Backpacker Sumatera Barat – Danau Toba – Medan (part 1 – Sumatera Barat)

Sebenarnya kegiatan backpacker ini bukan saya lakukan baru-baru ini, tapi sudah setahun yang lalu, Februari 2016.

Mulanya, saya dan teman-teman tempat saya berorganisasi dulu, yakni Young On Top Tangerang membuat satu talkshow bertema “Traveling” bersama Yudha @catatanbackpacker , Abex @anak_bebek , dan Bara pemilik @travelmie.

inspiration corner yot tangerang

Acara Young On Top Tangerang.

Setelah acara itu berakhir, sebagai Ketua Acara, tentunya saya basa-basi dengan narasumber. Nah, ketika basa-basi dengan Yudha @catatanbackpacker, saya bertanya padanya, “Kapan backpackeran lagi, Kak?” dan ia menjawab, “Bulan depan nih ke Sumatera.” Dan (salahnya) saya respon, “Ikuuuut!”  dan… intinya pembicaraan itu terus berlanjut hingga kami ngecek harga tiket pesawat yang murah pada tanggal Yudha backpackeran HAHAHA.

Tibalah hari backpackeran itu.

Yudha sudah berangkat lebih dulu dua hari sebelumnya bersama “sponsor” ke Sumatera Barat.

Kami janjian bertemu langsung di Sumatera Barat, tepatnya di rumah teman kami bernama Tika (instagramnya @apriliasya). Tika adalah salah satu follower instagram @catatanbackpacker. Jadi, tiap kali Yudha pergi berkelana, ia akan mengumumkan di instagram tersebut dan biasanya orang-orang akan merespon untuk menemani Yudha jalan-jalan. Waktu itu, Yudha berkenalan dan meminta tolong pada Tika untuk menampung saya dan ia selama kami di Sumatera Barat.

Backpacker Day 1

Padang, 1 Feb 2016.

Saya naik pesawat pukul 20.00 WIB (kalau tidak salah). Itu adalah pesawat paling malam dari Jakarta (CGK) ke Padang (PDG). Harga tiket pesawatnya murah, berkisar antara Rp 200.000 sampai Rp 300.000. Saya pesan tiket pesawat Sriwijaya Air melalui situs Nusatrip.

nunggu pesawat di bandara

Menunggu pesawat di bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.
Saya hanya membawa satu tas punggung dan satu tas jinjing.

Perjalanan Cgk-Pdg ditempuh dalam 45 menit. Setibanya di bandara Padang, saya menunggu dijemput oleh Tika. Dan di situ saya sangat menyesal telah memilih penerbangan paling malam. Bandara Padang ternyata tutup pukul 22.00 WIB! Sialnya lagi, terlalu banyak “semacam-uber-tapi-tidak-dapat-dipercaya” di bandara Padang. Entah berapa kali saya menolak diantarkan oleh “taksi bodong” tersebut. And it freaks me out. Untunglah saya ditemani beberapa penumpang laki-laki baik hati yang juga menunggu dijemput.

Bandara Padang.
instagram - padang day 1
Lessons learnt!
1. Jangan naik pesawat paling malam, karena bandaranya tutup jam 10 🙁
2. Kalau makan nasi padang, langsung minta lauk dan sambal yang ingin dimakan. Karena kalau di sini, meski ga dimakan, akan tetap dihitung memesan. Dan akan jadi mahal banget…
3. Jajanan yang hits: kopmil omping cincau, yakitori, es aloha (baru mau coba hari ini)
4. Ga ada alfamart, indomart, carefour, giant, hero, dan sejenisnya. Adanya robinson. Itu pun cuma satu 🙁
5. Untuk mendapatkan channel tv Indonesia, harus pakai parabola! Sementara kalau di Jakarta, cukup pakai antena biasa.
6. Angkot hanya sampai pukul 8 malam.
7. Di saat mahasiswa-mahasiswa Jkt lagi libur, justru mahasiswa-mahasiswa di Padang mulai masuk.
8. Ternyata dari ujung barat ke ujung timur Padang tuh bisa ditempuh dalam waktu yang tidak lama ._. Kaget banget kemarin pas dijemput di Bandara, trus 30 menit kemudian udah nemu kapal-kapal yang ke Mentawai .____.
9. Banyak yang jual telur katuang (telur penyu), dan aku belum berani mencoba huhu. Nanti biar si @ashari_yudh@catatanbackpacker aja yang coba. Lolll.
10. Cuma ada 1 mal yaitu Basko. Basko merupakan singkatan nama pemiliknya yaitu Basrial Koto.
#travelogdiva #backpackernewbie #padang

Tika menjemput saya sekitar pukul 22.30, dan sebelum pulang, kami jalan-jalan melihat Padang di malam hari.

Saya diajak melihat klenteng See Hin Kiong di Kota Tua Padang sekaligus mencoba kopmil (kopi milo) omping cincau yang banyak dijual di depan klenteng. Harga kopmil tersebut Rp 5.000 per gelas.

Klenteng See Hien Kiong, Padang.

Setelah itu, kami melihat Monumen Gempa Padang dan mencoba sate yakitori seharga Rp 20.000 per porsi di sekitar monumen tersebut.

monumen gempa padang.jpg

Monumen Korban Gempa Padang 2009.

Backpacker Day 2

Padang, 2 Feb 2016.

instagram - padang day 2

Saya diajak Tika berkeliling Padang. Saya mencoba Es Jagung Hawaii, isinya adalah jagung yang diblender kemudian dicampur dengan susu kental manis dan diberi es. Rasanya? Seger! Harganya juga murah, saat itu kalau tidak salah hanya Rp 4.000 per gelas.

Sembari menghabiskan Es Jagung Hawaii, kami melanjutkan perjalanan ke Makam Siti Nurbaya. Kami naik motor melewati jembatan Siti Nurbaya.

Jembatan Siti Nurbaya

Pemandangan dari Jembatan Siti Nurbaya

Tak jauh setelah melewati jembatan, kami tiba di tempat parkir wisata Siti Nurbaya ini. Harga tiket masuknya Rp 5.000 per orang, dan sepertinya tempat wisata tersebut dikelola oleh warga. Dari tempat parkir tersebut kita harus berjalan kaki menanjak bukit selama 1 jam. Hati-hati karena banyak kotoran ayam di sepanjang jalan. Hal yang paling saya ingat adalah kami dikejar monyet serta iguana sepanjang jalan kaki, dan akhirnya kami kembali ke tempat parkir akibat ketakutan hahaha.

Malam harinya, Yudha bergabung dengan saya dan Tika. Kami mencoba Lang Kitang (Keong Sawah) dan Pensi (Kerang).

lang kitang dan pensi makanan khas padang

Dua makanan khas Padang ini menggunakan bumbu gulai. Bedanya Lang kitang pakai santan, sementara Pensi tidak. Harga per porsinya Rp 15.000 – Rp 20.000.

Kami juga jalan-jalan ke… saya lupa namanya hahaha. Fotonya di bawah ini.

padang malam hari 1padang malam hari 2

Backpacker Day 3

Padang, 3 Feb 2016.

Yudha mengajak 1 teman dari pengikut instagram @catatanbackpacker bernama Yosar untuk bergabung jalan-jalan di hari ketiga ini.

Tika memberikan ide untuk jalan-jalan ke pulau terpencil nan indah bernama Pasumpahan.

instagram - padang day 3

Kami berangkat agak siang pukul 10.00 WIB dari Padang kota dan tiba di Nagari Sungai Pisang pukul setengah 12. Saya dibonceng Tika, dan Yudha membonceng Yosar.

Jalan menuju Nagari Sungai Pisang. Indah di pagi hingga sore hari, menyeramkan di malam hari akibat tidak adanya lampu penerangan sepanjang jalan.

Jalanan menuju Nagari Sungai Pisang sangat menakjubkan. Kita seakan diajak menjauh secara perlahan dari Pulau Sumatera. Sayangnya jalanan tersebut sangat buruk fasilitasnya. Tidak ada lampu jalan, dan masih banyak jalanan yang belum aspal, bahkan masih berupa tanah. Jalanannya pun di beberapa bagian sangat terjal dan sempit, tidak akan dapat dilewati oleh mobil.

Sesampainya di Nagari Sungai Pisang, kami beristirahat sejenak di rumah Pak Adi.

sebelum menyeberang ke pasumpahan

Di rumah Pak Adi, salah satu pemilik kapal motor untuk menyeberang ke Pasumpahan.

Di rumah Pak Adi, kami bertemu dengan 2 laki-laki bernama Hendri dan Defri yang juga ingin jalan ke Pasumpahan. Kami masing-masing membayar Rp 30.000 untuk perjalanan bolak-balik Nagari Sungai Pisang – Pulau Pasumpahan. Dan juga membayar Rp 40.000 untuk makanan dan minuman selama di Pasumpahan.

kapal di sepanjang jalan menuju pasumpahan

Pemandangan saat menyeberang ke Pasumpahan.

kapal menuju pasumpahan 2

Kiri-kanan: Saya, Yudha, Yosar.

kapal menuju pasumpahan

Di kapal, menyeberang ke Pasumpahan dari Nagari Sungai Pisang.

Dalam waktu 30 menit, kami sudah tiba di Pasumpahan. Indah sekali, Ya Allah! Airnya luar biasa jernih, saya bisa melihat dengan jelas dasar lautnya. Dan pulau tersebut sangat sepi hingga kami merasa berada di pulau pribadi.

instagram - padang day 3 part 2

jernihnya air pasumpahan

Jernihnya air di Pasumpahan.

mancing ikan di pasumpahan

Banyak nelayan yang masih memancing ikan dengan menebar beras dan menarik ikan dengan kail.

pasir putih pasumpahan

Pasir di Pasumpahan sangat bersih dan putih.

pasumpahan 1

Saung-saung di Pasumpahan.

pasumpahan 2

Pulau Sumatera terlihat sangat indah dari Pasumpahan.

pasumpahan 3

Berfoto di jembatan Pasumpahan.

pasumpahan 4

Layaknya destinasi wisata lainnya, ada tulisan penanda nama pulau.

saung di pasumpahan

Saung di Pasumpahan. Bersih dan nyaman.

minuman di pasumpahan

Kami disediakan air mineral segalon dan makanan bungkus.

Oh iya, meski ini adalah pulau yang (bagi saya) sulit dijangkau masyarakat umum, tapi sinyal Telkomsel maupun XL sangat jelas di sini. Setidaknya saya bisa video call dengan lancar.

Kami kembali ke Padang kota sekitar pukul 18.00 WIB. Saya dan Yudha mengejar bis paling malam ke Danau Toba. Kisah selanjutnya akan saya tulis di part 2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *