TravelogDiva

Backpacker Sumatera Barat – Danau Toba – Medan (part 2 – Pulau Samosir)

(sebelumnya, baca part 1 di sini, ya!)

Pulau Samosir Day 1

5 Feb 2016.

Dibutuhkan 20 jam waktu tempuh untuk melihat pemandangan ini. Aku dan @ashari_yudh memulai perjalanan dari Padang pukul 2 kemarin siang, dan tiba di Pelabuhan Ajibata Sumatera Utara pukul 10 pagi WIB.

Kami naik Bis ALS dengan biaya sekitar Rp 160.000 – Rp 180.000 dari terminal bis Padang.

Kami diturunkan di pom bensin dekat pelabuhan Ajibata Sumatera Utara. Masih harus naik angkot dengan biaya Rp 3.000 untuk ke pelabuhan.

Biaya penyeberangan dengan kapal kelas ekonomi hanya Rp 6.000. Sangat murah, namun ada rekan kerja saya yang pernah mengalami kapalnya berhenti mendadak di tengah danau dan harus dijemput menggunakan speedboat dan membayar Rp 1.500.000 :”) Tapi untungnya saya tidak mengalami hal tersebut. Menyeberang dari Ajibata ke Tomok memakan waktu sekitar 30-45 menit.

Pemandangan dari Pelabuhan Tomok.

Di sebelah kanan foto, terdapat hotel terkenal Danau Toba International Cottage Parapat.

Sebaiknya menginap di Samosir langsung. Banyak hotel yang lumayan bagus di daerah dekat Ambarita.

 

Selama di Samosir, saya dan Yudha ditemani oleh Wiwik. Ia punya toko pahat dan kerajinan tangan persis di tengah Tomok.

Kami mencoba Mie Gomak dan Godok-Godok! Mie Gomak ini bahannya seperti spaghetti namun bumbunya menggunakan kuah kari. Rasanya masya Allah… TABO HIAN! Nah kalau Godok-Godok, seperti kue bantal di Jakarta. Bedanya, kalau di Jakarta bumbu gulanya ditabur di luar, nah di Samosir bumbu gulanya di dalam rotinya. Harga Mie Gomak hanya Rp 5.000 dan Godok-Godok hanya Rp 1.000 per roti.

Kiri: Mie Gomak. Kanan: Godok-Godok

Malam harinya, aku dan @ashari_yudh diajak oleh keluarga @wiwiknainggolan ke sebuah daerah bernama Pangururan yang menyuguhkan air panas alami.

Mulanya aku tak mau karena kami harus bangun sangat pagi esok hari, namun karena penasaran mendengar cerita Wiwik dan mamanya akhirnya tertarik juga lah kami.

Berangkat sehabis makan malam pukul 8, perjalanan diiringi dengan kisah-kisah khas Samosir. Seperti Dongeng “Orang Batak Makan Orang”, Meletusnya Gunung Toba, dan masih banyak lainnya.

Tiba-tiba sekitar pukul 9 malam, mobil kami terhenti. Salah satu bagian mobil terlepas dan kami terpaksa menunggu bantuan di pinggir jalan.

Asal kalian tahu, di Samosir tidak ada lampu jalan. Lingkungannya sangat sepi. Rumah berjauh-jauhan. Dan suara babi hutan terdengar sangat dekat dan jelas di manapun kamu berada. Jadi mobil mogok di malam hari adalah musibah yang membingungkan.

Lucunya lagi, saya kebelet pipis :)) tentu tidak ada toilet umum di daerah mobil kami mogok. Rumah warga pun sudah pada gelap dan tak enak mengetuk malam-malam. Akhirnya, saya pipis di pinggir jalan dekat babi-babi hutan hahahaha. Saya sudah takut saja diseruduk babi ketika akan pipis :p

Gelapnya malam menjadi teman. Suara babi hutan mengiringi kisah lucu Mak Winna mengenai kepintaran orang-orang Batak. “Ada satu kisah orang Batak ni pintar sekali. Dulu orang tuh punya petak luas-luas. Nah ceritanya ada 1 opung ambil tanah miliknya seember lalu ia pindahkan ke petak tetangganya. Kemudian ia berdiri di atas tanah tsb. Tetanggnya pun marah, ‘Heh itu tanahku!’ Lalu si Opung menjawab “Ini tanahku. Kalau tak percaya, coba kau tembak saja aku 3x! Kalau aku tak mati, berarti ini benar tanahku!’ Sang tetangga pun mengambil senapan dan menembak si Opung. Karena tanah di tempat opung berdiri benar-benar tanah miliknya, si Opung tak mati. Dan tanah tetangganya itu jadi milik si Opung.” BUAHAHAHAHA aku dan Yudha tertawa tak karuan. ‘Pintar kali si Opung!’, pikirku.

Kami terus bercengkrama dan mendengar kisah-kisah lucu dari Mak Winna hingga tak sadar sudah pukul 10 malam. Bantuan pun datang dan kami melanjutkan perjalanan ke hot spring.

Sesampainya di sana, aku takjub melihat batu-batu granit raksasa mengelilingi tempat berendam kami. Batu-batu raksasa itu mengalirkan air belerang langsung hingga panasnya dan bau khas belerang amat terasa di ujung hidung. Pemandangan Danau Toba di kala malam menjelang pun membuat otak ini tak habis pikir. Pemandian air panas ini terletak di daerah Pangururan, Samosir. Lumayan jauh dari kota. Bahkan sudah agak menyeberang kembali ke Sumatera.

Berendam di sana gratis asalkan kamu membeli makan dan minum di sana. Harga makan dan minumnya pun relatif murah. Kami membei teh panas dengan harga Rp 3.000 dan roti seharga Rp 10.000.

 

Pulau Samosir Day 2

6 Feb 2016

 

Pagi-pagi sekali, saya dan Yudha berkeliling Samosir. Kami menyewa motor seharga Rp 110.000 untuk sehari penuh.

Mulanya kami ke makam raja-raja dan melihat sigale-gale di Tomok. Kemudian mulai berkeliling ke jalan lingkar Tuk-Tuk melihat hotel-hotel yang ada di sana. Lalu ke arah Ambarita melihat gereja-gereja, pemandangan, dan berbicara dengan orang-orang sekitar.

Salah satu pemakaman di Tomok.

Mencoba pakaian adat Toba di Museum di Tomok.

Berfoto di daerah Tuk-Tuk. Banyak hotel bagus di sini.

Pemandangan menuju Ambarita.

Banyak wisatawan Asing di Samosir.

Rumah Adat Toba.

Kami juga berkunjung ke Desa atau Huta Siallagan (saya agak lupa namanya) untuk melihat rumah-rumah adat Toba. Ada biaya masuknya Rp 10.000

Tiap budaya memiliki sejarahnya masing-masing. Seperti rumah Batak Toba ini.

Atap belakang yang lebih tinggi dari atap depan menandakan bahwa sang anak harus lebih sukses dari orang tuanya kelak.

Patung cicak yang menempel di depan pintu memberi makna bahwa orang Batak dapat hidup di manapun, selayaknya cicak yang dapat menempel di mana saja.

Lambang dua payudara yang berada di samping cicak memiliki arti bahwa sang tuan rumah dapat menjamu tamu, lambang kemakmuran dan kejayaan. Konon, dulu lambang payudara ini hanya dimiliki kalangan berada.

Tangga di depan pintu masuk menandakan bahwa masyarakat Batak menuakan raja. Karena ketika masuk ke dalam rumah, tentunya kepala harus menunduk seakan memberi hormat pada tuan rumah.

Sore tiba, kami mencoba pergi ke arah Paralayang Sigarantung. Saat itu sedang tidak ada layanan paralayangnya. Tapi pemandangan yang ditawarkan pun sangat menakjubkan. Kami bertemu segerombolan anak dan remaja yang pulang sekolah. Mereka berjalan kaki, menanjak, naik bukit dari kota hingga rumah mereka yang jaraknya sangat jauh, mungkin sekitar 10 km. Kalau saya yang jalan sih… kayaknya nyerah duluan.

Pemandangan dekat Sigarantung.

Pemandangan di Paralayang Sigarantung.

Ah iya, hati-hati jika menyewa motor di Samosir. Karena:

  1. Banyak sekali razia polisi. Meskipun surat-suratmu lengkap, tetep aja kamu bakal kena tilang. Karena… katanya kalau sewa harus ada surat izinnya (?)
  2. Hati-hati memilih sewa motor (di Samosir, motor disebutnya kereta. Jadi tidak ada sewa motor, adanya sewa kereta). Ada kemungkinan motor yang kamu sewa banyak masalahnya, seperti ban bocor, tidak ada spion, tidak ada helm, dsb. Dan tentunya pemilik motor akan men-charge biaya tambahan untuk kerusakan yang bahkan bukan kamu penyebabnya hahahaha.

Yak, sekian dulu ceritanya. Lanjut part 3 – Medan nanti ya.

 

You may also like...

1 Comment

  1. […] pukul 18.00 WIB. Saya dan Yudha mengejar bis paling malam ke Danau Toba. Kisah selanjutnya baca di sini ya […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *