Kisah Pegawai Negeri Mental Luar Negeri

Rahang pipinya yang kokoh menegaskan ia memiliki garis keturunan Batak. Kulitnya yang putih mulus menandakan ia memiliki garis keturunan Tiongkok. Namun matanya yang besar dan berbulu mata lentik membuat ia terlihat blasteran. “Saya asli Nias, mbak. Orang Nias kan memang putih-putih karena katanya ada hubungan sama Tiongkok sana.”

Ketika pertama berkenalan, mungkin kalian akan terheran-heran mendengar pria keturunan Nias dan Batak ini bernama lengkap Jaya Setiawan Gulo. Sekilas terdengar sangat njawani. Sebagian besar dari kita mungkin akan langsung berpikir kata tersebut merupakan bahasa Jawa dari kata ‘gula’. Tapi tidak demikian menurut pria yang perawakannya tampan satu ini. Gulo merupakan marga dari pulau terpencil di ujung Pulau Sumatera yang harus ia lestarikan.

Meskipun berasal dari kampung nan jauh di Pematang Siantar, tak membuat lelaki kelahiran 8 Mei 1990 ini rendah diri. Sejak mengenyam bangku pendidikan menengah, dirinya telah bertekad untuk menjadi diplomat yang mengharumkan nama bangsa. Itu lah cahaya matanya. Setiap kali sebuah pesawat melintasi langit biru di atas atap rumahnya, ibunya selalu memanggil dirinya “Gulo, ada pesawat tuh!” dan setiap kali itu pula cahaya matanya semakin berbinar dan tekadnya semakin kuat untuk berhasil di mata dunia.

Sayang beribu sayang, keinginan belajar anak pertama dari tiga bersaudara ini tak sekuat tekadnya untuk sukses. Ketika duduk di bangku SD, dari kelas satu hingga kelas empat, dirinya selalu berada di peringkat lima terbawah di kelas. Apalagi keluarganya adalah keluarga pertama dan satu-satunya yang memiliki mobil di kampung Pematang Asilom yang konon sangat ndeso. Rasa sombong pun memakan dirinya.

Untunglah, ketika naik ke kelas lima, ia mendapat titik terang dalam hidupnya. Ia melihat orang-orang di kampungnya hanya menjadi pengangon lembu yang sering meninggalkan kotoran ternaknya sembarangan, mentok-mentok ­pun hanya menjadi pemilik ladang. Ia tidak mau seperti mereka dan mulai rajin belajar. Hasilnya pun tak sia-sia, semenjak kelas lima, ia selalu meraih peringkat lima teratas di kelasnya.

Kala senja menerpa, rumahnya selalu disambangi puluhan pasien ibunya yang merupakan satu-satunya bidan di kampung Pematang Asilom. Pasien-pasien ibunya sering membawa anak-anak mereka untuk bermain di rumah ‘satu-satunya keluarga yang punya mobil’ seraya ibunya diperiksa oleh sang bidan. Siswa SD Inpres Bahkabul ini pun membagikan buku-buku pelajarannya serta memberikan les secara cuma-cuma kepada anak-anak tersebut. Jiwa sosialnya terbentuk dari sini.

Merasa dirinya mampu melawan pesaing dari kampung lain, bocah yang baru lulus SD ini nekad mendaftarkan diri di SMPN 1 Pematang Siantar yang merupakan SMP terbaik di seluruh Pematang. Seusai menjalani ujian, dirinya gelisah bukan main karena mendengar kabar bahwa hanya 20% siswa dari luar Pematang Siantar yang diterima di sekolah impiannya tersebut. Tak dinyana, dirinya merupakan satu-satunya siswa dari Pematang Asilom yang lolos masuk sekolah favorit itu.

Kehidupan di SMP favorit ternyata tak semudah yang dibayangkannya. Pernah sekali ia dipukul menggunakan belebas oleh guru bahasa Inggrisnya hingga belebas tersebut patah. Di kala siswa lain sudah lancar berbahasa Inggris, dirinya hanya mengetahui 3 kalimat yang sangat tidak membantu dalam menjalani kehidupannya sebagai siswa SMP. “Fu*k you, I love you, sama cat and dog. Udah cuma itu doang yang aku tau. Itu yang terakhir pun aku tau gara-gara film Tom and Jerry hahahaha.”

Tapi memang dasarnya sudah keras, mau dijatuhkan bagaimanapun akan tetap bangkit. Lagi-lagi ketika ia lulus dari sekolahnya, ia nekad mendaftar di sekolah yang lebih bagus lagi. Kala itu, ia mendaftar di SMA Matauli milik Akbar Tandjung dan Faisal Tandjung. Sekolah ini letaknya 8 jam perjalanan darat dari kampungnya di Pematang Asilom. Tentulah orangtuanya tak mengizinkan ia pada mulanya, bahkan ia hanya diberikan uang saku sebesar 50 ribu rupiah untuk satu minggu perjalanan agar tidak betah tinggal di Sibolga, kota tempat SMA Matauli berada. Mau tak mau anak dari seorang kontraktor sekaligus peternak ikan ini memecahkan celengannya, bahkan menumpang tinggal di kosan salah seorang kakak kelasnya yang sudah lebih dahulu menjadi siswa di SMA yang lulusannya kebanyakan diterima di BIN (Badan Intelijen Negara) ini.

Lebih dari seminggu lelaki feminim ini menjalani berbagai macam ujian, mulai dari pengetahuan umum, psikotes, wawancara, fisik, hingga tes kesehatan yang menuntut dirinya telanjang bulat bersama banyak orang lainnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, berkat kebulatan tekad dan kerasnya watak, ia tembus menjadi siswa kelas unggulan A SMA Matauli. Hanya 12 orang yang berhasil lolos ke kelas A dari total 349 siswa di angkatannya. Betapa bangga dan haru orangtuanya ketika mendengar kabar keberhasilan anak pertama mereka.

Tak ingin menyia-nyiakan masa gemilang ini, ia pun mencoba ikut berbagai macam organisasi semasa sekolah menengah atasnya. Ia berhasil menjadi Ketua Matauli English Club, Kepala Humas OSIS, dan Kepala Humas Senat Asrama. Ia pun turut aktif di ekstrakurikuler Marching Band SMA Matauli.

Dibalik semua kegiatan dan pencapaian suksesnya, tak sedikit masalah yang menerpa. Ketika SMA kelas 1, keluarganya mendapatkan masalah yang amat berat. Ia pun merasa tak kerasan di sekolah karena tak diperbolehkan menghubungi siapapun termasuk keluarganya selama masih bersekolah di SMA Matauli. “Hanya berkat kekuatan doa dan komitmen ‘harus berhasil’, saya bisa melampaui masa-masa sulit tersebut, Mbak. Saya jadi rajin tahajud, kirim doa buat yang di rumah.”

Tak hanya masalah keluarga, perihal percintaan pun tak sesukses pendidikannya. Ia mengalami kisah cinta yang sendu kala SMA. Setelah berbulan-bulan dekat dengan pujaan hatinya, ia pun harus rela ketika akhirnya juwitanya lebih memilih orang lain ketimbang dirinya. “Mungkin aku nya kurang getol kali ya hahaha padahal kita sering pulang kampung ke Siantar bareng, dia  juga sering curhat sama aku, sakitnya tuh di sini (sambil nunjuk dada-red) hahaha.”

Setelah masa-masa SMA nya berakhir, ia pun segera mencoba untuk mendapatkan beasiswa di NTU, Wesley, dan MEXT Japan. Untung melambung, malang menimpa. Tak satupun dari semua usahanya membuahkan hasil manis. Bahkan FISIP UI pun tak berhasil diraihnya. Cahaya matanya memudar. Ia tak lagi percaya dengan kemampuan dirinya sendiri. Ia akhirnya mengambil kuliah Teknik Sipil di USU (Universitas Sumatera Utara) mengikuti jejak ayahnya yang seorang kontraktor. Namun tak semua buah jatuh dekat pohonnya, ia merasa menjadi seorang insinyur bukanlah passion­-nya.

Selang tiga minggu dari pengumuman penerimaan maba USU, ia pun diterima di D1 STAN Medan. Lelaki yang selalu dimanja ketika kecil ini pun akhirnya mengambil kesempatan tersebut. Namun peluang ini malah membuat dirinya semakin down. “Dulu saya selalu masuk sekolah dan kelas unggulan, berhasil meraih berbagai macam kesuksesan. Tapi kenapa sekarang saya malah masuk D1? Hanya itu yang terus saya pikirkan semasa kuliah D1.”

Setelah menanggalkan kuliah D1 nya, ia pun bekerja di Bea dan Cukai Sumatera Utara. Ia sendiri pun sebenarnya tak kerasan di kantornya. Ia merasa ia bisa melakukan lebih banyak hal yang positif seandainya ia tak menjadi pegawai negeri.

Seiring berjalannya waktu, kantornya mengadakan gathering di Jakarta dan membuat dirinya berkesempatan untuk bertemu dengan Sri Mulyani dan Anggito Abimanyu. Ia luar biasa terkesima melihat dua orang yang begitu hebat akan pola pikirnya, bukan karena jabatannya. Dari situ lah, cahaya matanya bersinar kembali. “Hidup ini seperti lomba estafet, ada yang mulai di belakang, di tengah, dan di depan. Seberapa cepat kita berlari, seberapa bagus cara kita berlari, se-fair ­ apa cara kita menjalani, itu lah yang menjadi nilai kita. Selama kita memiliki tujuan, itu lah gol kita. Dan sorak sorai keluarga dan teman-teman itu lah yang menjadi cinta untukku.”

Tak hanya sekedar bicara, bukti kesuksesan yang sudah ia raih pun banyak sekali. Lelaki yang saat ini tugas belajar di D3K STAN Bintaro ini pun berhasil mengikuti short course untuk pejabat kelas 3A (setara wali kota) sementara ia kala itu masih eselon 2A. Dan lebih hebatnya lagi, putra dari Dalinuso Gulo ini berhasil mengikuti London International Model United Nation, semacam simulasi konferensi sidang PBB, dan didelegasikan sebagai Minister of Family and Social Policy di Turkish Cabinet yang membahas konflik di Mesir masa itu.

Kini, selain aktif di kampus dan acara-acara bergengsi, ia turut berpartisipasi di Young on Top, TedxTelkomu, @wasteforchange, serta relawan mengajar. “Tak penting kamu lulusan S1 atau D1, selama kamu berhasil dan berguna untuk orang lain. Sudah terlalu banyak orang yang berhasil untuk dirinya sendiri.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *