari proses pelabelan.

Teori pelabelan tidak hanya mencatat kekuatan pelabelan dari media. Pelabelan merupakan proses dimana kita semua mengambil bagian di dalamnya. Label tidak diciptakan melalui media, walaupun media yang mempengaruhi pelabelan. Media menyediakan podium untuk public melalui grup yang menyimpang, yang dapat menunjukkan label-label yang diberikan oleh mereka dari masyarakat.

Pembuatan Berita

Berita biasanya kita pahami sebagai konstruksi dari sedikit realitas, walaupun berita mengklaim berita disajikan dalam bentuk yang objektif. Fakta dari berita adalah komoditas untuk diperjual belikan. Terkadang realita yang ada sangat dangkal untuk dijual, sehingga realitas harus secara hati-hati diproduksi dan dikemas untuk tujuan tertentu. Berita bersifat fana sehingga harus dibuat setiap hari.

Moral Panics Theory

Di seminal Folk Devils and Moral Panics (1972), sosiolog Afrika Selatan, Stan Cohen mengadaptasi teori pelabelan dan model amplifikasi-penyimpangan untuk mempelajari apa yang disebutnya ‘kepanikan moral’. Dalam kepanikan moral, Cohen menyatakan, ‘suatu kondisi, episode, orang atau sekelompok orang muncul menjadi didefinisikan sebagai ancaman terhadap nilai-nilai dan kepentingan masyarakat; sifatnya disajikan dengan gaya dan stereotip oleh media massa.

Media melaporkan masalah ini dengan merepresentasikan dan menggunakan stereotip (pahlawan vs. penjahat, dll) secara bebas, diikuti oleh reaksi sosial, dan paku terakhir dalam peti mati adalah pengenalan kontrol sosial (undang-undang berita, pengawasan ketat, dll). Teori kepanikan moral Cohen didasarkan pada gagasan bahwa media tidak hanya melaporkan, dengan cara yang objektif, kerumunan gangguan antara mod dan rocker. Akan tetapi yang lebih pentingnya lagi media benar-benar membantu membangun reaksi sosial terhadap penyimpangan dari kelompok mod dan rocker dengan mensensasionalisasikan tingkat kekerasan dan gangguan. Teori kepanikan moral masih menjadi pemicu dalam hubungan antara media dan ketakutan sosial saat ini dengan adanya kecemasan bahwa  melebih-lebihkan efek spiral dari liputan media pada dimensi opini publik dari reaksi sosial.

Subcultures

Subkultur diatur terpisah dari sisa masyarakat, menentang politik arus utama, agama, perdagangan dan media massa. Subkultur secara aktif memilih untuk memberontak terhadap norma dan konvensi. Nilai-nilai radikal kalangan subcultural memiliki motif dan tindakan yang bertujuan untuk mengubah dunia di sekitar mereka, meskipun pada saat bersamaan mereka ingin tetap berada “di bawah tanah”, dan tidak terkontaminasi oleh kapitalisme konsumen.

Teori subkultur Dick Hebdige (1979), mendukung adanya dua konsep pada subcultural yaitu homologi dan bricolage. Homologi didefinisikan sebagai kesesuaian simbolis antara nilai-nilai subkultur dan produk budaya yang digunakannya untuk mengekspresikan nilai-nilai ini. Musik adalah salah satu produk media paling penting yang digunakan oleh subkultur homolog untuk mengekspresikan apa yang diyakini, menyamakan pilihan pakaian & gaya rambut khas.

Konsep lain dari Hebdige adalah bricolage yang mengacu pada proses kreatif di mana produk media dan budaya diinvestasikan dengan makna subkultur yang bertentangan dengan fungsi aslinya. Sebagai contohnya kalung rantai anjing yang dialihfungsikan sebagai aksesoris bagi anak punk baik digunakan di leher atau digantungkan di celana sebagai ciri khas mereka dengan adanya makna simbolis rantai sebagai simbol solidaritas kelompok anak punk atau diartikan juga sebagai simbol kebebasan dimana mereka tidak ingin dikekang dan dikurung sistem pemerintahan atau norma masyarakat tertentu yang dianggap tidak sesuai keyakinan anak punk.

Censorship & Regulation

Sensor adalah pembatasan dan penindasan atas kebebasan berbicara. Di sisi lain, keberadaan regulasi sebagai upaya untuk menetapkan kontrol terhadap apa yang dikatakan atau ditunjukkan tanpa berurusan dengan penekanan secara langsung. Kepanikan moral dari komentator politis, agama dan sosial seringkali berdampak pada sensor dan regulasi. Pada sebagian negara tertentu seperti Cina, Burma, Iran dan Korea Utara sensor terhadap media diberlakukan ketat terutama pada internet dimana banyak website di blok dan dilakukan cek rutin terhadap kotak masuk email  masyarakat. Di era modern, kepanikan moral berpusat pada sensor atas video game  dan internet dimana anak-anak dan remaja menjadi pelaku sekaligus korban dari perilaku anti-sosial yang menjadi pemicu diperketatnya regulasi pada bentuk dan kultur media baru.

BAB 10 – CELEBRITY AND FANDOM

Celebrity & Fandom

Hubungan antara kepanikan moral terhadap selebriti dan fandom menjelaskan hysteria, fanatisme dan ketergila-gilaan yang dideskripsikan oleh kultur selebritis yang mengundang fanatisme terhadap popularitas dan ketenaran.  Sejarah fandom sendiri berakar dari sekumpulan orang yang berupaya Selebriti dan fandom serta kepanikan moral dari keduanya selalu berkaitan erat. Adanya bombardir terhadap “image” selebriti membawa kultur tersebut sebagai pembawa perubahan yang signifikan dan mampu menggeser peran agama dalam kehidupan modern dimana beberapa kalangan cenderung memuja-muja

Terkait dengan budaya kapitalisme konsumen, fenomena ini dimanfaatkan produsen untuk menunjuk selebriti sebagai “product ambassador” dengan tujuan mempromosikan dan melakukan “endorse” atas produk tertentu. Pada konsep ini, selebriti sebagai “product ambassador” akan menggunakan atau seolah menggunakan produk sebagai bagian keseharian untuk menarik minat konsumsi produk baik bagi fans atau masyarakat yang menjadi target pasar produk tersebut. Selain itu, pertumbuhan media massa juga turut merubah makna dan arti menjadi selebriti, dan menampilkan lebih banyak orang terkenal kepada publik.

Charisma

Menurut Weber, individu yang berkarisma dipandang sebagai seseorang yang diberkati kekuatan supernatural dan “menyerupai Tuhan” seperti Adolf Hitler dan Winston Churchill yang memiliki pesona dan daya tarik, lebih dari rezim politik yang dimiliki keduanya yang mempengaruhi hati dan pikiran bangsa masing-masing. Weber menegaskan pula bahwa karisma tidak sepenuhnya dihasilkan sendiri hanya ketika orang-orang mengekspresikan secara langsung perasaan & emosi terhadap sosok tersebut maka kekuatan kharismatik tersebut melekat pada dirinya. Bagaimana seseorang yang berkharisma memiliki kekuatan daya pikat sedemikian rupa dijabarkan oleh Freud dengan adanya tiga faktor yang mendorong cara kerja pikiran yaitu : 1)”the id” faktor penggerak irasional, di bawah alam sadar berkaitan dengan keinginan, kehendak dan insting, 2) “the ego”  faktor penggerak yang disamakan dengan pertimbangan dan perilaku yang diterima secara sosial, 3) “the superego” faktor penggerak yang diperoleh dari kesadaran akan apa yang benar dan salah. Mendukung pandangan Freud, beberapa analis psikologi mempercayai rahasia dibalik kharisma adalah kapasitas untuk menyentuh ke dalam id banyak orang dan mengaktifkan kehendak yang terpendam sebelumnya. Proses tersebut terjadi ketika orang-orang mengembangkan identifikasi yang kuat dengan figur pemimpin atau selebriti yang diperlakukan sebagai figur panutan hingga menghasilkan perasaan cinta, kebanggaan yang besar/ ketergila-gilaan terhadap figur tersebut meski hanya dikenal lewat media dan rasa duka mendalam ketika sosok tersebut sudah tiada.

Selebriti

Seorang selebriti memiliki karisma, beberapa di antaranya memiliki karisma lebih dari yang lain. Tapi apakah semua selebriti sama?

Terdapat tiga tipe selebriti:

  1. Ascribed Celebrity

Berdasar garis darah. Contoh: Pangeran William, Megawati Soekarno Putri.

  1. Achieved Celebrity

Mendapat gelar selebriti karena mencapai sesuatu atas bakat, kemampuan, atau kualitas yang spesial. Contoh: Michael Schumacer, Ronaldo.

  1. Attributed Celebrity

Dapat menjadi selebriti karena publikasi media, baik mereka suka atau tidak suka. Contoh: Kardashian Family.

 

Media senang membuat orang biasa menjadi luar biasa, karena kisah-kisah “sederhana-jadi-kaya” amat menarik perhatian -sehingga dapat dijual di koran, sarana iklan, voting telepon, dsb.

 

Bintang

Beda selebriti dengan bintang ialah, selebriti tampil sebagai dirinya sendiri di berbagai media. Bintang sering kali merepresentasikan dirinya dan karakter yang mereka mainkan. Misal: Jhonny Depp. Ia merepresentasikan dirinya sebagai Jhonny Depp sekaligus Jack Sparrow ketika wawancara mengenai film Pirates of The Carribean; atau sekaligus sebagai Grindelwald dalam wawancara film Crimes of Grindelwald. Dyer menyarankan tiga cara berikut dalam mengkonstruksi imej bintang, demi otensitas dan keragaman:

  1. Selective use

Proses mengungkap aspek-aspek tertentu dari imej bintang, melalui lighting, skrip, kostum, dsb.

  1. Perfect fit

Imej bintang dan karakternya tak dapat terpisahkan. Contoh: Jim Carrey = Ace Ventura.

  1. Problematic fit

Bintang dan karakternya kontradiksi satu sama lain. Terkadang akar permasalahannya adalah salah casting.

 

Interaksi para-sosial

Cara lain untuk memahami bintang dan selebriti adalah bagaimana mereka berinteraksi dengan publik. Interaksi para-sosial berdasar pada kemiripan yang tampak antara personaliti media dan audiens. Interaksi para-sosial dapat dipupuk melalui tampil di media.

Personae adalah personaliti selebriti yang dibangun secara intim, berhubungan para-sosial dengan audiens media (Horton and Wohl, 1956). Permasalahannya adalah personae menyediakan hubungan berkelanjutan untuk audiens dan karakter mereka yang berubah-ubah.

Thomposn memperkenalkan mediated quasi-interaction pada 1995. Interaksi antara personaliti media dan audiens tidak timbal balik dalam waktu sesingkat-singkatnya; dan tak sepenuhnya interaktif. Selebriti yang sering tampil di TV menentukan aturan untuk berubah. Bahkan THompson memberikan julukan tele visibility, campuran kontradiksi antara ruang/jarak sementara dengan tampilan audio visual. Mudahnya, mereka berada di luar ruang dan waktu yang berjalan di audiens, tapi tampil di mata dan telinga kita pada saat yang sama.

 

Penggemar

Penggemar atau fans berasal dari kata fanatik. Fans adalah komoditas penting bagi industri media dan karir selebritas. Fans membantu selebritas mengamankan kerjasama sponsor dan membantu media menjual rubrik iklan. Bahkan tingkat selebritas dapat diukur dengan mudah berdasar besarnya klub fans mereka. Jenkins berargumen bahwa fans dapat mempengaruhi keputusan yang dibuat dalam proses produksi media.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *