Gojek atau Grabbike?

Sebenarnya sudah dari lama mau menulis perihal ini. Tapi karena sok sibuk, alhasil baru sekarang.

So, here is my review about gojek and grabbike.

1. Tarif

Sebagai mahasiswa yang lagi magang dan cuma dikasih uang transport 25 ribu per hari, keberadaan gojek dan grabbike ini sangat membantu.

Memang tarif mereka selalu berubah, dan ini sedikit paparan mengenai perubahan tarif masing-masing.

Gojek mulanya bertarif 10 ribu di Jabodetabek, tapi sekarang naik jadi 15 ribu. Dan kalau rush hour biayanya nambah lagi jadi 15 ribu per 6 kilometer pertama kemudian nambah 2500 rupiah per kilometer selanjutnya. (Bener ga?) Nah tapi beberapa hari belakangan ini mereka lagi nerapin flat rate even though it was rush hour jadi 15 ribu dengan maksimal 25km.

Grabbike mulanya bertarif lebih murah dari harga nasi padang yakni 5 ribu rupiah. Sekarang, di Jakarta, grabbike tarifnya naik menjadi 15 ribu rupiah, dan 20 ribu rupiah jika rush hour. Di Tangerang Selatan dan Depok, tarif grabbike masih seharga 2 es teh manis yaitu 5 ribu rupiah. Kalau kata driver-driver grabbike sih, memang warga tangsel dan depok lagi dimanjain banget sama grabbike karena baru nongol di daerah situ.

2. Fleksibilitas area

Bingung sih sebenarnya benar tidak ya judulnya ‘fleksibilitas area’, tapi saya juga belum tahu kata yang tepat untuk mendeskripsikannya.

Jadi, kalau di gojek itu kan yang penting maksimal 25 km. Mau itu dari jakpus sampai tangsel, selama masih 25 km mah dijabanin sama abang gojeknya. Tapi selama pakai gojek, tak pernah bisa tuh mesen sampai 25 km. Paling mentok di 24,73 km hehehe.

Kalau di grabbike, kita tidak bisa lintas regional. Misal, saya di BSD mau ke Pondok Indah, meski masih di bawah 25 km, pasti tidak bisa order. Kenapa? Karena BSD masuknya tangsel dan Pondok Indah masuknya Jaksel.

3. Driver

Memang sih tiap manusia ada kelebihan dan kekurangan masing-masing, ini hanya generalisasi dari sekian banyak abang gojek dan grabbike yang saya tumpangi. (Saya sehari tuh bisa naik gojek
/grabbike 6x, lho.)

Akhir-akhir ini sering kali saya jumpai driver gojek yang… ngasal. Entah itu sotoy engga tahu jalan tapi engga ngomong, atau ban motor bocor dan saya ditinggal gitu aja, bahkan ada yang menawarkan tarif normal padahal saya pesan pakai aplikasi! Awalnya saya bingung maksudnya tarif normal tuh bagaimana, akhirnya setelah beberapa kali nemu driver gojek yang nawarin “tarif normal”, saya pun ngerti bahwa si abang gojek tuh minta dibayar sebanyak yang akan dikasih oleh si perusahaan. Jadi, misal saya pesen dari Cilandak ke Rawamangun, harusnya kan bayar 15 ribu, tapi si abangnya minta dibayar 60 ribu.

Tapi itu hanya segelintir sih… masih banyak juga driver gojek yang ngajak curhat via whatsapp , atau sengaja beliin jas hujan buat kita. Curiga driver gojek banyak yang jomblo.

Kalau driver grabbike alhamdulillah hingga saya menulis artikel ini tidak ada yang nyeleneh. Mostly they are very polite. Mungkin karena di grabbike lebih ketat kali ya seleksinya… saya kurang tahu juga sih. Tapi kalau harus milih, saya lebih suka driver grabbike dibanding gojek. Kenapa? Terkadang driver gojek tuh tidak membaca situasi ataupun mood si penumpang. Banyak yang terus-menerus ajak bicara dan terkadang pertanyaannya “menjurus ke ranah sangat privasi”. Saya diamkan pun dia masih nanya-nanya, astagfirullah… mereka sih ngakunya, “Itu salah satu service kami mbak biar penumpang ga ngantuk,” tapi mbok ya dipikir-pikir dulu tho.

Oke, sekian dari saya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *