Celoteh, Celoteh Pengalaman, Portfolio, Portfolio Project

Internationalized Domain Names Aksara Nusantara

Internationalized Domain Names, biasa disingkat IDN, merupakan nama domain yang memungkinkan manusia menggunakan bahasa dan skrip (kode huruf) lokal. Negara-negara yang menggunakan IDN antara lain Tiongkok, Arab Saudi, Rusia, dan Jepang.

Indonesia, melalui Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), membuat IDN untuk lima aksara lokal yaitu Jawa, Sunda, Bali, Batak, dan Bugis pada 2017.

Peluncuran IDN Aksara Nusantara, SSO, dan blog My.ID pada 2017.

Namun sayangnya, kala itu baru tiga situs dengan aksara lengkap yang dibuat. Tiga situs tersebut adalah situs aksara Jawa, Bali, dan Sunda.

Pranala situs aksara Jawa: ꦧꦚꦸꦩꦱ꧀.id atau http://xn--4l9azah6a7a0c.id atau banyumas.id

Tampilan situs atau web aksara Jawa.

Pranala situs aksara Sunda: http://xn--bxfb3a2a0a.id/ atau sunda.id

Tampilan situs atau web aksara Sunda.

Pranala situs aksara Bali: http://xn--2tfn4b.id/ atau bali.id

Tampilan situs atau web aksara Bali.

Kala itu, saya ditunjuk sebagai ketua proyek IDN 3 aksara lokal tersebut.

Teknis situs dibantu oleh Freddy Manullang (staf Teknis PANDI) dan Shidiq Maulana (Manajer Teknis PANDI).

Untuk penulisan aksara Jawa dibantu oleh tim TDK Indonesia, kelompok pemuda Banyumas yang terdiri dari Soep, Arya, dan Pradna.

Penulisan aksara Sunda dibantu oleh tim Wacana yang berasal dari Bandung. Mereka terdiri dari Fahmi dan Su.

Untuk situs aksara Bali tanggung jawab diberikan pada Chairul Afif (staf Sosialisasi dan Komunikasi PANDI).

Di awal pengerjaan proyek ini, kami juga studi ke tim IDN Rusia.

IDN memungkinkan budaya Indonesia, khususnya aksara Nusantara dilestarikan dan diperkenalkan pada generasi berikutnya. Pembahasan yang kala itu ditulis dalam tiap web seperti resep makanan lokal, tari daerah, dan banyak lagi.

Cara membuat situs dengan aksara lokal kala itu amat sulit (setidaknya bagi saya). Kami harus menggunakan ASCII, kira-kira seperti ini:

Konversi aksara menggunakan ASCII.

Tapi itu pun tak sempurna.

Layaknya Google Translate, masih banyak kesalahan dalam menerjemahkan atau mengkonversi tulisan latin ke aksara yang diinginkan. Sehingga dibutuhkan manusia yang masih paham betul cara penulisan aksara lokal tersebut.

Pada saat itu, untuk aksara Jawa kami berdiskusi dengan Ahmad Tohari, seorang sepuh Banyumas yang dikenal karena menulis Ronggeng Dukuh Paruk.

IDN Nusantara tak dipungkiri masih perlu pengembangan lebih lanjut. Dengan begitu, aksara lokal Indonesia tak hilang dimakan waktu.

You may also like...

1 Comment

  1. […] Artikel lebih lengkap mengenai IDN Nusantara saya tulis di sini. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *