Analisa Kasus Pemberitaan “The Snowden Files”

Latar Belakang:

Glenn Greenwald, kolumnis dari The Guardian (London) mendapat informasi dari Edward Snowden (31 tahun) mantan pegawai Central Intelligence Agency (CIA) yang menjadi kontraktor untuk National Security Agency (NSA).

Pada Juni 2013, Snowden membocorkan dua program rahasia badan intelijen Amerika Serikat yaitu NSA kepada Greenwald. Program pertama yang dilakukan NSA adalah penyadapan data ke server perusahaan raksasa internet Amerika Serikat (Yahoo, Google, Facebook, PalTalk, YouTube, Skype, AOL, dan  Apple).  Program kedua adalah tindakan NSA pengumpulan rekaman percakapan telpon pelanggan Verizon.

Sepuluh jam setelah wawancara dan pertemuannya dengan Snowden di sebuah kamar di The Mira Hotel (Hong Kong), Glenn Greenwald mem-publish berita pertamanya mengenai pengawasan NSA yang melacak  panggilan telepon jutaan pelanggan Verizone. Laporan pertamanya ini disiarkan secara langsung oleh CNN. Millions of Americans’ Phone Records Seized, US Tracking Verizon Calls. Kabar ini membuat rakyat AS terkejut dan merasa kehidupan privasi mereka sebagai warga negara telah dilanggar pemerintah.

 

 

 

Permasalahan:

– Glenn Greenwald dan David Miranda memberitakan pembocoran informasi dari Snowden.

– Data-data yang diperoleh merupakan data yang disebut “ilegal” oleh Pemerintah Amerika Serikat.

– Baik data, cara memperoleh data, maupun pemberitaan yang dilakukan melanggar undang-undang Amerika Serikat.

 

Analisis:

 

Dalam buku Media Ethics, menurut Patrick Lee Plaisence (2014), etika terbagi ke dalam tiga kategori, yakni :

  1. Kebajikan Utama (Virtue Ethics)
  2. Etika Kewajiban (Duty Ethics)
  3. Etika Konsekuensialis (Consequentialist Ethics)
  • Virtue Ethics :

Mengutip Sandra Borden mengenai Kebajikan Utama, “Virtue theory’s emphasis on the habitual disposition to do the right thing.”

Etika moralitas (virtue) itu difokuskan pada manusia seperti bagaimana kita seharusnya bersikap dan karakter yang kita harus kultivasikan. Etika kewajiban itu berkaitan dengan menetapkan yang kita harus lakukan jika kita mengambil status kita sebagai agen moral yang serius.

 

Thomas Aquinas berpendapat, apabila kita bermaksud buruk di akhir, atau untuk mendapatkan apa yang kita anggap baik, maka kita dianggap sebagai orang yang jahat. Sebagai perantara moral, kita tidak bisa melakukannya.

 

Sistem moral berbasis kewajiban milik Kant merupakan contoh klasik pendekatan deontologis: Sebuah kelakuan tidak dapat dihakimi sebagai salah atau benar berdasarkan konsekuensinya, tetapi berdasarkan apakah orang tersebut mengerti konsekuensi kelakuannya sebagai perantara moral.

Dilihat dari perspektif ini, tindakan wartawan Greenwald dan rekannya tak dapat dibenarkan. Hal ini disebabkan karena data yang didapatkan merupakan data yang dianggap ilegal oleh Pemerintah Amerika Serikat. Meskipun mendapatkan info-info tersebut dari seorang whistleblower, namun data-data tersebut didapatkan oleh Snowden dengan cara meng-hack dari Hong Kong.

 

 

  • Duty Ethics :

Immanuel Kant berpendapat bahwa apa yang membuat kita istimewa sebagai makhluk yang diberikan Tuhan itu memiliki alasan, dan dengan penggunaan yang tepat dari alasan itu, kita sepenuhnya dapat melihat cara di mana kita wajib secara moral untuk menghormati. Menghormati bahwa kapasitas dalam penalaran setiap kasus untuk semua orang.

 

Dalam banyak kasus, kewajiban moral yang kita miliki bisa “agen-relatif” yaitu, mereka mungkin berlaku hanya untuk kita karena hubungan kita dengan individu dipengaruhi oleh tindakan kita. Satu orang mungkin merasa berkewajiban untuk bertindak dengan cara tertentu dengan anggota keluarga untuk menghindari kegagalan moral, tapi perasaan itu mungkin tidak berlaku di perusahaan asing. Idenya adalah bahwa moralitas sangat pribadi, dalam arti bahwa kita masing-masing diperintahkan untuk menjaga rumah moral kita sendiri.

 

Dalam buku Media Ethics, Patrick mengatakan bahwa, “In that it forcefully argues  since these moral duties define what action is right, our moral judgement cannot rest on the outcomes, or consequences, of those acts.”

 

Berdasarkan pernyataan tersebut, tindakan yang dilakukan oleh Greenwald dan rekannya dapat dinilai benar atau salah. Pasalnya, Greenwald dan rekannya memberitakan hal tersebut demi kepentingan orang banyak, namun caranya ‘menyakiti’ Pemerintah Amerika Serikat, sehingga secara moral sebagai “warga negara Amerika Serikat kala itu” tindakan Greenwald dan rekannya dapat dinilai salah. Namun, sebagai “warga dunia” tindakan Greendwald dan rekannya dapat dianggap benar.

 

  • Consequensialist Ethics

Etika konsekuensialis lebih melihat pada efek maupun akibat yang ditimbulkan dari suatu aksi. Etika konsekuensialis berargumen untuk mengesampingkan kepentingan moral dalam pembentukan keputusan dari seseorang dan bermaksud pada bagaimana baiknya keputusan yang dihasilkan. Disini, sebuah aksi itu setara secara moral tergantung hanya dari hasil aksi itu. Menurut pemikiran konsekuensialis, manfaat bagi banyak orang menjadi hal yang diutamakan.

 

Hal ini menunjukkan bahwa menurut etika konsekuensialis tindakan yang dilakukan oleh Greenwald dan rekannya dianggap benar, karena mereka memberitakan hal tersebut demi kebaikan banyak orang.

 

 

Referensi

Plaisance, Patrick Lee. Media Ethics. USA: Colorado State University, 2014

http://www.theguardian.com/world/series/the-snowden-files

http://www.kompasiana.com/puri_areta/citizenfour-keberanian-snowden-laura-dan-glenn-ungkap-nsa-files_54f89601a33311b80b8b4613

http://www.ciso.co.id/2013/08/pemerintah-inggris-menahan-jurnalis-the-guardian-dan-hancurkan-data-snowden/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *