Magister, Semester 1

Media Studies (Texts, Production, Context) – Paul Long dan Tim Wall Chapter 11: Conceptualising Mass Society

Tugas Kelompok Kajian Media

Oleh:

Caroline Claudia Christy – 180165624

Gina Aulia Taqwa – 1806252643

Novan Choirul Umam – 1806252776

Svaradiva Anurdea Devi – 1806166330

 

Program Pasca Sarjana Manajemen Komunikasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

2018

 

Chapter 11: Conceptualising Mass Society

 

Konteks: Masyarakat Massal, Media Massa dan Perubahan Sosial

Karakteristik utama dari periode media massa ini terlihat dalam pertumbuhan penduduk yang cepat dan urbanisasi, pengembangan inovasi dan teknologi yang semakin efisien, dan pergeseran dalam cara kekayaan diciptakan, dari pertanian dan barang kerajinan tangan ke sistem pabrik. Terdapat perubahan strata sosial seiring munculnya kelas menengah pedagang dan kelas pekerja urban yang merebut kekuasaan kaum elit dalam mendirikan bentuk demokrasi dan ekonomi kapitalis modern. Istilah massa dimaknai sebagai adalah suatu yang bermuatan sangat besar yang tak dapat dipisahkan dari argumen dan perdebatan mengenai masalah kekuasaan, kelas dan demokrasi.

 

Teori Masyarakat Massal

Ahli teori komunikasi massa, Dennis Mcquail menyimpulkan dari sejumlah arti mengenai konsep massa, secara dominan dikonotasikan sebagai pandangan negatif mengenai konstruksi sosial yang besar, teragregasi, dan tidak terdiferensiasi yang tidak beraturan. Para ahli teori massa meyakini bahwa industrialisasi, kapitalisme, dan demokrasi telah mengubah masyarakat dari serangkaian hubungan antara individu dengan komunitas dalam skala kecil ke suatu tempat dimana rasa individualitas telah hilang di suasana pengasingan di era modern perkotaan. Proses massifikasi juga terlihat dari hadirnya bentuk komunikasi baru yang bersifat massa dengan munculnya bioskop dan penyiaran. Pertumbuhan populasi, kota dan gaya hidup anonim di negara-negara industrialis pada ratusan tahun terakhir ini dilengkapi dengan bentuk-bentuk komunikasi baru, menghasilkan cara-cara baru dalam menggambarkan dan berpikir tentang masyarakat dan orang banyak sebagai massa.

 

Budaya dan Tradisi Sosial

Gagasan mengenai masyarakat massa terbagi atas dua pandangan yang sangat berbeda, pertama dari seorang akademis Inggris Frank R. Leavis, yang mendalami seni dan studi literatur dan yang kedua dikembangkan di Amerika serikat dan berhubungan dengan perkembangan ilmu sosial. Argumen mengenai masyarakat massa yang dihasilkan Leavis menggemakan beberapa turunan pemikiran lintas Eropa yang mempengaruhi perkembangan sebagai reaksi dari munculnya masyarakat industrial. Leavis sendiri menitikberatkan gagasannya dengan pengaruh dari pemikiran-pemikiran ahli akademis Matthew Arnold.

Menurut Arnold, ukuran nilai dalam masyarakat tidak terletak pada kekayaan yang dihasilkan tetapi pada budaya yang dihasilkan  seperti karya sastra oleh penulis seperti Shakespeare, Donne dan Milton, dalam seni dan musik. Kekuasaan budaya semacam itu bagi Arnold terletak pada kualitas transendental dan potensi untuk membawa kelas bersama, untuk mengimbangi antagonisme politik dan degradasi kehidupan modern, dibuktikan di daerah kumuh perkotaan dan kesenangan populer dapat ditemukan di pub dan ruang musik. Leavis tidak menyukai apa yang dilihatnya sebagai kedangkalan dan ketidaktahuan kehidupan massa modern, dan budaya populer yang berkembang di zamannya sendiri. Bagi Leavis, produk budaya yang dikonsumsi banyak orang film, acara radio, populer musik, koran, majalah bergambar dan klub buku meremehkan materi klasik yang sarat akan makna dan sifat budaya. Hal tersebut dianggap merupakan buah dari produksi dan distribusi modern yang tidak disukainya karena berasal dari Amerika dari mulai konten, produksi dan distribusinya.

Selama masa hidupnya menulis, pandangan Leavis menjadi kian putus asa, melihat penyebaran budaya yang dianggap sebagai sesuatu yang merusak, dan merendahkan budaya masyarakat. Leavis memandang, bahwa pada masa pra-masyarakat industrial, orang-orang berpartisipasi dalam berbagai budaya organik yang telah dirusak oleh budaya masyarakat. Pada industrialisasi modern, individu seolah terasing dari keutuhan potensi dan kemanusiaannya, menurun seperti gerigi mesin dengan rendahnya kualitas produksi seni maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya menurut Leavis dan Frankfurt School diartikan sebagai suatu label untuk mengidentifikasi serangkaian pencapaian dalam bidang seperti kesenian murni, musik klasik, sastra dan tari. Pencapaian ini biasanya diberi label sebagai “high culture” yang mana tidak hanya sebatas pada produk seni dari nama-nama besar seperti Shakespeare, Michelangelo, Voltaire, dll namun juga terkait dengan konsep budaya rakyat ‘asli’ yang merujuk pada sesuatu yang diproduksi sendiri oleh orang biasa dalam konteks tradisi mereka sendiri pula. Pengertian tersebut berbeda dari gagasan budaya populer  yang terbuat dari produk yang dihasilkan oleh media massa.

 

The American Context

Kepanikan moral terjadi di Amerika, timbul sebuah kekhawatiran bahwa generasi muda mereka berubah menjadi lebih individualis dan privat, menyimpang dari budaya yang selama ini tumbuh di Amerika. Itu semua dikarenakan perkembangan teknologi yang berakibat pada berkembang pula media massa. Sementara itu, di Benua Eropa masyarakat justru memandang bahwa aksi massa sebagai sebuah pergerakan positif yang mampu mengarahkan bagaimana media massa mampu sejalan dengan keinginan mereka dan menjadi sebuah alat propaganda yang tumpul. Untuk itu, Dwight Macdonald (1957) mencoba untuk merubah gambaran negatif mengenai efek media massa yang merubah para generasi muda mereka. Mereduksi pengaruh asing dalam budaya mereka. Kemudian sebuah film berjudul “Invasion of The Body Snatchers” diedarkan pada masyarakat luas. Memperlihatkan bagaimana pihak asing bisa begitu saja merengkuh “budaya” Amerika itu sendiri. Namun, pemerintah Amerika kala itu merasa bahwa pergerakan ini sebagai “pergerakan sayap kiri” yang untuk segera dihentikan. Pergerakan pemerintah ini kemudian diabadikan dengan baik melalui film Good Night and Good Luck (2005) serta Gladchuk (2006) dan Bentley (2002).

Apa yang terjadi di Amerika ini merupakan salah satu contoh bagaimana cara memahami konsep dari masyarakat massa itu sendiri. Melalui peristiwa di Amerika ini disimpulkan bahwa masyarakat massa dianggap sebagai sebuah perkembangan yang mengkhawatirkan, karena telah merubah tatanan budaya dan norma yang ada di Amerika. Sehingga diperlukan sebuah perhitungan yang tepat bagaimana cara menangkal efek dari masyarakat massa itu sendiri.

Namun seperti yang telah diceritakan sedikit diatas, bagaimana Eropa memiliki pandangan yang berbeda terkait dampak dari masyarakat massa ini. Fenomena di Eropa kemudian menjadi sebuah cara pemahaman yang berbeda mengenai masyarakat massa. Pemahaman-pemahaman ini lantas disebut sebagai Frankfurt School.

The Frankfurt School

Banyak ilmuwan yang lahir dari Universitas Frankfurt di Jerman. Beberapa diantaranya adalah Theodor Adorno, Max Horkheimer dan yang paling dikenal adalah Jurgen Habermas. Para ilmuwan ini menggabungkan beberapa ilmu dasar seperti filsafat, sosiologi, psikoanalisis, musikologi dan teori sastra. Ilmuwan ini mencoba untuk melawan otoriternya seorang Adolf Hitler pada waktu itu, yang berlandaskan pada pemikiran Marxis dan berusaha mengembangkannya untuk abad ke-20. Namun Hitler yang memang terkenal begitu memanfaatkan masyarakat massa, dia memerintahkan masyarakatnya untuk melupakan kepentingan pribadi demi kepentingan negara, membuat para ilmuwan ini kabur ke Amerika. Banyak macam cara yang telah dilakukan oleh Hitler, salah satunya adalah melalui sebuah propaganda media-media komunikasi massa, seperti pembuatan film, musik, poster, koran, radio dan lain sebagainya.

Namun nyatanya kaburnya para ilmuwan ini ke Amerika ini melahirkan banyak pemikiran baru mengenai masyarakat massa itu sendiri. Dan hingga kini dinilai sebagai landasan kuat pandangan kritis tentang komunikasi dan masyarakat.

 

Pemaknaan Industri Budaya

Budaya yang diciptakan industri media menjadi contoh atau lambang nilai yang dianut oleh grup dominan dan kepentingan sebagian kelompok sosial. Perubahan budaya menjadi produk massa yang berakar pada produksi Hollywood, acara radio, iklan, PH majalah, dsb.

 

Budaya Otentik

Menurut Adorno dan Horkheimer, yang layak disebut budaya otentik adalah yang sebelum datangnya “bentuk-bentuk kapitalis”, seperti dongeng dan lagu rakyat yang diciptakan oleh masyarakat (budaya rakyat, disebarkan dari mulut ke mulut); atau hasil karya literatur seperti novel, puisi, drama; sebi seperti pahatan dan lukisan; atau musik budaya kolektif tinggi.

 

Industri Budaya

Organisasi yang terlibat dalam rasionalisasi ekonomi, organisir dan eksploitasi industri hiburan, budaya atau kerja estetik lainnya untuk menghasilkan keuntungan dan mengelola operasi sistem pasar. Karya budaya yang menurut mereka layak, dikonstruksi melalui logika internal mereka, organisasi industri budaya.

Kita dapat memahami lebih baik dengan mengetahui fitur-fitur produk industri budaya secara detail dan menguji serta melihat mereka dengan tidak mengikuti definisi otentik di atas.

 

Fitur-fitur Industri Budaya

Pertama, produk industri budaya memiliki ciri ‘standarisasi’ dan ‘pseudo-individualisasi’. Dan mengikuti formula yang sama. Contoh: lagu pop selalu mengikuti formula awal, bridge, reff, chorus.

Kedua, karakter yang tidak berbeda dari produk-produk industri budaya mereproduksi audiens dalam sesuai dengan citra produk itu sendiri – membosankan, tidak imajinatif, berulang-ulang. Produk-produk tersebut pernah dikonsumsi sebelumnya, sehingga hasil dan kepuasan yang ada telah diantisipasi. Hal ini menyebabkan keteraturan dan kepatuhan dalam tindakan konsumsi.

Ketiga, produk industri budaya menyebabkan konsumen merasa seperti melakukan katarsis – pengungkapan emosi.

Ciri lain dari industri budaya terletak pada sifat komodifikasi, atau pengemasan dan penjualan budaya.

Menurut Adorno dan Horkheimer, produk-produk industri budaya dijual berdasarkan biaya pembuatan produk tersebut,dan nilai yang dihasilkan. Dua hal ini terpisah dari kepentingan evaluasi makna dan kualitas budaya mereka. Bahkan dalam produk budaya tinggi pun hasil karya dinilai berdasar harganya.

 

Menilai Industri Budaya

Perlu dicatat bahwa Adorno dan Horkheimer amat kritis terhadap sen itu sendiri yang dibentuk dan disatukan oleh sistem dan dikomodifikasi untuk kaum borjuis. Produk media memang serupa, seragam, mengikuti standar, diproduksi menurut selera perusahaan dengan tujuan menghasilkan laba.

 

From culture industry to cultural industries

Dalam beberapa tahun terakhir kata ‘industri budaya’ muncul di publik dan juga wacana akademis. Dalam level global, UNESCO menyebutkan keutamaan dari budaya industri dan apa arti dari kata itu:  Industri budaya, yang meliputi penerbitan, musik, film, kerajinan dan desain, terus berkembang dan mempunyai sosok penentu untuk budaya di masa depan.

 

Menjelajah industri budaya

Menurut rangkuman dari Adorno dan Horkheimer: Semua budaya massa itu identik, dan garis dari kerangka buatan mulai terlihat. Orang yang ada di kelas atas tidak lagi tertarik menyembunyikan monopoli: karena terus terbuka, maka kekuatan pun makin besar. Menurut mereka hasil produk media itu terlihat sama, seragam, memiliki standar, diproduksi oleh perusahaan mode dengan tujuan untuk mengambil keuntungan. Sehingga film, lagu program tv dan lain-lain memiliki formula dan berulang.

 

Siapakah “massa”?

Para teorisi membedakan antara “budaya massa” dan “budaya populer”. Ide terakhir menyebutkan bahwa apa yang orang lakukan dengan produk yang diproduksi secara massa dan diakui, juga, bahwa apa yang diproduksi dalam sebuah konteks dimana produsen dan konsumen berbagai aspek budaya.

Terdapat dua bagian dalam alternatif ini. Pertama detail dari analisis budaya dari kehidupan orang-orang. Dan yang kedua bahwa orang biasa aktif dalam membuat budaya mereka sendiri, walaupun terdapat dorongan sejarah, budaya massa dan sosial.

 

Raymond William: Budaya itu Biasa

Menurut William “culture is ordinary” atau “budaya itu biasa”. Ia mendorong para teorisi untuk memikirkan kembali bagaimana mereka mengerti hubungan antara media massa modern, kelas sosial, kekuatan dan ide budaya. Inti dari pandangan nya adalah bahwa tidak ada massa: “hanya ada cara melihat orang sebagai massa.”

 

Budaya (versi dua): keseluruhan cara hidup

Menurut William, budaya tidak dibuat oleh grup atau individu yang memiliki bakat atau pengecualian tertentu, namun budaya adalah sesuatu yang dihargai oleh minoritas dengan hak istimewa dalam mempertahankan nilai kemanusiaan. Budaya adalah tentang bagaimana orang hidup dan cara mereka menghidupi dan bagaimana mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Dengan fokus pada gagasan budaya yang datang dan tentang kehidupan orang-orang biasa, William mempengaruhi sebuah generasi peneliti tentang budaya dan sosial.

 

Richard Hoggart: Penggunaan Literasi pada Centre for Contemporary Culture Studies (CCCS)

Hoggart melawan dan menganonimkan bagaimana label bekerja, lewat wawasan dan warna dari dalam dunia masa tersebut. Hoggart mencari bagaimana orang biasa membuat bagaimana orang biasa memanfaatkan sumber daya yang tersedia bagi mereka di dalamnya.

 

Budaya “Massa” dan “Populer”

Usaha Hoggart dalam menginvestigasi budaya populer dan makna yang ia punya dari orang-orang, daripada hanya membaca dari teori yang superior, merupakan inovasi yang hebat pada dunia dimana budaya menjadi objek pengawasan yang penting.

Belajar dari William dan Hoggart, dengan afeksi yang lebih pada produk budaya dari dunia setelah perang (baik musik, film, televisi dan sebagainya), mereka menggantikan dengan budaya massa dengan salah satu budaya populer dan dengan nuansa-nuansa atas peran yang dimainkan oleh orang-orang dalam dalam menciptakan makna dari materi yang mereka konsumsi, nikmati dan bahkan mereka produksi sendiri.

 

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *