Do not judge the book by its cover

Kalian tau ga sih, orang-orang lain selain kami bertiga tuh

mandang kalian tuh jelek banget.

Bahkan si A aja bilang gini

“Udah lah kamu ngapain sama dia,

kamu tau sendiri dia penari, tinggal di Jakarta pula.

Tau sendiri pergaulannya gimana.”

Astagfirullah…

Sungguh sakit hati sekali rasanya ketika mendengar teman saya di negeri para pharaoh sana berkata seperti itu.

Saya tahu, memang banyak sekali orang yang merendahkan penari. Banyak yang berpikir kami ini hidup di dunia gemerlap, terjerumus dalam seks bebas, obat-obatan, dan hal negatif lainnya.

Tapi tidak dengan saya dan teman-teman saya.

Mau contoh nyata?

Saya, lulus dari SMA 70 Jakarta, kuliah di Universitas Multimedia Nusantara dan berhasil masuk karena beasiswa. Saya lancar berbahasa Inggris dan Perancis. Saya juga berhasil masuk hingga 10 besar Miss UMN. Saya aktif di berbagai organisasi mulai dari TEDxUltima hingga Young on Top Tangerang. Saya sering menjadi penerjemah jika ada tamu dari luar negeri. Saya bisa main piano dan flute. Dan banyak hal lainnya yang (alhamdulillah) bisa saya banggakan dari diri saya.

Contoh kedua, sahabat saya sejak usia 6 tahun, Puput. Lulusan SMP 115 Jakarta, SMA 8 Jakarta, dan kini kuliah semester 3 di STAN. Dia berhasil menjadi Putri Akuntansi STAN. Dulu di SMA pun ia menjadi ketua ekskul pecinta alam. Ia sering menari di berbagai acara tingkat nasional dan kini mengajar tari di STAN.

Balik ke pembicaraan teman saya tadi.

Ketika mendengar teman saya berkata seperti itu, saya hanya bisa tersenyum dan mengucap “Astagfirullah.”

Saya tahu memang banyak sekali sebenarnya orang yang berpikiran seperti itu, dan saya serta teman-teman saya pun sebenarnya sudah terbiasa menanggapi hal tersebut.

Tapi ini berbeda. “Mereka” yang mengatakan hal tersebut adalah orang-orang yang saya harap terpelajar dan berpikiran terbuka. “Mereka” yang mengatakan tersebut seharusnya adalah orang-orang yang selalu berpikir positif serta menjadi teladan dalam bersikap dengan orang lain.

Entah saya lebih sedih karena mendengar saya dan teman-teman saya dikatai atau mendengar “mereka” berbicara seperti itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *