Celoteh, Celoteh Pemikiran, Celoteh Pengalaman, Kerja, Random Thoughts

Anak Kota Lebih Techie Dibanding Wong Ndeso?

Saya sedang lelah sekali menghadapi manusia-manusia yang menganggap warga desa itu kampungan atau ga melek teknologi. Ayo ngaku, pasti banyak kan di antara kalian yang berpikir wong ndeso itu ndak tau cara main instagram! Atau mikir mereka ndak tau cara bikin situs. Well, you got it all wrong, Beybih!

Saya pernah bekerja di Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI). Tidak tahu itu apa? Intinya, itu adalah lembaga yang mengelola seluruh alamat situs berakhiran .id, seperti .co.id, .desa.id, .go.id, .ac.id, .id, dst.

Saat bekerja di sana, saya sering bertemu, bertegur sapa, diskusi, dan belajar bersama orang-orang Desa. Mulanya saya pikir, “Orang desa tahu apa sih tentang internet?” itu bahasa kasarnya sih. Saya tidak berpikir seperti itu, kok. #ngeles

Kelompok desa pertama yang membuat saya kagum adalah kawan-kawan dari Banyumas. Mereka, wong ndeso iku, adalah orang-orang yang memberikan masukan agar desa memiliki domain sendiri yakni .desa.id sebagai bentuk perlawanan semangat masyarakat desa untuk menyebarluaskan informasi mengenai kampungnya dalam bentuk digital.

Ngapain sih rempong amat bikin domain sendiri?

Karena berkat Permenkominfo no. 28 tahun 2006 desa tidak diakui sebagai bagian dari Pemerintahan Republik Indonesia. Hal ini membuat desa tidak dapat menggunakan domain “.go.id”. Jadi mereka memberontak  bersatu, membentuk sebuah gerakan bernama Gerakan Desa Membangun. Setahun setelah berdirinya GDM, mereka menggagas agar desa memiliki domain sendiri. Idealis banget, yo.

Mereka pula yang sering membantu desa-desa di berbagai pelosok Indonesia untuk membuat situs yang informatif. Jangan salah, situs desa sekarang bagus-bagus, lho! Coba deh cek dermaji.desa.id, wlaharwetan.desa.id, kanekes.desa.id, cikadu.desa.id, dan melung.desa.id.

Sumber: wlaharwetan.desa.id

Selain desainnya bagus, banyak dari mereka melakukan transparansi anggaran dengan menampilkan laporan di situs atau media sosial desanya.

Sumber: dermaji.desa.id

Hal lain yang membuat saya bangga akan kawan-kawan desa adalah mereka mandiri.

Baik perangkat desa maupun warganya. Tidak berkeluh kesah. Sadar bahwa untuk memajukan desa perlu kerjasama, gotong royong seluruh warga.

Ambil contoh Desa Cikadu. Lokasinya super sulit dijangkau padahal letaknya di Jawa Barat, tak jauh dari Jakarta. Di sana bahkan tidak ada sinyal untuk menerima SMS ataupun telepon *cry* #pengalaman. Minimarket terdekat jaraknya 18 km turun gunung, naik motor, melewati hutan, jalannya naudzubillah jelek banget. Mobil sekelas Avanza bakal mendelep bannya. Dan listrik cuma available sampai sore hari! Tapi warga Cikadu mampu membuat media sosial, situs, dan merchandise lho untuk desanya! Anak-anak mudanya pula yang membantu pekerja desa untuk memahami cara desain situs, cara membuat konten di media sosial, dsb. Bahkan anak-anak muda itu memanggil para ahli untuk mengedukasi perangkat desa dan warganya. Coba, kamu yang tinggal di Kota pernah berbuat apa untuk kelurahanmu?

Salah satu merchandise Cikadu.

Sumber: instagram @desacikadu

Desa Dermaji bahkan punya museum sendiri. Swadaya. Kita bisa lihat video isi museum tersebut melalui pranala di situs Dermaji. Meskipun sederhana, tapi semangat dan ide untuk melestarikan peninggalan yang terdapat di kampungnya itu amat cemerlang dan patut ditiru kampung lain. Karena banyak desa di Indonesia yang sebenarnya merupakan kawasan bersejarah, namun akibat kurangnya kepedulian maupun ilmu untuk melestarikan kawasan tersebut alhasil peninggalan-peninggalan berharganya hilang. Seperti mantan. Uhuk.

Kemudian saya pernah dibuat kagum ketika bertemu warga desa yang membuat penguat sinyal dari wajan. Cari saja “wajan bolic” di Google.

Kalian anak kota pasti tidak kebayang kan seperti apa alatnya HAHAHA *evil laugh* #ngetawaindirisendiri. Dulu sebelum bertemu wong-wong ndeso iku, saya yang anak kota ini tidak tahu kalau wajan bisa jadi penguat sinyal.

Jadi coba renungkan lagi. Yakin anak kota lebih melek teknologi dibanding anak desa?

You may also like...

8 Comments

  1. Uchh.. yang udah pernah #KACIKADU hatam banget juwetnya, yang indah-nya sambangi juga dong, mumpung jalannya masih jelek. hahaa

    1. svaradiva says:

      Itu kan aku cerita juga hal-hal baik dan luar biasa dari masyarakat CIkadu :)) aku masih ga percaya ada jalanan “kayak gitu” di Jawa Barat.

      Tapi aku ga kebayang perjuanganmu kalau harus ke ATM atau kirim merchandise. Kamu “turun gunung” kan berarti?

      1. Desa Cikadu pusat kecamatannya, diluar desa ini lebih keren untuk menikmati suasana desa, yang bernar-benar desa gitu hehe…. kalau mau ke wilayah kecamatannya pakai kendaraan mobil desa terluar harus melewati kecamatan lainnya, masuk dr arah selatan…

        Kirim merchandise kemarin dr Bandung, lumayanlah tetanggaan meskipun jalannya tahu sendiri
        😀

        1. svaradiva says:

          “Tetangga” itu jaraknya deket ya… ga harus lewat hutan sepanjang 18 KM dengan motor (ga bisa mobil) hahaha.

          Kabarin kalau jalannya udah bagus, biar sekalian main ke desa-desa sekitar.

  2. Jangan lupa nonton film Asadessa di dokumenter.ictwatch.id untuk melihat bagaimana desa berdaya dengan teknologi #numpangiklan 😋

    1. svaradiva says:

      aku sampai sekarang belum nonton filmnya :”) #mengakubersalah

  3. Terimakasih Kak atas apresiasinya 😄😆

    1. svaradiva says:

      Sama-sama.
      Sukses selalu untuk Pemdes Wlahar Wetan. Terus berinovasi dan berkarya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *